• Alasan Meningkatnya Jumlah Pengangkatan Implan Payudara

    Culture / News


    Alasan Meningkatnya Jumlah Pengangkatan Implan Payudara

    Penyakit implan payudara menjadi penyebab utama para wanita memutuskan untuk menjalani prosedur ini.


    Masih nyata di bayangnya bulan Juni tahun 2016, saat itu sesuatu yang aneh tiba-tiba dirasakan pada payudara kiri Laura Miranda, ia menyadari bentuknya telah berubah. Dua hari sebelum ia menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres, ia menjalani mamogram pertamanya. Sejarah kanker payudara ada dalam darah keluarganya, jadi ia sangat waspada dan pergi untuk melaksanakan tes yang diperlukan. Sekarang, payudara kirinya tampak mengempis, seperti yang ia gambarkan. 


    Ia melakukan prosedur implan pada usia 22 tahun untuk memenuhi cita-cita estetikanya yang tinggi pada saat itu. Prosedur implan payudara awalnya ditawarkan kepada Laura sebagai hadiah dari pusat kebugaran tempat bekerja di awal kariernya sebagai pelatih. Merupakan sebuah kebetulan, pusat kebugaran tempat ia bekerja memiliki kerjasama dengan rumah sakit operasi plastik, dan ia diminta menjadi semacam iklan berjalan untuk mereka.




     

    Ia menduga tekanan dari mesin x-ray adalah menyebabkan kebocoran di salah satu implannya. Sebelumnya ia membaca bahwa prosedur mamogram harus ditangani dengan ekstra hati-hati saat Anda memiliki implan. “Saya pikir, itu menyebalkan, tapi saya berpikir lagi, kedua implan saya sudah berusia 16 tahun,” kata Laura, yang juga sekarang menjadi dokter terapi fisik di New York.


    Ia bisa saja menghadapi sedikit asimetri di bagian dadanya. Namun yang tak tertahankan adalah gejala yang akan datang.


    “Tidak ada yang percaya pada gejala saya. Para spesialis memberi tahu saya bahwa itu semua hanya ada di kepala saya saja."

     

    Laura kemudian mulai mengalami kelelahan dan nyeri tubuh selama berhari-hari dalam beberapa minggu kemudian. “Saya sedang meluncurkan proyek bisnis baru dan bekerja dalam rentang waktu yang sangat panjang dan gila, jadi saya tidak terlalu menghiraukannya dan menghubungkan gejala tersebut dengan implan saya,” katanya. Dan saya juga tidak berpikir untuk datang mengunjungi dokter.


    Tapi bukan semakin membaik, justru ia terus merasa semakin buruk. Akhirnya, ia terbaring di tempat tidur setiap beberapa hari. “Di tahun 2017, saya mengidap kabut otak yang intens dan penurunan kognitif, menulis dan berkonsentrasi untuk pekerjaan saya adalah sesuatu yang hampir tidak mungkin, saya harus tidur siang di antara setiap klien yang saya latih, dan penglihatan saya juga semakin memburuk,” kata Laura. "Saya sangat lelah sehingga tidak bisa berolahraga, jadi berat badan saya bertambah dan kesehatan mental saya berada di masa yang sangat buruk."


    Ia pun kemudian memutuskan untuk mengunjungi dokter umum, kemudian ke ahli jantung, ahli endokrinologi, dan praktisi kesehatan holistik. Diidentifikasi, ia menderita tekanan darah tinggi, tetapi selain itu, semua tesnya kembali dengan hasil yang normal. Kira-kira pada waktu yang sama, saudara perempuannya mengiriminya unggahan media sosial dari seorang model yang berbicara tentang bagaimana implan payudaranya telah membuatnya sakit. "Saya tahu jauh di lubuk hati bahwa ini mungkin yang juga terjadi dengan saya," ungkap Laura.


    Mengandalkan search engine Google yang membawanya saya ke sebuah grup di Facebook bernama Breast Implant Illness and Healing oleh Nicole, sebuah laman yang diinisiasikan pada tahun 2016 oleh Nicole Daruda, yang juga telah melakukan prosedur pengangkatan implan melalui pembedahan pada tahun 2013 setelah menderita selama bertahun-tahun dari gejala yang serupa yang dialami oleh Laura, yang ia yakini terkait dengan implan di dadanya. Prosedur ini dikenal sebagai eksplantasi, atau operasi eksplan, dan melibatkan pengangkatan implan serta kapsul jaringan parut yang mengelilinginya.


    “Saya tidak pernah mendengar tentang penyakit implan payudara, dan tidak ada dokter yang pernah menyebutkan dan menjelaskannya kepada saya,” kata Laura. "Tapi melihat semua wanita dengan gejala yang sama, yang juga memiliki implan, membuat saya menyadari ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi di sini."


    Ia kemudian segera ingin mengangkat miliknya juga. "Ini sudah tidak benar dan masuk akal untuk tetap mempertahankannya."


    Laura adalah salah satu dari kelompok wanita yang memutuskan untuk mengangkat implannya karena ia yakin itu telah membuatnya sakit.


    Setiap tahunnya, kira-kira ada 400,000 wanita yang memutuskan untuk mendapatkan implan payudara dengan lebih dari 100,000 wanita lainnya yang akhirnya memutuskan untuk melakukan rekonstruksi dengan operasi seperti mastektomi untuk kanker payudara. Selain itu ada 300,000 wanita lainnya yang melakukan ini untuk tujuan kosmetik / mempercantik penampilannya. Perlu dicatat bahwa "lebih dari 90 persen wanita tersebut senang dengan hasil yang didapatkan dan tidak mengalami masalah kesehatan," kata Alan Matarasso, MD, ahli bedah plastik, profesor klinis bedah di Universitas Hofstra / Sekolah Kedokteran Northwell, dan mantan presiden American Society of Plastic Surgeons (ASPS).


    Namun, operasi augmentasi, yang telah menjadi prosedur bedah kosmetik nomor satu di Amerika Serikat  sejak tahun 2006, mengalami penurunan sebanyak 14,9 persen dari tahun 2018 hingga tahun 2019, menurut statistik tahunan dari The Aesthetic Society. Di sisi lain, operasi eksplanasi meningkat 34,4 persen di tahun yang sama.


    Statistik ini kemungkinan besar merupakan hasil dari kekhawatiran yang berkembang tentang efek implan terhadap kesehatan wanita, tetapi kondisi tersebut masih belum diakui secara resmi oleh komunitas medis atau Food and Drug Administration (FDA) AS. Faktanya, sebagian besar informasi tentang penyakit implan payudara (atau BII) disebarkan melalui grup media sosial: Halaman Facebook Daruda saja memiliki lebih dari 120,500 anggota, dan @breast_implant_illness di Instagram memiliki 66,6 ribu pengikut.


    "Lebih dari 90 persen wanita dengan implan payudara puas dengan hasil yang didapat dan tidak mengalami masalah kesehatan."


    Masalahnya, BII bukanlah hal yang benar-benar baru, hanya baru saja menarik perhatian publik dalam beberapa waktu belakangan ini. "Banyak wanita telah mengeluh mengenai masalah dengan implan mereka sejak tahun '90-an — tetapi media sosial telah memungkinkan mereka untuk terhubung dengan wanita-wanita lain dan memperkuat suara serta kekhawatiran mereka," kata Diana Zuckerman, PhD, presiden Pusat Penelitian Kesehatan Nasional, Dana Pencegahan dan Perawatan Kanker .


    Jade Root, seorang mayor Angkatan Darat dan artis kebugaran, juga mengetahui bahwa ia menderita BII berkat komunitas media sosial BII. Ia menjalani prosedur implan atas rekomendasi dari pelatih kebugarannya tujuh tahun lalu untuk membuat tubuhnya tampak lebih proporsional dan meningkatkan peluangnya untuk sukses di atas panggung. Ia kemudian perlahan mulai melihat gejala klasik yang sering dikaitkan dengan BII. “Saya menghubungkannya dengan peran saya sebagai ibu dan pekerjaan saya. Saya adalah pribadi yang banyak beraktivitas,” jelas Jade.


    Tetapi selama masa jeda dari kompetisi bikini, gejalanya mulai semakin terlihat. "Saya tidak dapat mengingat istilah dasar yang perlu saya gunakan di tempat kerja setiap hari, saya tidak dapat menyelesaikan perjalanan ke kantor tanpa hampir tertidur, bahkan setelah tidur tujuh jam di malam sebelumnya." Dokter meresepkan dua obat untuk nyeri sendi dan mati rasa dan satu untuk tidur, dan mereka menghubungkan kehilangan ingatannya dengan kecemasan, sehingga ia diresepkan obat-obat seperti Xanax. “Rasanya seperti saya memaksakan diri untuk melewati setiap hari. Saya tidak bisa hidup seperti itu. "


    Jade membagikan kisahnya di Instagram, di mana seorang temannya yang juga memiliki pengalaman sendiri dengan BII, mengulurkan tangannya dan menyarankan agar ia mempelajari dan melihat fenomena BII lebih jauh. “Ia mengirimi saya daftar gejala BII dan saya memiliki hampir setiap gejalanya. Saya mulai menangis karena akhirnya ini semua masuk akal,” katanya. “Tidak perlu pikir panjang lagi, akhirnya saya menjalani operasi eksplan yang dijadwalkan tiga minggu kemudian. "


    Alasan mengapa ada begitu banyak wanita menggunakan komunitas online ini untuk mendiagnosis diri sendiri adalah karena banyak dokter mengatakan bahwa penelitian penyakit implan payudara (BII) masih terlalu awal untuk memastikan validitasnya.


    Untuk lebih jelasnya, BII adalah istilah yang digunakan oleh pasien dan beberapa dokumen untuk menggambarkan pola gejala yang mereka curigai disebabkan oleh implan mereka. Gejala umum bervariasi, tetapi ini adalah gejala yang muncul cukup umum, antara lain: mati rasa dan kesemutan di bagian ekstremitas, nyeri sendi, otot, rambut rontok, kehilangan memori, masalah kognitif, mata kering, penglihatan kabur, kelelahan kronis, nyeri payudara, ruam, gatal-gatal, sensitivitas / intoleransi makanan, gejala seperti flu, demam ringan, dan kesulitan bernapas.


    Sayangnya, BII "bukanlah penyakit yang dapat kami uji," kata Dr. Alan. Menentukan apakah seseorang mengidap BII lebih merupakan proses eliminasi kemungkinan penyebab lainnya. "Ini adalah kumpulan gejala yang berpotensi dapat dikaitkan dengan banyak kondisi lain selain BII, "jelasnya." Dan kami tahu bahwa implan payudara adalah salah satu perangkat medis yang paling umum dan dipelajari secara menyeluruh di pasaran, dan sekali lagi, sebagian besar orang yang memilikinya senang dengan hasil implan mereka dan tidak menemukan adanya masalah kesehatan."


    Para ahli sejujurnya tidak tahu mengapa ada beberapa keompok wanita yang akhirnya mengidap masalah kesehatan misterius ini dan dengan kelompok wanita lainnya tidak, "tetapi gejala ini juga dapat terjadi pada pasien dengan penyakit autoimun," kata Dr. Alan. Pada dasarnya, tampaknya sistem kekebalan wanita dengan BII menyebabkan tubuh mereka menolak implan. Apakah bocor atau tidak, tampaknya silikon di implan tersebut menyebabkan reaksi yang merugikan, yang membuat beberapa peneliti berspekulasi bahwa implan mungkin adalah sesuatu yang tidak baik bagi wanita yang sudah memiliki kondisi autoimun atau riwayat penyakit turunan keluarga. Gejala cenderung memburuk seiring berjalannya waktu, meskipun tidak ada yang tahu kapan akan muncul, beberapa wanita melaporkan mereka merasakannya segera setelah operasi, sementara yang lain tidak mengalami apa-apa selama bertahun-tahun setelah operasi.


    "Jika saya mengetahui risikonya sebelum mendapatkan implan, saya seratus persen tidak akan melakukannya."


    Namun, penelitian terbaru menunjukkan fakta bahwa ratusan ribu wanita tidak benar-benar mengada-ada. Sebuah penelitian yang diterbitkan bulan lalu di The Annals Of Plastic Surgery yang diikuti oleh 750 wanita yang menjalani operasi eksplan pada tahun 2017 dan tahun 2018, melacak gejala BII yang paling sering dilaporkan sebelum eksplantasi, kemudian dari 1 hingga 1,000 hari pasca operasi. Studi ini menunjukkan adanya perbaikan yang signifikan pada 11 gejala segera setelah operasi eksplan, dan ini  bertahan dalam jangka panjang. Hasil tersebut menggemakan temuan dari beberapa penelitian yang lebih kecil yang menunjukkan pasien yang menderita penyakit jenis ini membaik setelah implannya diangkat.


    Ada juga limfoma sel besar anaplastik terkait implan payudara (BIA-ALCL), sejenis limfoma yang berkembang di kapsul jaringan parut dan cairan yang mengelilingi implan payudara di dada. Tetapi para ahli tidak menganggap kanker ini berhubungan dengan BII, dan keberadaan ALCL tidak diperdebatkan di komunitas medis, meskipun jarang. Faktanya, FDA mengeluarkan penarikan kembali jenis implan payudara bertekstur tertentu pada Juli 2019 karena dikaitkan dengan peningkatan risiko terhadap jenis kanker ini, tetapi banyak wanita masih tidak menyadari penyakit ini.



    Terlepas dari semua temuan seputar implan dan potensi risiko kesehatan yang mungkin akan diderita, mereka yang mengira mereka mengidap BII sering berpindah-pindah ke beberapa dokter lain sebelum gejalanya dianggap serius.


    Korban psikologis yang berat itu adalah sesuatu yang nyata, kata Laura. “Tidak ada yang akan percaya pada saya. Para ahli mengatakan bahwa itu semua hanya ada di kepala saya saja, atau ini adalah gejala depresi,” kenangnya. “Saya akhirnya berhenti pergi ke dokter karena mereka tidak mau mendengarkan saya. Saya mencapai titik di mana saya memiliki pikiran untuk bunuh diri… sungguh bukanlah sesuatu yang baik untuk diberitahu berulang kali bahwa saya baik-baik saja padahal kenyataan yang dirasakan berbanding terbalik. ”


    Syukurlah, Laura menemukan halaman Facebook BII, dan setelah melakukan penelitian sendiri, ia menemukan seorang ahli bedah yang mau mengangkat implannya pada November 2018. “Kedengarannya gila, tetapi kabut mental, masalah penglihatan, dan rasa sakit segera hilang. Rasanya seperti keluar dari flu yang tak kunjung sembuh, ”katanya.


    Chelsea Harrison, seorang instruktur yoga dan mantan kontes bikini, juga harus melakukan hal yang sama. Ia melakukan proseudr implan payudara ketika ia berusia 23 tahun. “Dalam salah satu kompetisi bikini pertama saya, saya menempati posisi ketiga, dan wanita di posisi pertama dan kedua sama-sama memiliki implan. Saya sangat sadar akan hal itu,” katanya. Beberapa tahun kemudian, ia mulai melihat ruam, kelelahan, dan kecemasan, tetapi tidak mengaitkan masalah tersebut dengan implannya.


    Akhirnya, ia mengalami masalah dengan apa yang disebut kontraktur kapsuler, yaitu jaringan parut di sekitar implan mengeras dan dapat menyebabkan rasa sakit. “Ahli bedah pertama yang saya kunjungi memberi tahu saya bahwa saya pasti 'tidak ingin mencabut implan saya dari sudut pandang estetika,” kenang Chelsea. Sangat sulit menemukan ahli bedah yang mau melakukan eksplantasi, kata Diana, karena dokter takut pasien tidak akan senang dengan hasil akhirnya. Dan tentu saja, ada risiko dengan operasi apa pun.


    “Saya menyukai penampilan saya sekarang lebih dari ketika saya memiliki implan. Tapi saya harus melalui perjalanan penerimaan diri panjang dan tentunya tidak mudah untuk sampai akhirnya bisa berada di tempat saya sekarang."


    Jadi, Chelsea harus menyelam lebih dalam untuk menemukan dokter yang tepat, dan dalam prosesnya, belajar tentang BII. Ia bahkan lebih termotivasi untuk melepaskan implannya, dan menemukan seorang ahli bedah yang tidak lagi memasang implan, dan berspesialisasi dalam operasi eksplan. “Saya merasa seolah-olah peradangan di tubuh saya terangkat, sudut mata saya tidak lagi menguning, saya merasa seperti saya dapat kembali mengambil napas penuh lagi, saya memiliki energi yang berlimpah. Dan saya menyukai penampilan saya sekarang bahkan lebih dari ketika saya memiliki implan,” kata Chelsea. "Tapi saya harus melalui perjalanan penerimaan diri yang panjang dan tentunya tidak mudah untuk sampai akhirnya bisa berada di tempat saya sekarang."


    Jade juga senang dengan hasil visual dari penjelasannya. “Yang ada, saya sekarang lebih percaya diri karena saya merasa jauh lebih baik. Saya hidup dalam kabut sebelumnya,” katanya. "Jika saya mengetahui risikonya sebelum mendapatkan implan, saya 100 persen akan mengatakan tidak."


    Sebuah komite dokter, peneliti, dan pendukung pasien mencoba untuk memastikan bahwa wanita " benar-benar" mengetahui risiko di masa depan.


    Pada musim panas 2019, Kelompok Kerja Implan Payudara (yang mencakup Dr. Alan dan Diana) mengajukan panduan peringatan yang diusulkan kepada situs web produsen implan (seperti yang mungkin Anda temukan pada kotak rokok) dan daftar periksa pasien ke FDA untuk pertimbangan. Daftar periksa ini dimaksudkan untuk diberikan kepada pasien yang sedang mempertimbangkan untuk mendapatkan implan yang mencakup informasi terperinci tentang potensi risiko kesehatan yang terkait dengannya.


    “Kami mendengar bahwa pasien tidak mendapatkan informasi ini dari dokter mereka, atau jika mereka mendapatkannya, itu adalah buklet besar setebal 40 hingga 100 halaman yang sulit dibaca dan dipahami,” kata Diana. FDA kemudian merilis peringatan dan daftar periksa yang mereka usulkan sendiri pada Oktober 2019 (Anda dapat menemukannya mulai dari halaman 12 dokumen ini.)


    “Banyak wanita yang mengidap BII takut menjalani operasi eksplan karena mereka takut hal itu akan mengubah cara pandang mereka.”


    Tetapi Diana mengatakan bahwa versi FDA dari peringatan ini menggunakan bahasa yang sulit dipahami. “Para anggota Kelompok Kerja Implan Payudara merasa itu tidak cukup, jadi kami mengirimkan kritik kami bersama dengan petisi dengan lebih dari 80,000 tanda tangan untuk mendukung panduan peringatan dan bahasa daftar periksa kami.” (Ia menambahkan bahwa FDA sedang mengerjakan tanggapan ini ketika Covid-19 terjadi, dan kemudian banyak staf yang mengerjakan perangkat medis ini akhirnya harus beralih fokus pada keamanan tes dan produk Covid.) Diana dan timnya juga berencana untuk segera mengirimkan surat ke FDA, menuntut mereka menangani perlunya peringatan yang tepat untuk implan secepatnya.


    Keraguan untuk mengadopsi bahasa yang yang lebih mudah dipahami seputar BII mungkin karena beberapa penelitian belum mengonfirmasi kaitan nyata antara implan payudara dan BII. Namun, Diana berpendapat, “Banyak dari penelitian ini yang dilakukan sebagai tanggapan atas klaim awal para wanita bahwa implan mereka membuat mereka sakit. Tidak hanya itu saja, biasanya para wanita yang menjalani prosedur implan ini juga didanai oleh perusahaan manufaktur atau ahli bedah plastik," ia berkata. “Operasi plastik sangat menguntungkan namun bisa jadi kurang menguntungkan jika wanita khawatir mereka akan dirugikan. Itu sebabnya bahkan dokter yang percaya pada BII pun takut untuk membicarakannya karena mereka bisa dikucilkan oleh rekan-rekannya. ”


    Tapi dunia telah berubah. ASPS, yang merupakan komunitas ahli bedah plastik terbesar di dunia, telah mendukung daftar periksa pasien Kelompok Kerja Implan Payudara dan kemungkinan besar akan mendukung panduan peringatan dengan beberapa perubahan yang diusulkan, kata Diana. Ia berharap FDA segera mengadopsi peringatan dan daftar periksa secepatnya.


    Sampai perkembangan ini membuahkan hasil, perempuan yang berjuang dengan masalah implan terus menemukan pelipur lara dan dukungan dalam komunitas besar BII.


    Sayangnya, operasi eksplan biasanya tidak ditanggung oleh asuransi, sehingga banyak wanita yang hidup dengan kondisi tersebut sampai mereka dapat menghemat cukup uang untuk membayar biaya 5.000 dolar hingga 8.000 dolar (sekitar 74,500,000 rupiah hingga 90,890,000 rupiah). Selain itu, ini tidak termasuk pengencangan payudara, yang dipilih sebagian besar pasien karena implan telah meregangkan kulit mereka. Bagi banyak wanita, pertimbangan untuk harus menerima tubuh baru juga membuat mereka ragu.


    Dalam kasus Jade, keputusan untuk mencabut implannya adalah sesuatu yang sederhana. “Pada akhirnya, kesehatan saya adalah sesuatu yang harus diutamakan,” katanya. Tapi ia masih gugup tentang bagaimana penampilannya, dan bagaimana ia akan tampil dalam kompetisi bikini, tanpa payudaranya yang lebih besar. “Ini adalah masalah besar di arena binaraga,” katanya. “Wanita yang hidup dengan BII dan takut menjalani operasi eksplan karena mereka takut hal itu akan mengubah cara mereka dilihat di atas panggung.”



    Tapi sekarang, pasca eksplan, gejala Jude perlahan mulai membaik, dan ia tidak lagi perlu mengonsumsi obat yang ia minum sebelumnya. Sebagai seseorang yang sangat lekat dengan dunia kesehatan, ia tidak percaya ia bahkan tidak lagi mendengar "bisikan" mengenai BII ketika ia mendapatkan implan, dan ia berharap lewat pengalamannya ini wanita-wanita lain dapat belajar dari kisahnya. “Saya memiliki seorang putri berusia sembilan tahun, dan saya mengajarkan nilai harga diri melalui pengalaman saya. Mudah-mudahan, ia tidak pernah merasa butuh implan,” katanya.


    “Ini adalah paradoks di dunia kebugaran,” kata Laura. Anda seharusnya menjadi gambaran kesehatan, tetapi tubuh Anda sedang dihancurkan dari dalam. Laura kemudian kembali mengenang - baik di media sosial dan in real life - di masa ketika ia merasa paling sakit. Tetapi setelah penjelasan, ketika ia mulai kembali merasa baik, ia memutuskan untuk terbuka tentang apa yang terjadi padanya di platform sosialnya. Seperti yang terjadi pada banyak orang di komunitas kebugaran dengan audiens, berbagi pengalaman telah membantu orang lain untuk tidak merasa terlalu sendirian dalam perjuangan  mereka.



    Pada akhirnya, apakah BII mendapat pengakuan medis formal atau tidak, intinya adalah bahwa wanita pernah mengalami hal ini — dan mereka pantas untuk dianggap serius. "Ada sekelompok wanita yang harus didengarkan dan dipelajari," kata Dr. Alan. Masih banyak komunitas medis yang tidak tahu tentang BII, apa yang terjadi, dan siapa yang berisiko, katanya, tetapi "gejala ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Mereka melemahkan. Dan untuk orang-orang yang memiliki gejala ini, implan payudara harus menjadi salah satu hal pertama yang dipertimbangkan sebagai penyebabnya."


    Bagi Laura, penjelasan adalah satu-satunya pilihan. Satu setengah bulan setelah operasi, kelelahannya hilang dan ia kembali mengajar kelas kebugaran seperti sebelumnya. Sekarang, ia merasa seperti dirinya yang secara alami dan energik lagi. “Menjadi sangat sakit, tidak bisa menjadi orang yang aktif, termotivasi, dan blak-blakan, telah membuat saya kehilangan semua keinginan untuk hidup. Jika saya telah mendengarkan spesialis yang saya temui dan tidak melakukan apa pun tentang implan saya, saya tahu saya tidak akan berada di sini hari ini."


    (Penulis:Kristin Canning; Artikel ini disadur dari Bazaar UK; Alih bahasa: Janice Mae; Foto: Courtesy of Bazaar UK)











- RELATED ARTICLE -