Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Perjalanan Merek Sepatu Buatan Lokal di Dunia Fashion

Mampukah bersaing dengan label internasional?

Perjalanan Merek Sepatu Buatan Lokal di Dunia Fashion

Jika berbicara mengenai label mode lokal, mungkin yang segera muncul di kepala Anda adalah merek baju. Ya, memang dalam beberapa tahun terakhir, industri mode lokal diramaikan oleh koleksi baju yang bermunculan di situs e-commerce dengan model dan warna beragam. Namun bagaimana dengan sepatu?

Bila dibandingkan dengan industri ready-to-wear Indonesia, industri alas kaki Tanah Air belum begitu populer, terutama di ranah fashion kontemporer. Padahal Indonesia memiliki predikat sebagai salah satu negara eksportir alas kaki terbesar di dunia (khususnya sepatu kulit), sejajar dengan Tiongkok, India, Vietnam, dan Brazil.

Namun bukan berarti Indonesia tidak memiliki potensi untuk melebarkan sayapnya ke ranah footwear. Setidaknya, selama beberapa tahun terakhir, koleksi sepatu kontemporer karya tangan lokal semakin terdengar gaungnya. Desainer seperti Biyan, Sapto Djojokartiko, dan Toton, merupakan segelintir nama yang menampilkan koleksi sepatu beriringan dengan koleksi busana mereka. Bahkan mereka menjual koleksi sepatu runway bersamaan dengan busana ready-to-wear.

Bicara tentang eksistensi label sepatu lokal, nama Sapto Djojokartiko dan Niluh Djelantik keluar sebagai desainer Indonesia yang berhasil membawa koleksinya ke pasar lintas benua. Koleksi Niluh Djelantik sempat booming satu dekade lalu dan rancangan sepatu wanita asal Bali ini sempat dijual hingga benua Eropa. Sedangkan Sapto Djojokartiko, sukses menjual sepatunya di mancanegara berkat unggahan koleksi mules-nya di Instagram. Moda Operandi membawanya ke laman belanja prestisius berkelas dunia. Koleksi sepatu tersebut mendapatkan animo yang baik dari para konsumen di berbagai belahan dunia dan mampu merambah sejumlah butik retail Timur Tengah.

Sejumlah label lokal lainnya seperti Pvra, Jasmine Elizabeth, Ella & Glo, dan Marista Santividya juga tak kalah populer di pasar domestik. Keempat label tersebut tak hanya unggul dari segi desain tapi juga mutu produk yang bersaing dengan label asing. Satu kesamaan yang dimiliki oleh mayoritas label sepatu kontemporer Indonesia adalah aplikasi napas tradisional dalam desain sepatu yang patut diacungi jempol. Material dan teknik distingtif khas Indonesia menjadikan koleksi alas kaki kian atraktif dan memiliki identitas yang kuat, ini adalah karya anak negeri. 




Terlepas dari pergerakan kecil namun signifikan, industri ini masih mengadapi tantangan seputar produksi. Mulai dari masalah sumber daya manusia hingga keterbatasan material yang sulit didapatkan dalam kuota besar. Hal ini diamini oleh Sapto Djojokartiko yang harus mengekspor 1.000 hingga 1.500 pasang sepatu setiap musimnya. "Sejak mulai serius menekuni bisnis sepatu, saya merasakan bahwa semakin besar produksi, semakin besar pula masalahnya. Seperti misalnya material yang saya gunakan tidak konsisten dari segi warna, atau bahan bakunya tidak tersedia lagi. Selain itu, saat ini saya hanya memproduksi sepatu berhak datar karena teknik pembuatan sepatu berhak tinggi memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi. Masih ada begitu banyak hal teknis yang harus dipelajari agar hasilnya memenuhi standar," tutur Sapto Djojokartiko.

Hingga saat ini, koleksi sepatu buatan Indonesia memang masih didominasi oleh hak datar, medium chunky heels, flatform, maupun espadrilles. Belum banyak yang mampu menciptakan sepatu stiletto dengan hak tinggi yang ramping, indah, dan penuh presisi, atau bereksperimen dengan berbagai bentuk hak sepatu yang unik. 

Model hak tinggi memang masih menjadi 'pekerjaan rumah' bagi industri sepatu Tanah Air. Namun dengan pergeseran minat yang condong pada koleksi alas kaki berhak datar maupun rendah, rasanya akan lebih bijaksana bagi para pelaku industri footwear Indonesia untuk tetap fokus mengembangkan koleksi mereka mengikuti kecenderungan pasar demi kelanggengan siklus produksi, seraya perlahan tetap berinovasi dengan model lainnya. 

Industri alas kaki kontemporer sudah memiliki cukup bekal untuk itu, dan tantangan berikutnya adalah bagaimana derap langkah mereka bisa menggema ke berbagai penjuru dunia?


(Penulis: Chekka Riesca, disadur dari Harper's Bazaar edisi Oktober 2018, Foto: Courtesy of Hadi Cahyono)