• Bipolar Disorder: Mengapa Penting untuk Dibicarakan?

    Culture / News


    Bipolar Disorder: Mengapa Penting untuk Dibicarakan?

    Seorang penulis yang mengalami bipolar disorder atau gangguan bipolar berharap masyarakat memahami lebih dalam tentang kondisi ini.


    Dalam satu tahun, gangguan bipolar kerap menjadi berita utama, umumnya ketika ada selebriti atau public figure mengungkapkan diagnosa yang mereka alami. Beberapa tahun ini, bintang besar seperti Mariah Carey, Demi Lovato, Russell Brand, Catherine Zeta-Jones Selena Gomez, dan mendiang Carrie Fisher pernah berbagi pengalaman mereka.

    Beberapa waktu lalu, Kim Kardashian-West menuliskan pesan tentang realita yang ia jalani dengan suaminya, rapper, dan pendiri Yeezy, Kanye West, yang juga mengalami gangguan bipolar. Kim mengunggah pesan tersebut melalui akun Instagram pribadinya.

    Tanggapannya dipicu oleh pernyataan kontroversial Kanye yang mengumumkan pencalonan dirinya sebagai Presiden Amerika Serikat. Hal tersebut merupakan salah satu gejala besar yang disebabkan oleh gangguan yang ia alami sejak didiagnosa pada 2018. Kemudian diikuti dengan perilakunya yang sempat dicurigai sebagai caranya untuk mempromosikan album terbarunya, tetapi berita tersebut ditepis oleh masyarakat yang khawatir akan kondisi yang dialaminya. Lalu, banyak tweet yang ia unggah, sekarang sudah dihapus, membahas tentang keluarganya, termasuk Kim.




    Kemudian, Kim angkat bicara melalui pernyataan yang ia unggah di Instagram Stories pribadinya, meminta masyarakat untuk berempati kepada gangguan bipolar yang dialami sang suami. Dalam unggahannya, Kim juga terdorong untuk memberikan tanggapan terhadap stigma dan miskonsepsi tentang kesehatan mental.


    Dalam beberapa minggu terakhir, banyak penulis seperti saya mengalami kondisi serupa (untuk diketahui saya didiagnosa dengan gangguan bipolar II pada akhir 2017) telah menulis artikel yang membahas tentang hal ini. Pengalaman dan cerita kami hanya bertahan sesaat; lalu tenggelam sampai hari peringatan berikutnya atau ketika tokoh publik lain mengalaminya.

    “Sebanyak 3 juta penduduk di Inggris mengalami gangguan bipolar”

    Kami perlu untuk terus membuka diskusi terkait hal ini sepanjang tahun. Gangguan suasana hati atau mood disorder berdampak kepada banyak orang, tetapi kerap disalahartikan: organisasi bipolar di Inggris melaporkan bahwa sekitar 3 juta orang di Inggris mengalami gangguan bipolar.

    Setidaknya 1 dari 50 orang mengalaminya, dan riset terbaru menemukan bahwa sebanyak 5 persen dari kami berada di dalam spektrum bipolar. Hal ini dapat diartikan dengan seberapa baik Anda mengenal orang yang tinggal bersama Anda? Pada kenyataannya, hidup dengan gangguan mental yang serius setiap harinya bukan sesuatu yang menyenangkan ketika Anda mengabaikan elemen utama dari gangguan tersebut.

    Namun, setelah membaca unggahan Kim yang tulus dalam Instagramnya, terlihat jelas sebuah kenyataan umum tentang hidup dengan gangguan bipolar yang tidak dapat diselesaikan dengan uang. Namun, ada banyak hal yang tidak universal, dan bagaimana ras, gender, usia, status ekonomi, dan seksualitas, serta pengalaman seseorang sangat berbeda satu sama lain.

    Inilah hal-hal yang saya ingin Anda ketahui:

    1. Gangguan bipolar memiliki spektrum yang besar dan setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda-beda

    Jika Anda ingin memahami pesan dari unggahan Kim, pesan ini dapat Anda ambil: “Siapa pun yang mengalami gangguan bipolar atau dialami oleh orang yang dikasihi, ketahuilah bahwa hal ini sulit dan menyakitkan untuk dipahami.” Hal ini memang sulit.

    Saya tidak pernah mendengar tentang gangguan bipolar II sebelum saya mendapatkan diagnosa atau mengenal orang lainnya yang mengalami hal yang sama. Berbagai sumber (Bipolar UK, Mind, dan Rethink adalah semua sumber yang dapat Anda gunakan) akan membagi dalam tiga kategori besar: bipolar I, ketika penderita mengalami maniac (setidaknya mengalami sebuah episode atau situasi yang dapat terjadi lebih dari satu minggu) dan fase-fase depresi (meski tidak selalu terjadi).

    Pada bipolar II, episode yang dialami cenderung tidak ekstrem, Anda akan mengalami hypomania, dengan periode suasana hati positif akan lebih baik dibandingkan penderita bipolar I, tetapi tetap melemahkan. Ketika suasana hati cenderung negatif, dampaknya juga memprihatinkan.

    Selain itu ada cyclothymia, ketika Anda mengalami situasi yang lebih depresif dengan gejala yang lebih halus.

    Lalu, ada kategori lain jika kondisi Anda tidak menunjukkan tanda atau gejala di atas. Bipolar terkadang muncul dengan kondisi mental yang lainnya, seperti gangguan kecemasan (anxiety disorder), gangguan kepribadian (personality disorder), dan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).

    Gender juga dapat berperan: riset menunjukkan bahwa perempuan cenderung lebih depresif dan menunjukkan lebih banyak episode yang tidak menentu dan lebih banyak mengalami gangguan bipolar II. Perempuan cenderung lebih rentan mengalami gangguan ini lebih cepat dibandingkan laki-laki.


    Catherine Zeta- Jones dalam mengelola bipolar II: “Mengetahui apa yang terjadi terhadap saya adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidup saya,” ungkapnya kepada Good Housekeeping. “Fakta bahwa ada nama bagi emosi yang saya alami dan ada tenaga profesional yang dapat membantu saya dalam setiap gejala adalah hal yang melegakan.”

    Penyebab gangguan ini tergabung dalam berbagai macam faktor. Dengan kata lain, kami tidak tahu. Faktor genetik, ketidakseimbangan zat kimia dalam otak, dan faktor lingkungan juga dapat menjadi penyebab. Lalu, gangguan ini tidak ada obatnya. Namun, dapat dikelola.

    Secara umum, pengobatan dilakukan dengan menggabungkan obat medis dan terapi, meskipun tidak berlaku untuk semua orang. Kim, dalam wawancaranya dengan salah satu majalah lifestyle tahun lalu, mengungkapkan bahwa Kanye tidak suka meminum obatnya karena merasa obat-obatan tersebut mengubah siapa dirinya.

    Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda-beda terhadap obat yang sama dan apa yang berfungsi bagi beberapa orang, belum tentu bagi orang lain.

    2. Sulit untuk mengetahui gejala pasti dari gangguan bipolar

    Pada puncak spektrum (kategori mania yang mengkhawatirkan) gejalanya, seperti paranoia, halusinasi, atau mendengar suara-suara lebih mudah untuk diketahui. Dalam maniac tanpa gejala fisik, banyak yang fokus pada gejala seperti penderita terlihat sangat ceria dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi, tidak tidur, menunjukkan perilaku yang cenderung berisiko.

    Sedangkan hypomania¸ gejala semakin sulit diketahui. Beberapa menyebutkan perhatian penderita lebih mudah teralihkan, cenderung lebih banyak bicara, memiliki berbagai ide baru, mengkonsumsi hal secara berlebihan, atau lebih mudah marah. Perilaku-perilaku ini juga saya alami karena hal tersebut adalah karakter diri saya.

    “Umumnya, depresi yang membawa seseorang bertemu dengan dokter, bukan maniac yang dialami. Siapa yang menemui dokter ketika mereka merasa senang?”

    Namun, kini saya dapat mengidentifikasi beberapa perilaku saya yang dipengaruhi oleh hypomania, ketika saya memutuskan untuk pindah ke Australia di tengah episode depresif pada malam pergantian tahun. Selain itu, saya pernah memutuskan untuk keluar dari dunia jurnalistik dan memulai bisnis fashion saya sendiri, tanpa ada pengalaman di dunia retail.

    Pada akhirnya, saya tidak melakukan kedua hal tersebut, tetapi saya gagal untuk memahami permasalahan yang saya alami saat itu karena hal tersebut seolah-olah dapat saya lakukan. Saya hanya melihat apa yang ingin saya lihat.


    Selena Gomez telah membagikan pengalamannya, hidup dengan gangguan bipolar: “Ketika saya ingin mencari tahu lebih banyak informasi, hal tersebut membantu saya. Hal ini tidak lagi membuat saya takut setelah saya mengetahuinya.”

    Pada akhir spektrum adalah depresi. Gejala-gejala tersebut mulai dipahami lebih luas, tidak menikmati hal-hal yang sebelumnya Anda lakukan (seperti tidak berbelanja ke butik lokal kesukaan saya, yang saya rasa membuat saya merasa bersalah, dengan pikiran bahwa saya tidak menggunakannya secara berlebihan), kepercayaan diri yang rendah, insomnia dengan keinginan yang besar untuk tidur.

    Biasanya, kondisi depresi yang mendorong seseorang untuk menemui dokter, bukan maniac yang mereka alami. Siapa yang pergi ke dokter ketika mereka dalam keadaan baik? Khususnya, ketika mereka selalu merasa hal yang mereka alami adalah hal yang normal.

    3. Diagnosa memakan waktu yang lama

    Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk mencari bantuan terkait gangguan mental yang dialami hingga mengetahui diagnosa bipolar yang tepat memakan waktu 9 tahun, dengan kesalahan diagnosa sebanyak hampir 4 kali. Hal ini melelahkan semua orang yang terlibat.

    Selain melelahkan juga membahayakan, gangguan bipolar meningkatkan risiko seseorang untuk melakukan bunuh diri sebanyak 20 kali lipat. Mulai dari menemui dokter dengan depresi di tahun 2013 dan mendapatkan obat antidepresan, hingga mendapatkan diagnosa bipolar II pada Desember 2017, saya mengalami lima periode depresi yang berbahaya, masing-masing terjadi selama dua bulan, dan menarik karet gelang sampai tipis.


    Carrie Fisher didiagnosa dengan gangguan bipolar pada usia 24: “Fase mania yang tidak dapat diprediksi,” ungkap Carrie tentang pengalamannya, menurut USA Today. “Terakhir kali, saya memotong rambut saya, menggambar tato, dan ingin pindah keyakinan menjadi Judaism.”

    Selama mengalami suasana hati yang negatif, saya kembali bertemu dengan psikiater. Setelah diberitahu bahwa saya harus menunggu selama lima minggu untuk melakukan sesi, saya mendapatkan sesi privat dengan seorang psikolog yang hebat dan saya masih melakukan sesi terapi dengannya.


    Selama melakukan sesi dengan keduanya, saya hanya membahas tentang fase rendah yang terjadi. Hasilnya, saya diberikan lebih banyak obat antidepresan. Setelah dua bulan mengalami efek samping dari obat tersebut: mual, insomnia, dan kesempatan, seolah-olah lampu akan kembali menyala dan dunia akan kembali terang.

    Seringkali cerah hanya saya tidak pernah menyadarinya, karena yang saya pedulikan hanya kabut di pikiran saya yang akhirnya terangkat. Memori yang paling berkesan bagi saya, pada hari ketiga Festival Glastonbury 2014. Saya menghadiri festival, ketika saya memasuki depresi yang cukup parah, pikiran yang sangat berat. Kemudian, pada hari ketiga, sesuatu berubah dan lingkungan sekitar saya seolah bersinar.

    Band yang tampil, orang-orang yang hadir, lumpur yang kami injak, makanannya, salah satu peristiwa pertama setelah bergumul dengan depresi selalu terasa menyenangkan. Saya masih mengingat macaroni cheese yang pertama kali saya makan setelah nafsu makan saya kembali normal, membawa kembali makna dari comfort food.

    Diagnosa saya muncul ketika saya mengunjungi psikiater baru (ironisnya, salah satu rekomendasi dari dokter saya). Di dalam ruang penuh bunga yang terbuat dari sutra, rak-rak yang dipenuhi kartu pasiennya, ia menanyakan suasana hati saya saat itu, apa perasaan yang biasa saya rasakan, dan apa yang perbedaan yang saya rasakan.

    Ia juga menanyakan tentang fase-fase mania yang saya alami. Saya ceritakan tentang Australia. Lalu, ia ingin berbicara dengan ibu saya melalui telepon, bertanya kepadanya tentang kondisi saya dalam periode depresi, sosok saya di masa remaja, dan ketika saya berusia 20 tahun. Kemudian, saya mendapatkan diagnosa gangguan bipolar II, dan diberikan obat untuk menjaga mood saya. Saya tetap diminta mengonsumsi obat antidepresan, tanpa perlu membahas efek dari obat tersebut bagi saya.

    “Saya memiliki tempat khusus untuk makaroni keju, makanan yang pertama kali saya makan ketika nafsu makan saya membaik.”

    Dua setengah tahun berjalan, saya merasa seperti diri saya. Ketika obat penstabil mood mulai bekerja dan depresi saya membaik (ditambah dengan bantuan psikiater dan mentor yang luar biasa) saya terdorong untuk meninggalkan pekerjaan saya yang menjadi lingkungan kerja yang tidak sehat dan membuat saya lebih agresif. Berkompetisi dengan sehat, menurut saya, meluruskan batas antara keterbukaan dan perbuatan yang tidak menyenangkan adalah realita saat ini.

    4. Pengobatan gangguan bipolar harus lebih baik

    Pengalaman saya berangkat dari posisi dengan berbagai keberuntungan: saya mendapatkan seluruh pengobatan secara intensif dan privat sejak awal, ketika orang tua saya terus membantu saya. Secara demografis saya – seorang berkulit putih, kelas menengah, lulusan universitas, bekerja. Pembahasan tentang kesehatan mental adalah bagian dari perbincangan sehari-hari (sedikit tentang gangguan mental, tetapi kami mengarah ke arah yang baik).

    Saya paham bahwa pengalaman yang saya alami adalah bagian kecil dan mungkin belum mewakili cerita dari keseluruhan spektrum sehingga sejak tahun lalu, saya mulai belajar. Bagian dari riset saya terkait kondisi ini untuk rangkaian artikel, dengan bantuan Bipolar UK, saya mulai mendengarkan cerita semua orang dari berbagai usia dalam spektrum bipolar ini.

    Saya bertemu dengan para penderita yang menceritakan tentang kesalahan diagnosa yang terus terjadi (depresi klinis menjadi diagnosa yang paling umum), dan dipindahkan dari satu layanan kesehatan ke layanan kesehatan lainnya, serta harus menceritakan ulang pengalaman mereka kepada orang-orang baru untuk mendapatkan layanan yang mereka butuhkan.


    Nina Simone didiagnosa dengan gangguan bipolar di tahun '80-an. Anak perempuannya, Lisa Celester Stroud mengungkapkan: “Kadang saya mencoba menempatkan diri saya di posisinya dan bertanya apa yang lakukan jika saya mengalami apa yang dialaminya. Apakah saya akan bersembunyi di dalam lemari terdekat? Apakah saya akan membeli tiket dan berangkat ke Tibet? Apakah saya akan bunuh diri? Saya tidak tahu, tetapi saya tidak tahu apakah saya memiliki kekuatan sepertinya.”

    Beberapa orang menunggu berbulan-bulan untuk melakukan terapi, untuk menyadari bahwa terapi bicara tidak memenuhi kebutuhan mereka atau dibiarkan beristirahat di tempat tidur untuk menghindari efek samping dari obat-obatan baru.

    Lalu, perilaku yang muncul akibat gejala yang tidak dirawat akan berdampak pada berbagai isu lainnya seperti utang, hubungan yang tidak baik, kekerasan akibat konsumsi obat, dan kehilangan tempat tinggal.

    Hal yang terutama, tentunya, adalah uang: setiap layanan kesehatan kerap tidak mendapatkan dana yang cukup dan terkadang memiliki spesialis yang kurang kompeten di bidangnya. Pedoman National Institute for Health and Care Excellence (NICE) menemukan pertanyaan-pertanyaan kunci untuk mengetahui apakah orang-orang yang mengalami depresi memiliki gangguan bipolar (menanyakan seputar perilaku yang berlebihan atau tidak seperti biasanya) tetapi dalam implementasinya tidak optimal, dari temuan saya, tidak ada yang pernah diberikan pertanyaan tersebut.

    “Orang perlu menemui psikiater dan terapis yang serupa dengan mereka dan memahami intrik dari dunia mereka”

    Namun untuk masuk dan bertemu dokter dapat menjadi hal yang sulit, khususnya di dalam komunitas yang jarang membahasa tentang kesehatan mental atau menerimanya sebagai kondisi medis. Penelitian yang dilakukan Mind menemukan bahwa satu dari empat orang dari kelompok etnis minoritas yang menderita gangguan pada kesehatan mental mereka cenderung menyimpannya sendiri, percaya bahwa mereka tidak memiliki orang-orang yang paham atas apa yang ia alami.

    Tentu, angkanya akan berbeda di setiap komunitas, dengan beberapa komunitas memandang gangguan mental adalah hal yang memalukan bagi komunitas mereka. Langkah awal yang dapat dilakukan adalah dengan menemui psikiater atau terapis yang serupa dengan mereka dan memahami intrik dari dunia mereka.

    Kampanye Black Minds Matter lahir dari gerakan Black Lives Matter dan bertujuan untuk memberikan terapis berkulit hitam kepada mereka yang membutuhkan tanpa dipungut biaya. Menurut data yang dimiliki pemerintah, masyarakat berkulit hitam lebih besar kemungkinannya untuk ditahan oleh Mental Health Act dibandingkan masyarakat berkulit putih, tetapi lebih sedikit yang mendapatkan pengobatan. Selain itu, status ekonomi, usia, serta gender juga menjadi faktor penentu.

    Meski terdapat banyak stigma di berbagai komunitas, hal ini sudah mulai meluas, khususnya di lingkungan kerja. Menurut Bipolar UK, 90 persen orang dengan gangguan bipolar yang melakukan survei telah melaporkan kondisinya kepada atasan mereka, tetapi 24 persen di antaranya menyesal dengan keputusan tersebut.

    Meskipun saya bekerja di perusahaan yang memiliki tim khusus untuk menjaga kesehatan mental para pekerjanya, dan saya memiliki manajer yang perhatian, saya tidak pernah menceritakan tentang diagnosa saya sampai masa percobaan saya telah selesai.

    “Bipolar bukan diri saya, tetapi bagian dari diri saya.”

    Saya mengatakan bahwa saya tidak ingin performa kerja saya dinilai dari perspektif lain, manajer saya pun memastikan hal tersebut tidak akan terjadi. Sebenarnya, hal yang memprihatinkan adalah pergi ke konseling kelompok dan mendengarkan bahwa sebagian dari partisipan kehilangan pekerjaan akibat perilaku yang disebabkan oleh gangguan bipolar mereka.

    Saya belajar bahwa secara hukum, jika saya tidak memberitahu tentang kondisi saya dan saya diperlakukan tidak adil, saya akan kesulitan untuk melaporkan tindak diskriminasi yang saya alami kepada lembaga hukum.

    Dalam aspek lain, saya berusaha untuk membuka diri terhadap diagnosa saya, termasuk dalam menjalin hubungan, saya akan memberitahu kepada mereka dibandingkan menutupinya. Bipolar bukan diri saya, tetapi bagian dari diri saya. Hal tersebut telah membentuk hidup saya dan akan terus berlanjut. Jika saya tidak melawan stigma tersebut, bagaimana saya dapat berharap orang lain juga melakukan hal yang sama?

    Dengan berbagai alasan, saya tidak bisa mengatakan bahwa saya paham akan apa yang dialami Kim dan Kanye, tetapi bagi saya dan Anda yang mengalami gangguan ini atau mendukung orang tersayang dengan gangguan yang sama dapat mengikuti pengalaman Kim dan memahami cerita di balik headline lebih baik.

    (Penulis: Sally Newall; Alih Bahasa: Vanessa Masli; Disadur dari BAZAAR UK; Foto: Courtesy of BAZAAR UK)










- RELATED ARTICLE -