• Ketika Brand Mewah Terinspirasi Gaya Streetwear

    Fashion / Trend


    Ketika Brand Mewah Terinspirasi Gaya Streetwear

    Kini label-label mewah menciptakan busana untuk keseharian atau streetwear, sejauh mana mereka akan memberikan dampak pada dunia mode?


    Di masa ketika tren mode terasa sungguh tak asing, saat panggung runway dari pekan mode tak begitu berbeda dengan masyarakat awam yang tengah berlalu lalang di jalanan, apa yang sebenarnya sedang berlangsung di industri ini?

    Nampaknya, hal ini tak lepas dari andil label Vetements yang bergaung kencang dan kemudian memberikan efek domino bagi label-label fashion lainnya.

    Apa jadinya? Industri fashion secara sigap menyerap energi yang diusung Demna Gvasalia, yakni urban street style, yang kini digadang-gadang dengan sebutan high fashion streetwear untuk membedakan produk streetwear murah dan streetwear berkelas.

    Hasilnya? Di satu sisi dapat dikatakan bahwa fashion saat ini terasa sangat mudah untuk dinikmati, gaya yang beredar mencerminkan keseharian yang dapat dicerna dengan baik. Namun, di sisi lain, fashion khususnya label luks seolah kehilangan prestise kemewahannya.

    Tapi faktanya, price tag yang Anda jumpai di koleksi besutan Demna ini masih berpijak di ranah premium, ia masih diperuntukkan untuk kaum kelas atas.

    Kedatangan Demna bukan berarti fashion menjadi tidak mahal, justru sebaliknya. Berbekal kreativitas, ia mengajak busana-busana siap pakai yang sangat umum tersebut untuk mengalami elevasi.

    Maka, Anda harus mencermati kreasi label-label mewah ini secara detail dan berinteraksi langsung. Berkat sosoknya, potongan hoodie atau celana jeans yang kerap diasosiasikan dengan anak muda dan jalanan menjadi 'naik kelas'.

    Tak salah jika istilah vetements-ish pun muncul dan lantas melanda dunia mode. Berbagai brand pun seakan-akan berlomba-lomba untuk mengaplikasikan tren tersebut pada koleksinya.

    Tak serta merta mendominasi seluruh kreasi, tetapi tetap saja hadir gaya busana urban jalanan di beberapa tampilan, tentu saja untuk mewadahi angin fashion yang sedang bergerak ke arah ‘normalisasi mode’.

    Anda bingung dengan normalisasi mode? Itu istilah yang saya ciptakan, karena mode sedang terasa normal, sedang-sedang saja, jarang ada ledakan dan letupan kreativitas busana. Kalaupun ada, hanya beberapa jumlahnya. 



    Lantas, sejauh mana rumah mode dan label-label luks melangkah di masa seperti ini? Mungkin akan menggelitik Anda jika ternyata beberapa label tersebut memproduksi kaus kaki dan kaus atasan, atau juga sweatshirt atau hoodie untuk merepresentasikan urban street style, termasuk mendukung tampilan tersebut.

    Aksi seperti ini tentu saja dapat dipahami, juga dapat dikatakan sebagai reaksi atas hal yang tengah dialami industri fashion. Hampir seluruh penikmat mode sedang bernostalgia dengan fashion yang bernapas nineties, atau ada juga kalangan yang juga sedang merombak koleksi lawas untuk dikenakan kembali, seperti celana denim dengan aksentuasi terpotong di bagian bawah, dilengkapi benang-benang tertarik untuk menyuarakan spirit grunge.

    Namun, langkah yang diambil label-label luks itu tentu saja ada benarnya, mereka terlalu sensitif akan isu tren.

    Mereka memahami betul bahwa pastilah akan ada klien-kliennya yang ingin tampil sesuai tren yang sedang dibicarakan dan mengambil pusat perhatian. Sehingga dalam rangka mengakomodir kebutuhan kaum borjuis yang ingin dibalut gaya streetwear, label-label ini pun memproduksi berbagai produk keseharian yang sejalan dengan gaya urban street style.

    Karena kaum kelas atas yang terbiasa membelanjakan uangnya untuk barang-barang luks atas dasar kualitas dan kelangkaan jumlah, tentu terasa janggal untuk turun kelas dengan membeli produk daily dari label-label menengah yang diproduksi dalam jumlah banyak, dan kualitas yang berbeda dengan produk yang biasanya mereka beli dan kenakan.

    Strategi demikian, bisa jadi merupakan langkah cerdas dalam teknik penjualan. Jika, selama ini label luks bak tak terjangkau oleh kaum menengah ke bawah. Mungkin, dengan menciptakan produk yang semakin basic dan sederhana, akan mampu menyosor pasar yang lebih luas, selain mewadahi keinginan kalangan atas untuk menikmati tren sederhana ini. 



    Sepertinya fenomena ini menjadi win-win solution untuk semua pihak, brand mewah akan mengirit ongkos produksinya, kalangan menengah dapat membeli beberapa produk brand mewah yang dirasa cocok dengan uang di kantong, seperti T-shirt atau jaket hoodie, sedangkan kalangan atas dapat menikmati produk streetwear buatan luxury brand.

    Secara akal sehat, produk-produk daily wear akan menawarkan harga yang lebih murah jika dibandingkan karya yang terbuat dari material leather atau bordiran istimewa buatan tangan. 

    Dengan demikian, eksistensi produk-produk seperti ini akan menciptakan rasa keterjangkauan bagi kaum menengah ke bawah.

    Karena nyatanya kemampuan membeli produk dari brand mewah memberikan sensasi tersendiri.

    Apalagi, dengan membeli produk seperti ini membuat pemakainya dilabeli 'kekinian'. Dampak lainnya, mengenakan barang luks tak lagi memerlukan momen spesial, ia bisa 'dipamerkan' setiap hari.


    (Foto: Imaxtree.com/Valentina Valdinoci, Vincenzo Grillo, Layout: Yellsa Indah)








- RELATED ARTICLE -