• 17 Novel Terbaik untuk Anda Menemani Liburan Panjang

    Culture / News


    17 Novel Terbaik untuk Anda Menemani Liburan Panjang

    Novel berikut cocok dibawa selama liburan musim panas bagi Anda penggemar genre fiksi sejarah, saga keluarga, maupun pecinta linguistik.


    Memasuki musim panas, cuaca semakin bertambah hangat dan hari-hari pun terasa semakin panjang. Ditambah lagi dengan kompetisi foto #bookstagram di media sosial semakin lama terasa semakin menantang.


    Sambutlah musim panas tahun ini dengan ditemani oleh beberapa buku terbaru. Bagi Anda penggemar genre fiksi sejarah, kisah tentang keluarga, dan pecinta linguistik, kami telah merangkum buku-buku yang cocok untuk masuk ke tas liburan Anda. Sementara bagi Anda yang ingin tetap aktif di media sosial, kami juga telah menyiapkan buku dengan sampul berwarna menarik dan dapat senada dengan outfit yang Anda kenakan.


    1. The Seven or Eight Deaths of Stella Fortuna


    Jika sebelumnya telah mengikuti novel Neapolitan karangan Elena Ferrante, buku ini adalah pilihan yang tepat untuk Anda. Cerita yang sarat makna tentang keluarga keturunan Italia-Amerika yang memendam rahasia dikisahkan oleh Juliet Grames dalam novel debutnya ini.


    Di Calabria tahun 1920-an, lahir seorang gadis bernama Stella yang kemungkinan hidupnya terkutuk. Ia pindah ke Amerika bersama keluarganya di tahun 1939 dan kemudian ia tidak memperhatikan lagi adik kesayangannya, Tina. Sekarang, Stella dan Tina telah berusia lanjut. Bersama dengan para generasi muda keluarga Fortuna, mereka harus menghadapi pertikaian yang terjadi di keluarganya.


    2. Daisy Jones & The Six


    Tayor Jenkins Reid mempersembahkan karyanya, Daisy Jones & The Six, yang ditulis dalam bentuk cerita dokumenter dan wawancara. Ia menawarkan kisah yang baru dan membuat pembacanya ikut tenggelam dalam dunia rock ‘n’ roll dan kehidupan dengan penggunaan narkotika di tahun 70-an yang familiar. Cukup mengejutkan bahwa Anda akan jatuh cinta pada tokoh-tokoh yang hidupnya berantakan padahal nyatanya mereka adalah pribadi bertalenta. – Kerry Pieri.


    3. Normal People


    Buku karangan Sally Rooney yang satu ini memang sangat populer. Sebagai penulis, ia mampu menyatukan sisi indah sekaligus teror pada orang dewasa dalam sebuah kisah tentang cinta, persepsi, dan identitas. Ikuti perjalanan hidup Marianne dan Connell yang harus menghadapi krisis eksistensial melalui buku Normal People sebelum kisahnya diangkat menjadi serial televisi di Hulu sebentar lagi. – Julie Kosin.


    4. Passing


    Jika membaca novel klasik adalah salah satu kegiatan yang wajib masuk ke agenda musim panas Anda, jangan lewatkan koleksi dari Random House’s Modern Library Torchbearers yang akan cocok masuk ke daftar bacaan Anda. Diisi oleh penulis-penulis wanita yang menentang hukum atau konvensi sebelum gerakan aktivis di Instagram mulai marak, koleksi yang mereka keluarkan menyajikan buku-buku highlight mulai dari Charlott Bronte (dan bukan Jane Eyre) hingga penulis serta aktivis asal Dakota yakni Zitkála-Šá. Tak cukup dengan itu, koleksinya dilengkapi pula dengan ulasan kontekstual dari penulis kontemporer seperti Carmen Maria Machado dan Naomi Alderman (yang sampul bukunya sangat bagus untuk disimpan).

    Mari kita mulai dengan Nella Larsen dan bukunya yang berjudul Passing. Novel ini menceritakan tentang dua orang wanita berkulit hitam yang berjuang untuk diterima sebagai kaum kulit putih di Amerika pada tahun 1920-an. Kisahnya diawali dengan pengantar dari penulis buku We Love You, Charlie Freeman yakni Kaitlyn Greenidge. Dan sebagai informasi tambahan, novel ini nantinya akan diadaptasi menjadi sebuah film dengan Tessa Thompson dan Ruth Negga sebagai pemerannya. – Julie Kosin.


    5. Wordslut: A Feminist Guide to Taking Back the English Language


    Terkadang wanita dianggap tidak memiliki cara yang benar dalam bertutur. Jika kita mengatakan sesuatu secara tegas dan terang-terangan, orang akan menyangka kita tidak sopan. Sementara bila kita berbicara secukupnya saja serta terlalu banyak meminta maaf dan menggunakan ekspresi yang menyiratkan keraguan, kita dianggap kurang serius dan tidak profesional. Untungnya, seorang ahli bahasa, feminis, dan jurnalis yakni Amanda Montell memiliki buku untuk membahas halitu. 

    Dalam Wordslut, Amanda mengajak pembacanya untuk menelaah kembali asal-usul sebuah kata dengan cara yang menyenangkan dan membuka wawasan Anda mengenai cerita dibalik istilah seperti “bitch” atau wanita jalang. Jadi jika Anda ingin lebih siap untuk melontarkan ujaran, maka buku ini tidak boleh dilewatkan.


    6. Patsy


    Tiga tahun setelah menerbitkan novel debutnya yang berjudul Here Comes the Sun, penulis asal Jamaica bernama Nicole Dennis-Benn kembali menyuguhkan karya terbarunya yang mengisahkan tentang makna menjadi seorang ibu dan pengalaman sebagai imigran.

    Patsy rela melakukan apa saja untuk pindah menuju Amerika dan bertemu kembali dengan kekasihnya, Cicely, meski ia harus meninggalkan anak perempuannya, Tru, yang berusia enam tahun di Jamaica. Namun impian Patsy untuk membangun kehidupan bersama Cicely nyatanya kandas. Ia pun harus belajar untuk bertahan hidup sebagai wanita imigran yang namanya tidak terdaftar di kota New York. Sementara Tru harus tumbuh besar dan memahami pilihan hidup yang diambil oleh ibunya. Dalam semangat dan keadaan yang terdesak, Patsy mendalami apa yang terjadi ketika seorang wanita lebih memilih kepentingan dirinya sendiri di atas segalanya. Novel ini baru saja dirilis pada tanggal 4 Juni kemarin.


    7. City of Girls


    Ketika ia mulai mengerjakan novel barunya, Elizabeth Gilberth ingin menulis sebuah cerita di mana karakter wanita tidak akan menerima hukuman karena telah melakukan pergaulan bebas. Hasilnya, ia membuahkan City of Girls, sebuah bacaan ringan yang menghibur dengan latar waktu kehidupan glamor di dunia teater kota New York tahun 1940-an. 


    Buku ini dikisahkan melalui sudut pandang karakternya yang bernama Vivian Morris. Kini Vivian telah berusia 89 tahun dan ia merefleksikan hidupnya setelah dikeluarkan dari sekolah dan tinggal di Manhattan bersama Bibi Peg yang flamboyan – sebuah keputusan yang mengubah takdirnya sebagai gadis berusia 19 tahun kala itu. City of Girls baru saja dipublikasikan pada tanggal 4 Juni 2019.


    8. Searching for Sylvie Lee


    Sylvie Lee yang cantik dan cerdas menghilang saat mengunjungi neneknya yang tengah meregang nyawa di Belanda. Oleh karena itu, adik perempuannya, Amy, berusaha untuk mencari dan menelusuri jejak terakhir kakaknya.

    Selama proses pencarian, ia menemukan rahasia yang telah disimpan secara hati-hati oleh keluarganya. Searching for Sylvie Lee bukanlah sekadar kisah petualangan keliling dunia yang menegangkan, namun memberikan cerita menggugah tentang konsekuensi yang harus dihadapi oleh sebuah keluarga imigran saat berjuang sekuat tenaga untuk beradaptasi, bertahan hidup, serta memberikan yang terbaik untuk masa depan anak-anak mereka. Novel ini telah diterbitkan pada tanggal 4 Juni kemarin.


    9. My Seditious Heart


    Ada perbedaan tahun yang sangat panjang saat Arundhati Roy menerbitkan buku pertama dan keduanya. The God of Small Things ia perkenalkan ke publik pada tahun 1997 sementara The Ministry of Utmost Happiness dirilis di tahun 2017. Jika Anda bertanya-tanya tentang keberadaan sang penulis selama 20 tahun itu, tulisan esai politik buah pemikirannya akan membantu Anda untuk menjawabnya.

    Secara keseluruhan, karya nonfiksi Arundhati ini dibuat dalam bentuk sebuah petisi terhadap empati radikal dalam menghadapi dunia yang terpecah belah. My Seditious Heart dirilis pada tanggal 6 Juni 2019.


    10. Bunny


    Jangan alihkan perhatian bila Anda adalah penggemar kisah tentang sekelompok anak perempuan pembunuh! Penulis Mona Awad menggunakan latar suasana program pascasarjana literatur di sebuah sekolah di New England yang nampak mirip dengan almamaternya sendiri, Brown University. Dalam cerita yang kompleks tentang adanya kesalahpahaman, keresahan, dan siksaan psikologi ini, Mona menciptakan karakter pahlawan wanita bernama Samantha. Ia menghadapkannya kepada sekelompok anak gadis kaya raya dan angkuh yang kerap menghabiskan waktu bersama serta memanggil satu sama lain dengan sebutan “Bunny.”

    Ketika para Bunny tersebut mengundang Samantha untuk bergabung dalam “Smut Salon” yang mereka adakan, ia diajak untuk mendalami sebuah kultus mistik. Bawalah buku ini ketika Anda berkunjung ke rumah saudara Anda yang menyebalkan di akhir pekan. Bunny siap dirilis pada tanggal 11 Juni 2019.


    11. One Night in Georgia


    The personal is political adalah istilah yang beredar di kalangan feminis dan wanita yang berjuang dalam situasti politik dan kesetaraan gender pada tahun 1960 hingga 1970-an. Konsep inilah yang diangkat oleh Celeste O. Norfleet dalam novelnya yang berjudul One Night in Georgia.

    Mengambil latar di tahun 1968, ia mengusung cerita tentang perjalanan lintas negara yang dilakukan oleh tiga orang perempuan usai kelulusannya dari Spelman College di musim panas. Petualangan yang awalnya ceria tiba-tiba berubah kelam saat mereka berjalan menuju daerah Selatan. Mobil yang mereka kendarai mogok di Georgia dan mereka pun harus mendapat pengalaman yang tidak mengenakkan ketika harus terjebak dalam situasi rasis dengan konsekuensi fatal. One Night in Georgia siap dirilis pada tanggal 18 Juni 2019.


    12. Fleishman Is in Trouble


    Bila 2019 disebut-sebut sebagai tahun tentang wanita, maka Taffy Brodesser-Akner akan memberikan penyeimbang melalui novel barunya. Fleishman Is in Trouble mengisahkan tentang kesengsaraan yang dialami oleh Toby Fleishman, seorang ayah dengan dua orang anak yang ditinggal secara tiba-tiba oleh istrinya. Dengan demikian, ia harus merawat kedua anaknya sendirian.

    Dalam novel debutnya ini, Taffy melakukan sesuatu yang nampaknya mustahil. Narasi klasik tentang pria paruh baya ia bubuhi dengan unsur perasaan empati terhadap perempuan. Novel Fleishman Is In Trouble akan diperkenalkan ke publik pada tanggal 18 Juni 2019.


    13. Three Women


    Lisa Taddeo merupakan ahli dalam menulis tentang empati. Karya terbaru dari buah pikirannya dituangkan dalam sebuah narasi nonfiksi intim yang siap menjadi ujian bagi para feminis di tahun-tahun mendatang.

    Three Women bercerita tentang kehidupan nyata tiga orang wanita Amerika yang merasa kurang puas sebab mereka tidak bisa memenuhi keinginan dan obsesi mereka. Dalam buku luar biasa yang akan dirilis pada 9 Juli mendatang ini, Three Women merupakan sebuah kajian penting yang berbicara tentang angan-angan para wanita dan konsekuensi yang mereka hadapi dalam masyarakat patriarki. 


    14. The Nickel Boys


    Jangan mengira bahwa novel pemenang penghargaan Pulitzer Prize milik Colson Whitehead yang berjudul The Underground Railroad adalah karyanya yang paling mengagumkan. Tunggu hingga Anda membaca buku The Nickel Boys yang akan mulai dijual pada tanggal 16 Juli nanti.

    Ceritanya dikaitkan dengan hukum Jim Crow yang berlaku di wilayah Amerika Selatan, di mana dua orang anak berkulit hitam yang berkarakter idealis dan skeptis dijatuhi hukuman di sebuah sekolah segregasi. Mereka harus menerima siksaan dan pelecehan seksual selama berada di sana.

    Kedua protagonis tersebut hidup dan tumbuh menyaksikan bagaimana pandangan dunia berbeda dengan keyakinannya. Mereka juga dihadapkan dengan sebuah keputusan yang akan menimbulkan konsekuensi di tahun-tahun yang akan datang. The Nickel Boys akan siap dirilis pada tanggal 16 Juli 2019.


    15. Devotion


    Novel thriller psikologi Devotion dideskripsikan sebagai cerita perpaduan antara novel Sweetbitter dan The Perfect Nanny. Madeline Stevens menulis novel debutnya dengan sangat memukau tentang Ella Crawford, seorang wanita berusia 26 tahun yang bekerja sebagai pengasuh anak. Ia bekerja untuk Lonnie, wanita seusianya yang telah menjadi seorang istri dan ibu serta tinggal di Upper East Side.

    Obsesi Ella akan hidup Lonnie semakin hari semakin memuncak, begitu pula dengan rasa kebenciannya. Lalu, hingga sejauh mana Ella berani mengklaim hidup Lonnie sebagai bagian dari dirinya? Anda akan menemukan jawabannya sampai ke lembar terakhir buku ini. Devotion akan dipasarkan pada tanggal 13 Agustus nanti dan tentunya tidak akan membuat Anda kecewa. 


    16. Trick Mirror: Reflections on Self-Delusion


    Bagi para pencari harta dan orang-orang skeptis di abad ke-21, kritik sosial dari penulis veteran Jezebel yakni Jia Tolentino yang masuk ke The New York Times memang layak untuk dibaca. Dalam Trick Mirror yang akan terbit di tanggal 6 Agustus mendatang, Jia menyampaikan bagaimana delusi dapat membentuk pribadi-pribadi di era internet. Secara intelektual ia membawa pembacanya untuk mengetahui tentang scammer, kisah-kisah seperti Silicon Valley, dan media sosial yang diibaratkan sebagai neraka. Silakan meluangkan waktu untuk membaca buku ini jika Anda ingin menertawakan hidup yang kini sedang kita jalani. 


    17. Coventry: Essays


    Buku teranyar Rachel Cusk yang berupa kumpulan esai ini ditulis dengan elegan dan bernuansa elegi. Ia menangkal segala hal mulai dari Françoise Sagan hingga seluk beluk kehidupan keluarga. Rachel juga dengan mudah menuturkan kisah memoar, kritik terhadap kesusastraaan, dan tanggapannya soal budaya. Hasilnya, ia membuahkan sebuah buku berisi ringkasan kritis di era modern yang wajib Anda baca. Coventry nantinya akan diterbitkan pada tanggal 20 Agustus 2019. 



    (Penulis: Keely Weiss; Artikel ini disadur dari Bazaar US; Alih bahasa: Erlissa Florencia; Foto: Courtesy of Bazaar US) 









- RELATED ARTICLE -