• Diskusi Film Indonesia Bersama Reza Rahadian & Yandy Laurens

    Culture / News


    Diskusi Film Indonesia Bersama Reza Rahadian & Yandy Laurens

    Masih dalam suasana Hari Film Nasional, kami mendengarkan sudut pandang dua sineas Tanah Air mengenai perkembangan film Indonesia.


    Harper’s Bazaar Indonesia mengikuti perjalanan Reza Rahadian menemui sejumlah tokoh di balik layar perfilman Nasional beberapa saat lalu. Mereka antara lain exhibitor (pengusaha bioskop), produser, sutradara, penulis skenario, aktor, serta mereka yang bergerak pada departemen teknis. Mari simak cuplikan wawancaranya bersama Yandy Laurens, seorang sutradara (Keluarga Cemara) dan penulis.





    Reza Rahadian (RR): Pencapaian Keluarga Cemara untuk industri ini dapat menjadi barometer baru. Saya sempat ngobrol dengan salah seorang exhibitor yang bilang bahwa Keluarga Cemara membawa harapan baru bagi sinema Indonesia, berhasil membuat film bertema keluarga jadi menarik lagi, bukan melulu tema remaja, percintaan. Seberapa penting tema ini untuk Yandy?

    Yandy Laurens (YL): Saya merasa sebagai kombinasi yang cocok dengan Mbak Gina (S. Noer) karena ia punya visi untuk mengedukasi lewat film. Sementara saya merasa tidak cukup kuat untuk melihat kebutuhan sosial itu. Ketika bikin film, saya hanya punya cerita-cerita keluarga. Dari kecil di Makassar yang rasis terhadap kaum China, kami terus terisolasi, sampai kuliah di IKJ dulu juga minoritas, jadi hanya punya keluarga untuk diceritakan. Jadi kalau ditanya seberapa penting, ya hanya itu yang bisa saya ceritakan, di area tentang relations.

    RR: Seperti apa Yandy melihat film Indonesia? Sudah cukup beragamkah?

    YL: Masih bisa lebih banyak lagi, tapi sedang bertumbuh ke sana. Saya pikir gagasan awal Keluarga Cemara dibuat, saya yakin kalau dorongan utamanya bisnis semata kemungkinan besar film itu tidak akan dibuat. Keluarga Cemara lahir sesederhana Angga, Anggia, dan Gina ngobrol. Dari keinginan untuk bercerita, berani mengambil sesuatu yang saat itu belum ramai. Saya pikir di Indonesia cukup banyak filmmaker yang bikin film karena mau sesuatu, tapi ada juga yang bikin film supaya laku, saya pikir dua-duanya penting buat ada, sebagai roda keseimbangan.


    RR: Apa yang kurang dari film Indonesia? Karena ini menyangkut tentang tema diversity. Saya ingin berbicara bahwa film Indonesia itu seperti mosaik. Kadang ada yang bilang film Indonesia kekurangan penulis, aktor, sutradara. Mau bikin produksi saja terkadang bingung.

    YL: Saya setuju, menurut saya yang kurang talenta. Kalau kita dengar, kan exhibitor mulai membuka banyak cabang, tapi pendidikan tidak demikian.

    RR: Siapa yang harus paling bergerak dalam hal ini?

    YL: Ini seperti ekosistem benang kusut yang sama-sama harus diperbaiki. Pemerintah dan orang perfilman, tidak hanya produser tapi juga sutradara. Tapi, masalah paling besarnya ada di SMA. Pendidikan seni kita berantakan sekali. Menurut hasil survey SMRC*, alasan pertama orang tidak nonton bioskop karena harga tiket mahal, yang kedua karena tidak suka film. Ya, bagaimana bisa suka film kalau tidak diperkenalkan di muaranya.


    RR: Apa tema yang menurut Yandy belum berkembang di Indonesia? Dan atau yang berpotensi berkembang?

    YL: Suspense film, film mengenai polisi atau crime.

    RR: Menurut Yandy secara personal, film itu apa?

    YL: Sarana untuk kita menemukan diri kita, baik yang bikin film maupun yang nonton.

    *Survey SMRC merupakan survey perfilman Indonesia yang dilansir oleh Saiful Mujani Research & Consulting di tahun 2019.

    Simak kelanjutan wawancara Reza Rahadian bersama beberapa tokoh perfilman Indonesia lainnya dalam Harper’s Bazaar Indonesia edisi Maret 2020.


    Foto: Saeffie Adjie Badas











- RELATED ARTICLE -