• Pandangan Dian Sastrowardoyo Mengenai Isu Body Shaming

    Culture / News


    Pandangan Dian Sastrowardoyo Mengenai Isu Body Shaming

    Berbincang dengan Dave Hendrik, Dian Sastrowardoyo membagikan pandangannya mengenai isu body shaming dan beauty concept.


    Di seri Brunch With Dave Hendrik yang disiarkan pada hari ini Kamis, 30 Juli 2020, pemandu acara Dave Hendrik mengundang salah satu sosok selebriti Tanah Air yang telah dicintai oleh para penikmat industri hiburan Indonesia semenjak pertama kali wajahnya menghiasi layar kaca Indonesia lewat film Ada Apa Dengan Cinta? yang dirilis pada tahun 2002 silam. Di tengah perbincangan seru antara Dave dan Dian yang mengangkat tema “Aktivitas menyenangkan selama pandemi”, sebuah pertanyaan muncul di kolom komentar mengenai isu body shaming


    Disela-sela perbincangan, Dave pun langsung bertanya mengenai pertanyaan yang dilayangkan oleh salah seorang penonton. “Tadi aku sempat menangkap ada pertanyaan yang menanyakan tentang komentar Dian Sastro mengenai body shaming, ada komentar Dian mengenai hal itu?” tanya Dave. 





    Dian yang mendengar pertanyaan tersebut pun langsung menanggapi. “Ah! Aku merasakan banget! Aku dari kecil dong. Badan aku kan bukan badan model, bukan badan yang kurus. Aku badan Jawa, ada bagian-bagian di badan aku yang memang agak lebih besar daripada yang ideal secara fashion seperti apa. Lalu gue jadi model dong, jadi gadis sampul waktu umur belasan tahun. Dan pasti ada komentar-komentar ‘Aduh, bagusan ini dikecilkan sedikit deh bagian pinggulnya atau bagian tangannya.’”


    Dian pun mengakui bahwa ia sempat terpengaruh oleh komentar-komentar orang. “Dan dulu waktu muda, gue tuh merasakan komentar-komentar ini tuh gue dengerin banget dan gue anggap mereka adalah sumber kebenaran. Padahal siapakah mereka itu? Mereka juga memiliki tubuh-tubuh lain yang mungkin tipenya emang lain saja dan memang di dunia ini perempuan dan laki-laki itu diciptakan dengan segala macam jenis bentuk itu keragaman namanya. Keragaman budaya, keragaman bentuk tubuh, keragaman image tentang body image. Kebetulan kalau misalnya elo dapetnya yang mana ya elo tinggal embrace aja karena semua kan yang bikin sama. Asal sehat ya oke-oke aja, tinggal how do we portrait this kind of body image, this kind of body type dengan bentuk fashion maupun dandanan paling sesuai dan paling flattering untuk jenis seperti itu.” papar Dian.


    Masih melanjutkan penjelasannya mengenai body shaming, Dian juga menjelaskan bahwa ada berbagai macam jenis fashion yang dapat ditampilkan oleh setiap orang, tergantung dengan style mereka. “Gaya fashion kan juga banyak ya, ada yang gayanya yang polos-polos, modest gitu, yang ketutup semua. Ada juga orang yang sukanya seperti Kim K. yang embracing your curve, tapi itu kan balik lagi kepada karakter kitanya. What character are you and what style are you going to display itu tergantung dengan taste elo juga. At the end of the day, bentuk-bentuk badan mau yang beda mau yang seperti apa tidak usah didengerin yang penting intinya you’re comfortable with your body dan elo bisa ngakalin dengan gaya fashion elo suka, gue rasa tidak apa-apa.”



    Sebagai penutup, Dave kemudian kembali bertanya apa yang membuat seorang Dian Sastrowardoyo akhirnya menyadari bahwa kecantikan perempuan itu berbeda-beda untuk setiap bentuk body type serta turning point yang mungkin dialami oleh Dian. 


    Turning point-nya itu pas gue kuliah sih Dave. Jadi waktu itu gue kebetulan bikin skripsi tentang itu. Tentang body image dan tentang beauty concept. Jadi waktu gue ngerjain skripsi gue, gue juga waktu itu kebetulan lagi jadi model iklan beauty juga. I was making a thesis tentang sebenarnya apa yang gue kerjain dalam kerjaan gue itu, is it campaigning a good thing atau tidak? Nah akhirnya gue ketemu di ujung thesis, gue menemukan bahwa konsep beauty itu benar-benar terserah kita. Kita mau define seperti apa karena every shape is actually beautiful. The way elo bisa mendapatkan kekuatannya, kan everything ada kekuatannya dan kekurangannya. Kalau elo bisa embracing your plus point and then elo bisa portraying that dengan sangat comfortable, that’s beauty! That is beauty that you define yourself,” tutup Dian Sastrowardoyo. 


    Nantikan perbincangan lengkap Dave Hendrik dengan Dian Sastrowardoyo segera di kanal Youtube Harper's Bazaar Indonesia!


    (Foto: Courtesy of Harper's Bazaar Indonesia, Instagram @therealdisastr)











- RELATED ARTICLE -