• Menelusuri Karya Sastra Terpanjang Di Dunia: I La Galigo

    Culture / Advertorial


    Menelusuri Karya Sastra Terpanjang Di Dunia: I La Galigo

    Pertunjukan I La Galigo pulang ke tanah kelahiran untuk menyapa warga Indonesia yang belum familier akan eksistensinya.


    Anda bisa jadi belum mengenal apa dan dari mana asal I La Galigo. Mungkin benar apabila epos ini justru lebih dikenal di luar negeri, hingga diakui oleh UNESCO sebagai Memory of The World. Editor Bazaar (Tammy Tjenreng), diajak kembali menelusuri jejak rekaman peninggalan leluhurnya melalui pertunjukan I La Galigo yang diadaptasi dari surek I La Galigo di Ciputra Artpreneur silam. Simak ulasannya berikut ini.



    1. Kelahiran I La Galigo


    I La Galigo merupakan karya sastra yang berasal dari Sulawesi Selatan. Karya sastra ini berupa surek yang terdiri dari 6.000 halaman dan 300.000 baris teks. I La Galigo menceritakan sebuah kisah sejarah manusia yang akan mengingatkan Anda sedikit tentang kisah Adam dan Hawa. Pada masa awal kelahiran I La Galigo, surek ini dipercaya oleh leluhur sebagai pedoman hidup. Namun, tidak semua masyarakat Bugis memercayainya, apalagi mampu mempelajarinya. I La Galigo bertuliskan huruf sansekerta Bugis kuno yang konon hanya dipahami oleh tak lebih dari 100 orang suku Bugis.

    Menurut Dosen Sastra Bugis dan Ketua Manasa Sulawesi Selatan-Barat, Dr. Muhlis Hadrawi, S.S., M. Hum, "Ada satu bagian di sastra I La Galigo yang disebut Niumpalo Karola, merupakan pertanda bahwa ada satu kehidupan pertanian yang dibina oleh masyarakat Bugis pada masa lampau dan dalam pengolahannya masih terkait dengan sistem kepercayaan. Seperti cara memperlakukan padi, yang mana terkait pula dengan cara beretika dan berperilaku masyarakat dalam kehidupan sosial."


    2. Peninggalan Leluhur


    I La Galigo ditulis pada abad ke 18 dan 20 yang hingga sekarang masih dianggap nilai sakralnya karena tidak boleh dibaca sebelum melakukan ritual seperti menyembelih sapi atau kambing. Surek I La Galigo dibaca dengan irama layaknya lagu, karena dipercaya sebagai mantra untuk tolak bala, syarat upacara memperingati rumah baru, sambutan musim tanam, hingga pesta perkawinan.

    Hikayat I La Galigo dimulai dari proses penciptaan dunia serta turunnya anak sulung raja langit yang diutus ke bumi (di kawasan Sulawesi Selatan, Luwu) dan memakai gelar Batara Guru. Posisi Batara Guru lalu digantikan oleh Batara Lattu, yaitu anak laki-lakinya yang bernama La Tiuleng. Batara Lattu memiliki dua anak yang dibesarkan terpisah yaitu Sawerigading dan We Tenriabeng.




    Saat dewasa, kedua anak Batara Lattu bertemu karena takdir dan mereka jatuh cinta. We Tenriabeng meminta restu orang tuanya untuk menikahi Sawerigading yang merupakan saudara kembarnya, namun ditolak karena pernikahan saudara sedarah dapat menimbulkan malapetaka. Karena kondisi ini, Sawerigading akhirnya merantau ke Negeri Cina dengan perahu bersama para pengawal kerajaan.

    Selama perjalanannya menuju Cina tersebut, ia menghadapi banyak pertempuran dan dikenal sebagai perantau yang tangguh. Lalu setelah sampai di Cina, ia bertemu sosok wanita yang mencuri perhatiannya, yaitu putri raja Tiongkok yang bernama We Cudai dan mereka dikaruniai anak laki-laki bernama La Galigo. 

    Bagi Dr. Muhlis, “Dengan hadirnya sastra pada masyarakat Bugis, hal tersebut seperti memberikan konstruksi pada peradaban masyarakat. Bagaimana relasi antara laki-laki dan perempuan serta individu dengan lingkungan sosial."


    3. Lebih Dari Sekadar Panggung Sandiwara



    Pertunjukan I La Galigo yang diadakan di Ciputra Artpreneur Jakarta silam, disambut dengan animo hangat oleh penonton lokal dan internasional. Seni panggung yang telah berlangsung selama lebih dari 20 tahun ini disutradarai oleh Robert Wilson, yang juga berlaku sebagai Penata Panggung dan Konseptor Pencahayaan. Robert Wilson dikenal akan kepiawaiannya yang diakui di dunia sebagai salah satu sutradara teater kawakan.




    Pementasan ini bekerja sama dengan BIN House dalam mencari kain-kain terbaik Nusantara yang akan dijadikan kostum para pemainnya. Desain kostum kaya akan budaya Indonesia dengan motif-motif Nusantara I La Galigo hadir melalui kesederhanaan yang elegan, kental akan kekayaan budaya Indonesia yang diwakili melalui bahasa, kostum, dan musik. Tidak seperti teater pada umumnya yang mengandalkan lisan para pemeran untuk menjalankan narasi pertunjukan, I La Galigo menggunakan tulisan yang terpampang lewat layar televisi.




    Alur cerita yang dibawakan oleh para pemeran tersalurkan melalui gestur dan mimik yang dibalut riasan berkarakter. Sementara untuk latar pencahayaan mewujudkan narasi drama seperti saat adegan pertumpahan darah atau saat We Tenriabeng merantau ke negeri Cina. Sedangkan latar musik turut memainkan peran besar dalam menginterpretasikan cerita, yang menciptakan atmosfer spesial sehingga memicu imajinasi para penonton. 


    4. Karya Anak Bangsa



    Sebagai karya sastra asli Indonesia yang diakui dunia, I La Galigo telah menjelajah ke 9 negara sebelum akhirnya berpulang ke Indonesia. Mahakarya Tanah Air ini merupakan epos yang terdiri dari 300.000 bait, menggeser pamor syair Mahabratha yang hanya memiliki 150.000-200.000 bait syair. Epos I La Galigo berisikan cerita peradaban manusia layaknya kisah Adam dan Hawa. Naskah aslinya disimpan di museum Amsterdam, Belanda.

    I La Galigo tak hanya dianggap sebagai karya anak bangsa, melainkan bagi Dr. Muhlis Hadrawi, S.S., M. Hum (Dosen Sastra Bugis dan Ketua Manasa Sulawesi Selatan-Barat) dianggap sebagai harta bernilai bagi masyarakat Sulawesi Selatan karena di antara ribuan karya sastra dunia hanya beberapa yang mendapat pengakuan oleh UNESCO. Ia juga menambahkan bahwa narasi dari I La Galigo walaupun kuno dan bersifat tradisional, mampu menempati posisi terpenting dalam wacana sastra dunia.

    Zaman dahulu, surek ini dipercaya sebagai sebuah kebenaran dan digunakan layaknya kitab pedoman hidup. Kini, di berbagai desa provinsi Makassar, Sulawesi Selatan, I La Galigo masih aktif dibacakan sebagai materi prosesi, karena telah dijalankan selama turun-temurun. Walau nyatanya banyak masyarakat Sulawesi Selatan yang mencela surek, namun masyarakat Bugis yang percaya tetap menjalankan isi yang disuratkan oleh surek.


    5. Pendapat Para Selebriti Tentang I La Galigo

    Pertunjukan I La Galigo dibanjiri oleh para selebriti serta seniman Tanah Air. Ini pendapat para selebriti yang patut Anda selami.




    1. Bangga Dengan Warisan Leluhur


    Hannah Al Rashid telah mengenal I La Galigo sejak ia berumur 15 tahun. Sebagai orang Bugis, ia merasa bangga akhirnya bisa menyaksikan pertunjukan yang sebelumnya sempat ditampilkan di New York.

    2. Nostalgia Masa Kecil


    Sebagai orang Bugis yang lahir dan besar di Makassar, gitaris band Slank, Abdee Negara, telah diperkenalkan dengan kisah Sawerigading oleh para tetua. Ia merasakan perasaan nostalgia saat menyaksikan I La Galigo, terutama ketika adegan para pemeran pendukung menggunakan sarung sebagai interpretasi perahu yang mengingatkan Abdee pada masa kecilnya.


    3. Karya yang Membanggakan


    Andien Aisyah berpendapat bahwa I La Galigo memberikan inspirasi terutama bagi anak-anak muda yang jarang menemukan pertunjukan seperti ini. Bagi Andien, I La Galigo merupakan aset Indonesia yang patut dibanggakan.



    Photo: (Courtesy of Instagram I La Galigo)







- RELATED ARTICLE -