• Siapa Bilang yang Kecanduan Instagram Hanya Generasi Muda?

    People / News


    Siapa Bilang yang Kecanduan Instagram Hanya Generasi Muda?

    Ternyata ibu-ibu pun salah satu korban media sosial yang satu ini. Baca curahan hati Wanda Ponika berikut.


    Media sosial merubah banyak kebiasaan dalam hidup. Di era BlackBerry Messenger, eksis cuma bisa melalui profile picture. Tiap ada foto keren, kita ganti profile picture. Era BlackBerry berakhir, berganti dengan smartphone yang mengakses media sosial dengan sangat mudah. Instagram menjadi media yang bisa dikatakan favorit saat ini.

    Posting foto menjadi ritual tersendiri. Foto dipastikan harus dengan pose terbaik, angle yang pas, dan sudah diedit rapi. Mulai dari kantung mata, pori-pori, sampai tinggi badan, tubuh harus langsing. Urusan edit, ibu-ibu tak kalah sama yang profesional. Dijamin semua handphone wanita punya salah satu dari aplikasi ini: BeautyPlus, Pitu, Camera 360.

    Secara ‘tak sengaja’ juga, dunia Instagram memberi rezeki tambahan bagi para fotografer. Mereka bisa fully booked hampir setiap hari. Mengapa?

    Arisan atau ulang tahun dengan hadirin tak sampai 10 orang pun, ada fotografernya. Makin banyak tamunya, makin banyak fotografernya (Psst... biar tidak berebutan fotonya). Apalagi hari raya seperti bulan puasa, Natal sampai Tahun Baru Imlek, di mana ibu-ibu “sibuk” pesta dengan dress code khusus. Makeup sendiri pun tak cukup. Ini zamannya panggil MUA (makeup artist). Tiap pesta harus pakai penata rias.

    Foto juga mulai dari frame sendiri, bertiga, sampai full team. Mulai pose siaga dengan senyum terbaik, sampai plandid (planning candid), pegang cangkir, saling menatap dan “pura-pura” ngobrol jadi menu wajib (yang senyum baca ini berarti pelanggan plandid).

    Rupanya foto di pesta saja tak cukup. Butuh view yang lebih menantang. Jadinya sang fotografer ketiban rejeki tambahan berupa jalan-jalan . Lokasinya? Mulai dari daerah eksotis di Indonesia, sampai Asia, Eropa, dan Amerika. Di atas yacht, first class , hingga cruise. Jalanan Paris, Budapest sampai ala “Winter Sonata” di Pulau Nami, Korea Selatan.

    Baju dan segala atribut fashion dibawa komplet buat #OOTD. Agendanya bisa-bisa lebih banyak foto dibanding kuliner dan sightseeing. Kalau “ladies trip”, dipastikan fotografernya lebih dari dua orang. Karena tak mungkin antre foto kelamaan di atas salju. Bisa masuk angin...

    Tapi rupanya tak semua bahagia gara-gara sang sosial media. Para suami termasuk yang suka manyun. Waktu liburan akhir tahun di Bali, saya lunch dengan sahabat, sepasang suami istri, mereka hotelier sekaligus pemilik museum yang hobi traveling.

    Begitu Balinese rijtafel mendarat di meja kami, sontak saya dan sahabat berdiri berlomba memotret makanan cantik itu. Mencari sudut terbaik. Suaminya langsung curhat ke suami saya. Katanya, “Kita ini Insta-husband, suami-suami korban Instagram. Mau makan, selalu tertunda 5-10 menit untuk sesi foto makanan. Kalau traveling, saya menikmati arsitektur kota atau lagi mengagumi art piece di museum, eh istri saya minta difotoin. “ suamiku langsung tertawa dan setuju, ketemu teman senasib. 

    Buat yang memilih tak membawa fotografer khusus saat traveling, sudah pasti suami jadi korban, diminta fotoin terus, dan... foto tak bisa sekali. “Mama cek dulu ya Pa.... Aduh, ini keliatan gendut, ulang lagi....“ Judulnya ulang sampai cantik (Ya, saya juga gitu!!!)

    Anak-anak pun yang termasuk generasi Z, tak terlalu happy dengan eksisnya mommy mereka. Generasi Z memang punya pandangan berbeda tentang media sosial. Mereka enggan diajak foto atau disuruh berpose untuk “dipamerin” di Instagram. “Mommy lebay...,“ katanya. 

    Namun walau cukup aktif di Instagram, saya termasuk yang agak terganggu dengan fenomena ini. Saya merasa bahwa quality time bersama teman-teman menjadi terganggu. Zaman dulu, yang namanya mau ngopi bareng, benar serius minum kopi berikut kue-kuenya.

    Secantik apapun kuenya, langsung masuk mulut. Dan pastinya ngobrol dengan asik. Namun sekarang sibuk foto, mulai makanan sampai foto bareng. Apa agi kalau ada fotografernya. Sesudah foto bareng, ada sesi foto sendiri-sendiri dengan signature's style masing-masing. Akhirnya tiba saatnya pulang, tak ada obrolan dan kehangatan yang didapat.

    Saya termasuk yang mengutamakan obrolan dan makanan enak. Semakin asik ngobrolnya, semakin kami tak sempat berfoto sama sekali. Sudah pulang baru ingat kalau belum sempat foto. Tapi saya senang dengan momen seperti ini. Momen ala zaman dahulu kala, saat kehangatan menjadi menu utama.

    Tiap orang punya pilihan. Yang suka foto, merasa karena mau capture moment, untuk kenang-kenangan. Apalagi sudah terlanjur makeup dan dressed up. Sayang kalau tak diabadikan. Hal yang sangat dimaklumi bagi wanita. 

    Tapi berbahaya kalau menjadi adiksi. Karena tiap manusia punya hormon dopamin, sehingga rasa bahagia akan muncul saat mendapat pujian. Dan ini menimbulkan ketagihan. Ingin dipuji lebih banyak lagi. Aktivitas mengintip jumlah like jadi kebiaasan. Bahkan ada yang tersinggung kalau fotonya tidak di-like. Pengendalian diri menjadi pegangan utama. 

    Instagram menjadi media untuk mengekpresikan diri. Tapi butuh kebijaksanaan dan rem dalam bermain media sosial. Kebijaksanaan untuk tidak menghakimi seseorang berdasar apa yang kita lihat di media sosial. Juga kedewasaan untuk tidak mudah mengagumi hanya berdasar apa yang dilihat di media sosial.

    Menjadi genuine adalah tantangan yang luar biasa. Membentuk kepribadian yang kuat, tak menjadi pengekor yang ikut teman. Pamer foto bersama “orang penting” untuk citra diri, saatnya harus mulai diimbangi dengan keberanian menjadi diri sendiri.

    Media sosial kalau digunakan dengan cerdas akan sangat bermanfaat . Banyak inspirasi fashion, beauty, kesehatan, bisnis, hingga tulisan inspiratif di dalamnya. Benda ataupun teknologi bisa jadi merugikan atau menguntungkan, tergantung bagaimana kita menyikapinya.

    Dan akhirnya, di tengah aktivitas yang menuntut eksistensi dan “kemasan indah”, ada saatnya mempertimbangkan “the art of doing nothing”. Untuk saya, ini adalah ritual. Di Bali, hanya bersama keluarga. No makeup, no dressed up. Tinggal di vila yang cukup privat. Tak pergi ke restoran atau klub yang hip. Hanya di vila untuk berenang, membaca, berjemur, kadang keluar untuk makan di warung. Saat itu saya merasa hidup lepas dari seribu beban. Quality time dengan keluarga, bermesraan dengan diri sendiri .

    Pada akhirnya, Instagram yang sekarang hits pun akan tiba saatnya pudar, tergantikan dengan sesuatu yang baru, yang lebih menarik. Semua ada siklusnya. Itulah indahnya dunia, selalu menyajikan “hidangan” baru dalam kehidupan.


    (Foto: [email protected])







- RELATED ARTICLE -