• Seniman Di Balik Ladang Immortelle di Art Jakarta 2017

    People / News


    Seniman Di Balik Ladang Immortelle di Art Jakarta 2017

    Mengenal seniman wanita yang akan menghadirkan everlasting flower di Art Jakarta 2017.


    Baginya, kaca merupakan material yang mengesankan kejujuran. Transparansi yang dimiliki kaca membuatnya tertarik akan medium ini dan mengekplorasinya jauh sebelum namanya masuk ke dalam jajaran seniman Tanah Air yang diperhitungkan.

    Adalah Patricia Untario, sosok seniman wanita yang menjadikan kaca sebagai medium kreativitasnya. Seniman yang lulus dari Institut Teknologi Bandung di tahun 2008 silam ini sempat bertolak ke Italia untuk mendalami teknik pembuatan kaca dan memperkaya eksplorasinya akan material ini.

    Patricia Untario, Fasting, 2017.


    Baca juga: Pesta Seni di Art Jakarta 2017

    Selain kejujuran, material kaca dilihatnya menggambarkan kekuatan dan keabadian. Kaca bisa membantu mengawetkan atau melindungi sebuah objek. Pemahaman inilah yang nantinya akan diterjemahkan Patricia dalam karya instalasi terbarunya yang akan dipamerkan di Art Jakarta 2017, 27-30 Juli 2017.

    Bersama dengan L'Occitane, salah satu beauty brand kenamaan, Patricia akan membawa bunga immortelle, sebuah bunga yang dijuluki everlasting flower, untuk dinikmati publik Jakarta khususnya.

    Bunga immortelle sendiri merupakan salah satu bahan alami yang digunakan L'Occitane untuk memproduksi produk anti-aging, di mana bunga ini memang dikenal memiliki kandungan aktif yang mampu menjaga keremajaan kulit serta mendorong regenerasi sel kulit

    Beruntung, Bazaar berkesempatan bertemu dengan Patricia untuk berbincang mengenai karyanya yang diberi nama Immortelle Field ini.

    Harper’s Bazaar (HB): Dari mana awal mula ide untuk membuat Immortelle Field?
    Patricia Untario (PU): Saya sangat tertarik dengan sifat immortelle yang membuatnya disebut sebagai everlasting flower. Bunga immortelle ternyata tidak akan layu meskipun setelah dipetik. Selain itu saya juga belajar fakta bahwa bunga ini sangat berharga.

    Dari satu ladang bunga immortelle hanya bisa dihasilkan essential oil yang jumlahnya terbatas. Karena itu ide untuk mengawetkan bunga ini menjadi sangat menarik. Bunga abadi yang dipresentasikan dalam material yang juga kekal, yakni kaca.

    HB: Jadi penggunanaan material kaca berfungsi sebagai refleksi dari kemampuan immortelle untuk mengabadikan atau mempertahankan kondisi kulit?
    PU: Iya kurang lebih begitu. Selain itu nanti konsep glass house yang menjadi ‘rumah’ bagi instalasi bola-bola kaca ini juga pada awal mulanya digunakan oleh orang-orang Eropa untuk membawa tanaman asal negara tropis agar bisa hidup di negara empat musim.

    Sekarang saya melakukan hal sebaliknya, bunga yang biasa ada di negara empat musim, saya bawa dan taruh di dalam ‘rumah kaca’ agar bisa terus ‘hidup’.

    Selain itu bola-bola kaca ini juga menjadi perlambang proses penyulingan yang harus dilakukan L’Occitane untuk mendapatkan essential oil dari immortelle yang sangat berharga.

    Patricia Untario, Immortelle Field, 2017.


    HB: Apakah Anda memang selalu tertarik dengan medium kaca?
    PU: Kaca bagi saya adalah material yang memang sangat menarik. Sejak kuliah saya kerap bermain dengan material ini. Bagi saya sifatnya yang transparan mengingatkan saya pada kejujuran dan keterbukaan. Saya bahkan sempat mendalami teknik eksplorasi kaca hingga ke Italia.

    HB: Bagaimana proses dari penentuan konsep Immortelle Field ini sendiri?
    PU: L’Occitane sendiri sudah memiliki konsep awal bahwa mereka akan mengangkat immortelle sebagai bintang dari instalasi kali ini. Saya tinggal mengajukan ide-ide yang saya bangun dari karakteristik immortelle dan riset singkat mengenai produk-produk L’Occitane.

    HB: Mengapa disebut sebagai Immortelle Field?
    PU: Dalam karya ini nantinya pengunjung bisa melihat sekitar 600 bunga immortelle yang ‘ditanam’ dalam bola-bola kaca. Saya akan menggunakan permainan bayangan sehingga ruangan yang berdimensi 4 x 2,6 meter ini akan tampak luas, layaknya ladang immortelle yang ada di Corsica. 

    Karya seni ini juga dapat dinikmati pengunjung lebih dekat dengan cara masuk untuk berfoto bersamanya.

    HB: Tantangan terbesar apa dalam membuat instalasi ini?
    PU: Seluruh bunga immortelle yang nanti akan digunakan adalah bunga asli yang langsung dikirimkan dari Eropa. Totalnya yang mencapai hampir 600 buah. Dan karena bunga ini sangat berharga bagi L’Occitane, saya harus berhati-hati ketika memasang bunga-bunga kecil ini.

    Termasuk para pengunjung, tentunya diharapkan dapat berhati-hati dan menjaga bunga immortelle ini nantinya.


    Bunga immortelle.


    HB: Anda pernah bertolak ke Italia untuk mendalami seni pembuatan kaca, apa yang menarik di sana dan apakah semua tekniknya bisa Anda terapkan di Indonesia?
    PU: Tentunya teknologi dan eksplorasi yang dilakukan di sana jauh lebih rumit dan kompleks. Sayangnya tak semua teknik bisa saya bawa ke Indonesia.

    Beberapa sangat bergantung dengan keberadaan peralatan, seperti misalnya listrik di Indonesia yang kerap tak stabil, padahal ada satu proses yang membutuhkan kekuatan listrik yang stabil karena produk harus ada dalam tungku listrik selama satu minggu.

    HB: Berbicara mengani art scene di Jakarta atau Indonesia, bagaimana Anda melihatnya sekarang?
    PU: Art scene di Jakarta khususnya semakin baik. Makin banyak tempat untuk berpameran sehingga makin banyak seniman yang punya ruang untuk memamerkan kreativitasnya.

    Kebanyakan dari kami mengolah hal-hal sosial dan isu yang kami temukan dalam kehidupan sehari-hari sebagai tema karya kami, sehingga sejujurnya saya merindukan melihat karya-karya yang condong ke arah politik.


    Baca juga:

    4 Agenda Seru Samsung di Art Jakarta 2017

    Karya Instalasi Indieguerillas di Pacific Place Jakarta


    (Foto: Courtesy of L'Occitane, Courtesy of Patricia Untario, Dok. Bazaar)









- RELATED ARTICLE -