• Desainer Muda Tanah Air di Global Talents Digital 2020 Rusia

    Fashion / News


    Desainer Muda Tanah Air di Global Talents Digital 2020 Rusia

    Bernaung dibawah Indonesia Fashion Chamber, kelima desainer muda ini akan berpartisipasi di Global Talents Digital 2020.


    Global Talents Digital 2020 yang kerap melibatkan talenta-talenta tersembunyi di berbagai belahan dunia telah memilih 5 perwakilan mereka dari Indonesia.

    Dengan mengusung konsep mode beretika dan mode berkelanjutan demi industri mode tidak lagi menjadi penyumbang limbah terbesar dan ramah untuk lingkungan hidup, ada 5 desainer muda Indonesia yang tergabung di Indonesian Fashion Chamber (IFC) yang mengupayakan metode produksi dan desain yang ramah lingkungan turut serta di tahun ini. Beberapa desainer Indonesia terpilih tersebut adalah Anggiasari, Rosie Rahmadi, Emmy Thee, Gregorius Vici, dan Aldre Indrayana.

    Kelima desainer muda tersebut akan menampilkan koleksi milik mereka di event yang diinisiasikan oleh Russian Fashion Council dan Mercedes Benz Fashion Week Russia dalam format digital. Dilaksanakan pada tanggal 4 hingga 6 September 2020, seluruh koleksi yang akan dipamerkan setidaknya mengusung metode upcycling, recycling, mode beretika, slow fashion, hingga transparansi produksi tanpa menimbulkan sampah limbah mode.




    "Kata sustainability adalah kosakata yang semakin melekat dan sering digunakan oleh banyak label mode dan perusahaan di bidang mode. Bagaimana pun, proses mode berkelanjutan masih belum terlalu jelas diketahui oleh banyak orang. Tujuan dengan adanya Global Talents Digital di bulan September ini agar para pemain di industri mode dan para tamu dapat mengenal desainer sustainable baru sekaligus menambah pengetahuan mereka tentang ilmu dasar metode mode berkelanjutan yang dapat menyelamatkan planet kita," ujar, Alexander Shumsky, Direktur Russian Fashion Council dan Mercedes Benz Fashion Week Rusia.

    Selain digelar secara virtual, acara ini juga akan menerapkan fitur interaktif yakni 'see now, buy now' yang akan mengizinkan para audiens dapat langsung mengunjungi setiap website desainer yang terlibat dan membeli produk-produk rancangan mereka.

    Mari ketahui karya kelima desainer terpilih serta kisah dibalik koleksi yang mereka dedikasikan untuk Global Talents Digital 2020 di bawah ini.


    1. Anggiasari - AM

    Label AM adalah label yang berfokus di busana modest dengan Anggiasari sebagai desainer dibaliknya, lewat label ini sang desainer mengusung konsep daur ulang menggunakan material denim yang ditolak atau bagian dari bahan overstock untuk kemudian diolah menjadi sebuah koleksi. Untuk kesempatan ini, Anggiasari mengadopsi tema Valiance dengan mengupayakan siluet dekonstruksi, sporty, dan androgini untuk wanita maupun pria. Infusi wastra nusantara juga turut diikutsertakan menggunakan kain tenun tradisional. 


    2. Emmy Thee

    Desainer Emmy Thee mengusung konsep 'Changes' yang berarti perubahan untuk kemudian ia terjemahkan dengan menggunakan 1 potongan kain berbentuk persegi yang dapat ditransformasikan menjadi 3 look sekaligus. Ia juga menggunakan bahan dari kain wastra untuk mendukung konsep mode berkelanjutan dengan mendukung peran para pengrajin kain lokal. Metode pewarnaan alam serta mendaur ulang sampah dari mekanisme produksi juga digarapnya demi menjaga bumi dan menjadi penghuni bumi yang penuh tanggung jawab.



    3. Aldrie Indrayana

    Berkolaborasi dengan Cota Cota Studio, desainer Aldrie Indrayana mengadopsi inspirasi dari minimnya privasi yang disebabkan oleh pertumbuhan media sosial. Ia kemudian mengupayakan metode upcycling dengan memperbaharui koleksi lampaunya dan menggabungkannya dengan tekstil yang tidak terpakai menjadi sebuah koleksi yang baru. Unsur Indonesia ia kemukakan di koleksi ini dengan jaket yang terinspirasi dari model Beskap khas Jawa serta tempelan motif batik diatas aksesori neckerchief yang dibuat menggunakan stamp Batik yang terbuat dari kotak sepatu bekas.


    4. Gregorius Vici

    Dinamakan Alluring Heritage, desainer Gregorius Vici menggunakan metode pengolahan limbah batik untuk kemudian diperbaharui menjadi sebuah busana yang baru dengan modifikasi teknik draping, tumpuk, dan patchwork. Ia kemudian mendapatkan kain perca batik atau limbah batik tersebut dari para keluarga pengayuh becak yang memiliki mata pencaharian tambahan dengan menjual limbah batik ke tengkulak untuk dijual kembali di pasar tradisional. Sehingga, koleksi ini tak hanya ramah lingkungan namun dapat membantu keberlangsungan hidup dan memutar roda ekonomi para keluarga pengayuh becak. Teknik jahitan bordir dan handmade beserta spektrum warna membumi menjadi narasi utama koleksi Changes di label Gregorius Vici.


    5. Rosie Rahmadi

    Label Rosie Rahmadi adalah label yang berpusat di koleksi busana modestwear yang saat ini semakin berkembang pesat dikarenakan pengguna modestwear bukan hanya para wanita dengan hijab namun banyak wanita yang mengenakannya untuk tampilan yang lebih sopan. Dikarenakan modestwear tentu membutuhkan kain lebih banyak demi dapat membalut setiap inci tubuh para penggunanya, ia pun berinisiatif menciptakan busana multifungi untuk menekan keinginan wanita untuk berbuat konsumtif. Sehingga, para pengguna tidak mudah bosan dan dapat mempertahankan pakaian mereka. Untuk kesempatan ini, Rosie mengusung tajuk Kalopsia dan menggunakan spektrum warna tanah. Ia kemudian merancang setiap look agar dapat dikenakan dalam beberapa cara sekaligus.


    (Foto: Courtesy of Indonesian Fashion Chamber)









- RELATED ARTICLE -