• Waspadai Gejala PMS Berlebihan Memengaruhi Psikologi

    Culture / Tips


    Waspadai Gejala PMS Berlebihan Memengaruhi Psikologi

    Perubahan sikap wanita menjelang menstruasi secara periodik ternyata bisa menjadi ancaman buat mereka maupun orang di sekitarnya.


    Selain kedatangan pengunjung tetap pada setiap bulan, wanita juga akan mengalami periode lain yang berhubungan dengan persoalan emosi maupun afeksi. Julukan populer bagi wanita yang sedang dalam kondisi tersebut adalah masa premenstrual syndrome atau PMS.

    Bazaar sendiri sering berhadapan dengan sindrom itu setiap bulannya, diawali dari rasa tidak nyaman pada sekujur tubuh hingga tingkat emosi yang naik dan turun. Kadang sedikit lucu apabila rekan kerja atau pasangan lebih dulu mengetahui tanggal datang bulan kita lebih cepat, sebelum kita memeriksa penanggalan khusus period di sebuah aplikasi smart phone. 

    Namun seorang Asisten Profesor Ilmu Kedokteran dari Universitas Texas School of Medicine di San Antonio bernama Thwe T. Htay, menjabarkan adanya konsep baru dari PMS di abad ke-20 yang disebut Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD). Gejala PMDD sendiri awalnya serupa dengan PMS, tapi durasinya lebih panjang yakni sekitar satu minggu sebelum menstruasi dan berakhir beberapa setelahnya.

    Persoalan lain yang tak kalah penting adalah bahwa PMDD merupakan bentuk berat dari PMS karena masuk ke dalam gangguan depresi. Menurut dr. Caroline Hutomo, SpOG sebagai spesialis kebidanan dan kandungan, gejala perubahan yang terjadi akibat PMDD mencakup mood swing (labilitas), mudah tersinggung atau gampang marah, depresi, tegang, sulit berkonsentrasi, lesu, selera makan, dan yang terparah adalah emosi yang tidak terkontrol.

    Belum lagi gangguan secara fisik yang juga menambah tingkat keparahan dari PMDD semisal rasa mual, pusing, nyeri pada tubuh termasuk payudara, dan penambahan berat badan. “Apabila wanita itu memenuhi sedikitnya lima kriteria dari gejala tadi, bisa didiagnosa sebagai PMDD. Rata-rata angka kejadian PMDD adalah sekitar 3-8% dari populasi wanita,” kata dr. Caroline.

    Lalu apakah dengan adanya tajuk 'disorder' pada kondisi tersebut mengarah kepada gangguan mental? Rosdiana Setyaningrum, Mpsi, MHPEd, sebagai psikolog menjawab bahwa gangguannya baru masuk ke dalam kategori depresi saja. “Menurut buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) ke-4, PMDD baru diusulkan sebagai gangguan.

    Namun ketika DSM-5 keluar dua tahun lalu, PMDD masih belum termasuk gangguan mental,” terang Rosdiana. Sedangkan kata 'disorder' hanya menyatakan bahwa ada sebuah sindrom yang konstan dan memiliki waktu panjang. “Menurut saya, penyebab utamanya masih seputar perubahan hormon. Kurang hormon dapat mengakibatkan seseorang jadi mudah depresi.

    Contohnya pria, kalau hormon testoreron rendah pasti stres dan tertekan. Kalau sudah depresi? Tak heran individu tersebut mengalami perubahan sikap, bahkan yang terparah dapat mengarah ke tahap suicidal ,” tambahnya lagi. 

    Rosdiana juga dengan mantap mendukung pernyataan bahwa PMDD merupakan sindrom lebih parah daripada PMS. Ia mengusulkan agar wanita yang menyadari adanya perubahan pada dirinya, lebih baik segera berkonsultasi dengan sang ahli. “Kalau sudah masuk ke tahap depresi, dapat mengikuti Cognitive Behavioral Therapy atau terapi psikis. Namun apabila ternyata hanya gangguan hormon, penanganan tentu lebih mudah yakni terapi hormon,” kata Rosdiana. 

    Dari ilmu kedokteran, dr. Caroline bercerita kepada Bazaar jika PMDD masih belum ditemukan penyebab yang konkret, namun kondisi-kondisi yang ada menunjuk pada peranan dari peningkatan hormon estrogen dan progesteron. Singkatnya kedua hormon itu adalah hormon steroid yang bersifat neuroaktif (untuk memproduksi reaksi biokimia pada sistem persarafan) dan mempengaruhi neurotransmitter sistem saraf pusat.

    Ditambah bukti-bukti yang menunjukkan adanya disregulasi sistem yang menurun setelah ovulasi. Di sisi lain rasa kembung dan sensasi peningkatan berat tubuh disebabkan saat hormon steroid berinteraksi dengan Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron (SRAA) sebagai sistem pengatur keseimbangan elektrolit dan cairan.

    “Intinya gejala PMDD diawali setelah ovulasi dan membaik setelah menstruasi. Lalu PMDD jarang terjadi pada wanita yang pernah menjalani pengangkatan indung telur, hipofungsi indung telur, dan wanita dengan siklus anovutalorik,” jelas dr. Caroline.

    Penanganan yang dilakukan meliputi terapi yang berfokus pada penurunan gejala atau memodifikasi terjadinya hormon disregulasi. “Tergantung dari berat atau ringannya kasus, apakah cukup dengan terapi non farmakologi seperti diet suplemen kalsium, vitamin B6, dan vitamin E. Atau tindakan farmakologi di antaranya psikotropik, kontrasepsi oral kombinasi, anti inflamasi, diuretik, dan terapi menekan ovulasi,” ujar dr. Caroline.

    Sedangkan di luar dari aksi medis, Rosdiana memberi saran agar wanita lebih memerhatikan gaya hidup sehat dan pola makan yang benar, misalnya perbanyak melakukan yoga untuk menyeimbangkan hormon dan mengonsumsi ikan salmon sebagai sumber protein. Akupuntur dan teknik relaksasi juga dapat menjadi pilihan untuk mencegah seseorang memasuki tahap PMDD.

    “Yang terpenting Anda jangan malu untuk mencegah segala bentuk stres dan depresi, karena gejala tersebut bisa saja mengganggu pekerjaan, aktivitas sosial, dan hubungan lainnya,” kata Rosdiana didukung pernyataan serupa dengan dr. Caroline di tempat terpisah.


    Baca juga: Cara Mudah Menghilangkan Stres


    (Foto: Hanafi)








- RELATED ARTICLE -