• Cerita Seni di Agenda House of the Unsilenced

    Culture / News


    Cerita Seni di Agenda House of the Unsilenced

    Sebuah acara digelar untuk memberikan ruang bicara bagi para penyintas kekerasan seksual, seni dan tulisan menjadi cara untuk berekspresi.


    Masalah kekerasan seksual terhadap wanita adalah sebuah isu nyata yang harus kita hadapi, bukan malah menyembunyikannya dan menganggap itu aib.

    Sudah semestinya masyarakat peduli dan merangkul para penyintas kekerasan, sebab mereka adalah korban.

    Namun, realitanya masih banyak penyintas yang didominasi wanita ini malah bungkam, tanpa tahu bagaimana harus mengekspresikannya atau bercerita.

    Sikap diam ini juga merupakan dampak dari kurangnya kesadaran masyarakat yang justru memberi stigma dan sanksi kepada korban, alih-alih melindunginya.

    Tanggap akan kebutuhan bercerita dan memberikan ruang untuk berekspresi atas kejadian yang menimpa para penyintas, InterSastra bersama Koalisi Seni Indonesia menggelar acara bertajuk House of the Unsilenced (Rumah Kami yang Tidak Bungkam).

    Agenda ini telah berlangsung pada 15 Agustus hingga 2 September lalu di Galeri Cemara 6. Di tempat ini, seni dan sastra menjadi medium untuk mengungkapkan emosi.




    Beberapa seniman dan penulis bekerja sama dengan para penyintas untuk menghasilkan karya-karya baru seputar tema apa artinya angkat bicara dan seperti apa kehidupan penyintas di masyarakat kita.

    “Kami membayangkan sebuah ruang yang aman dan dukungan yang kuat bagi mereka yang ingin angkat bicara, tempat di mana kawan-kawan penyintas dapat mengeksplorasi macam-macam kemungkinan untuk bercerita dan mengekspresikan diri,” ungkap Eliza Vitri Handayani, penggagas dan pengarah acara ini.




    Banyak aktivitas menarik yang disajikan dalam agenda ini, misalnya lokakarya berupa menulis catatan harian bersama Margaret Agusta, kolase 3D bersama Kiswinar, self-care body movements bersama Ningrum Syaukat, atau juga menulis lirik lagu rap bersama Yacko. Selain itu juga terdapat diskusi menarik, seperti Pandangan Islam tentang Kekerasan Seksual dan Kenali Kekerasan dalam Pacaran, bersama Hollaback! Jakarta.



    Melalui agenda ini, muncul sebuah harapan agar publik ‘berani’ untuk tidak menutup mata atas kekerasan seksual yang terjadi di masyarakat, dan harapan agar dapat mengembalikan spirit para penyintas, mengubah derita menjadi karya, dan yang terpenting adalah pemahaman atas makna bertahan hidup yang selalu menjadi sisi terbaik milik manusia.


    (Foto: Courtesy of House of the Unsilenced)








- RELATED ARTICLE -