• Cerita 24 Jam Bersama Velove Vexia di Singapura

    People / News


    Cerita 24 Jam Bersama Velove Vexia di Singapura

    Sambil pemotretan sampul majalah edisi Juli 2019, Velove bersama Bazaar menelusuri tempat-tempat ikonis di Singapura. Simak perjalanannya.


    Edisi Juli yang sengaja dibuat spesial semenjak tahun lalu, kini dikemas tak kalah istimewa. Bazaar mengambil lokasi di Singapura, salah satu destinasi terdekat dari Indonesia yang kerap dijadikan tempat liburan.

    Jika Anda sudah melihat sampul majalah edisi Juli 2019 tentu mengobati rasa rindu Anda terhadap Velove yang belakangan sedang tidak muncul di dunia hiburan. Anda dapat membaca obrolan Bazaar dengan Velove secara lengkap di majalah edisi tersebut.

    Terlepas dari obrolan kami, lokasi-lokasi yang kami jadikan sebagai latar belakang pemotretan juga tak kalah menarik. Untuk halaman sampul misalnya, kami menjadikan HSBC Rain Vortex yang berada di Jewel Changi Airport sebagai background-nya.



    Selain itu, kami juga mengambil spot-spot foto lainnya di area Jewel Changi, seperti di Petal Garden dan Hedge Maze, Canopy Park.


    Sekadar mengingatkan, Jewel Changi yang baru dibuka awal tahun ini, merupakan bangunan ikonis karya arsitek kenamaan dunia, Moshe Safdie, dan kini tempat tersebut menjadi salah satu tujuan wisata terbaru di Singapura.



    Nah, untuk mengetahui agenda lengkap Bazaar bersama Velove di Singapura, simak perjalanan kami di bawah ini:


    05.30

    Saya bangun untuk menunggu makeup artist datang ke kamar.


    07.00

    Kembali lagi ke Jewel Changi Airport. Saya benar-benar menikmati tiap momen pemotretan di sana. Mungkin karena terbilang masih pagi dan belum banyak pengunjung, rasanya sangat puas. Saya jadi berpikir, betapa Singapura sangat mengapresiasi alam.


    (Dress, Burberry)


    Bahkan mereka sampai mendatangkan beragam jenis tanaman dari mancanegara untuk diletakkan di dalam mal. Melihat hal itu seharusnya kita perlu mengikuti langkah mereka, apalagi dengan kekayaan alam yang negeri kita miliki.


    10.30

    Sambil menunggu jeda ke lokasi pemotretan berikutnya, saya ingin menikmati brunch di Dempsey Hill, restoran favorit saya adalah PS. Cafe. Saya memesan Crab Tart dan PS. Truffle Shoestring Fries, serta minuman Crushed Fruit Sodas Lychee & Lime. Restoran ini sangat cantik, interiornya dikelilingi jendela kaca besar sehingga Anda dapat langsung melihat pepohonan hijau yang menyejukan.

    (Atasan, Valentino)



    Area di Dempsey Hill ini memang didominasi dengan arsitektur bangunan kolonial peninggalan Inggris. Singapura ini seolah tetap ingin meninggalkan warisan-warisan terdahulunya, namun tetap memadukannya secara modern. 


    12.00

    Setelah makan siang, saya menyempatkan diri untuk melihat-lihat koleksi busana terbaru di Dover Street Market.

    (Tas, Loewe)


    Masih di area yang sama, saya juga mampir ke Jones the Grocer untuk membeli kopi. Tapi ternyata di sana juga menjual makanan-makanan organik favorit saya seperti pasta spaghetti dan cokelat.



    13.45

    Saya menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat yang juga sedang populer karena menjadi salah satu lokasi pengambilan gambar di film Crazy Rich Asians, yaitu Chijmes. Atmosfer gedung ini serupa dengan area Dempsey Hill yang tetap mempertahankan keasliannya sejak zaman dahulu kala. Betapa Singapura ingin warganya, atau siapapun yang menikmatinya agar juga dapat mengapresiasi histori di balik tempat ini.

    Ada satu spot favorit saya di Chijmes, yakni di bawah pohon dekat tangga-tangga di belakang gereja. Saya membaca sembari menikmati arsitektur di gedung yang dulunya adalah sebuah sekolah sekaligus biara pada abad ke-19. 



    15.00

    Dekat dari Chijmes saya mendatangi National Gallery, gedung ini dulunya adalah Balai Kota dan Pengadilan Tinggi, namun sejak tahun 2015 fungsinya diubah menjadi museum seni. Di sana sedang ada Children’s Bienalle 2019 yang berakhir sampai akhir Desember tahun ini.


    Program tersebut benar-benar mencuri perhatian saya. Bagaimana sebuah museum memperkenalkan dunia seni terhadap anak-anak sedari kecil. Mungkin saya tidak tahu banyak, namun sepengetahuan saya, jarang ada museum yang fokus memperkenalkan art kepada anak-anak. Dan saya melihat sendiri seni yang ditunjukkan juga sangat simpel dan mengedukasi.



    16.30

    Saya dalam perjalanan menuju Gardens by the Bay untuk sesi pemotretan berikutnya. Kami melewati Anderson Bridge di kawasan Central Business District (CBD), ada satu instalasi seni berupa bola-bola kaca yang mencuri perhatian.



    17.00

    Di Gardens by the Bay saya difoto di Flower Dome, yang katanya banyak terdapat pohon zaitun berusia ribuan tahun. Saya juga melihat ada beberapa tumbuhan unik jenis baobab yang biasa tumbuh di daerah Mediterania.


    (Dress, Valentino; Kalung, Biyan)


    Setelah itu photoshoot dilanjutkan ke area OCBC Skyway and Supertree Grove, sebuah display tanaman dramatis yang akan menjadi spektakuler lewat permainan lampu di malam hari.


    (Dress, Fendi)


    18.30

    Untuk santap malam saya memilih restoran English House by Marco Pierre White, yang menyajikan set menu setelah pukul 5.30 sore. Salah satu menu favorit saya di sana adalah Croustade of Eggs with Truffles.



    21.30

    Saatnya beristirahat. Karena besok saya masih harus meneruskan sesi pemotretan terakhir di Henderson Waves, Southern Ridges.



    Dan hasil foto di Southern Ridges dapat di lihat di bawah ini.


    (Busana dan sepatu, Biyan)


    Selama perjalanan kami di Singapura, Velove juga menyadari perubahan-perubahan yang terjadi pada salah satu kota yang kerap dijadikannya sebagai weekend getaway tersebut. "Saya merasa Singapura telah mengubah konsep kotanya sebagai green city. Tak lama mereka juga membuka Gardens by the Bay yang mengusung keragaman flora lewat Flower Dome dan Cloud Forest, lalu juga membuat jogging track super panjang di Southern Ridges, mereka seolah benar-benar ingin menciptakan sensasi urban nature," ungkap Velove.

    Dan menurutnya konsep urban dan nature dalam sebuah kota sangatlah sempurna. Apalagi dengan adanya isu global warming seperti sekarang ini, masyarakat hendaknya lebih perhatian dan harus memahami betapa pentingnya penghijauan. “Kota-kota di negara lain, termasuk di Indonesia, perlu mencontoh langkah yang dilakukan oleh Singapura.

    Membentuk kota metropolitan dengan segala hiruk pikuk pusat perbelanjaan boleh saja, tetapi ada baiknya jika diseimbangi bersama pemberian udara segar lewat penghijauan. Hal ini ke depannya juga sangat bagus bagi generasi selanjutnya, bahwa agar mereka lebih familier terhadap lahan hijau di tengah-tengah kota. Sehingga mereka nantinya akan menerapkan hal serupa untuk pembangunan di masa depan.” pungkas Velove.


    (Stylist: Michelle Othman; Foto: Kay - Moreno Photography, Courtesy of Instagram Visit Singapore; Makeup & Hair in Singapore: Alex T; Makeup and hair on Cover: Archangela Chelsea; Special thanks to Singapore Tourism Board)









- RELATED ARTICLE -