• 10 Cara Untuk Mengatasi Kecemasan Saat Membaca Berita

    Culture / Tips


    10 Cara Untuk Mengatasi Kecemasan Saat Membaca Berita

    Para ahli memberikan sarannya tentang bagaimana sebaiknya Anda menerima berita sebisa mungkin dengan cara yang sehat


     Sulit rasanya untuk tetap tenang saat menerima informasi tentang pemberitaan baru-baru ini. Lalu bagaimana kita menerima informasi secara sehat? Apakah ada cara tertentu agar Anda tetap mendapatkan berita terkini tanpa mengorbankan kesehatan mental? 

    Kami berbincang dengan tiga orang ahli untuk menemukan jawabannya dan inilah saran-saran mereka .





    1. Pahami jika media memiliki agenda mereka masing-masing

    “Tak bisa dipungkiri bahwa media tidak kehabisan berita buruk dan pada dasarnya tidak apa-apa untuk mengetahui informasi tentang peristiwa yang sedang terjadi. Di sisi lain, benar bahwa ada tren yang berkembang jika sumber-sumber berita fokus untuk mengangkat aspek sensasional dan emosional dari kejadian-kejadian yang mengerikan,” ujar Michaela McCarthy, seorang direktur pelaksana dari lembaga klinis The Awareness Centre yang menawarkan konseling, psikoterapi, psikologi, psikoseksual, terapi hubungan, psikiater, dan pelatihan.

    “Menginformasikan sesuatu yang emosional dan sensasional adalah cara berita memberi penekanan pada adanya kemungkinan buruk alih-alih menunjukkan seberapa rendah risiko negatif yang sebenarnya,” lanjutnya.


    2. Ketahuilah bahwa media bisa memberikan pandangan yang bias tentang dunia

    “Reporter berita dan jurnalis sudah tidak lagi hanya memberikan berita yang lugas serta buletin netral dan faktual selama lima hingga sepuluh menit setiap jamnya. Nyatanya, mereka kini menjadi bagian dari newsfeed selama 24 jam. Dengan demikian, artinya mereka harus berlomba-lomba untuk menarik perhatian Anda dan mengubah berita menjadi hiburan yang tak ada habisnya,” kata Michaela.

    “Berita tak lagi hanya memberi informasi, tetapi juga harus mencuri dan tidak melepaskan perhatian Anda. Cara yang dilakukan oleh para reporter dan editor adalah dengan menaikkan aspek emosional dan sensasional dari suatu kejadian. Yang berbahaya, berita menggambarkan dunia sebagai area penuh drama yang penuh ancaman. Anda bisa menganggap ini sebagai fakta alih-alih mengambil keputusan sendiri tentang potensi riskan yang mungkin terjadi di kemudian hari.”


    3. Memilih sumber berita secara cermat

    “Semua organisasi berita mencari detail apapun dari sebuah kejadian dramatis dan membuat banyak laporan tentangnya,” kata Profesor Neil Greenberg dari Royal College of Psychiatrists dan ahli di PTSD/bahaya psikologis dari kejadian-kejadian traumatis. “Tetapi ada outlet berita tertentu, termasuk beberapa tabloid besar, yang tidak bertujuan untuk menampilkan pandangan yang seimbang. Misalnya, The Daily Mail tidak berusaha untuk menjadi The Encyclopedia Britannica. Bahkan outlet berita terpandang seperti The Times, The Guardian, dan BBC membuat fakta yang sensasional, namun ada beberapa yang jauh lebih buruk daripada yang lainnya. Pikirkan sendiri, ‘Apa yang ingin dilakukan oleh media publikasi ini?’” Terkait dengan anjuran dan informasi terkini, kunjungi situs resmi pemerintah di www.covid19.go.id.


    4. Ketahui batasan Anda dan pertimbangkan untuk membaca berita di waktu yang tepat

    “Jika Anda mulai merasa tidak nyaman, mungkin sudah saatnya Anda mempertimbangkan kembali tentang bagaimana dan kapan Anda membaca berita harian,” ucap Nia Charpentier, manajer media di Rethink Mental Illness. “Mungkin Anda kurang nyaman untuk melihat gambar, oleh karena itu cobalah untuk mendengarkan berita di radio. Atau jika membaca berita di sore hari membuat Anda memikirikannya terus-menerus sehingga mengalami kesulitan tidur, maka cobalah untuk membatasi waktunya. Misalnya, Anda tidak lagi membaca atau mendengarkan berita setelah pukul lima sore. Sekarang ada beberapa aplikasi yang bisa Anda coba untuk mengontrol seberapa banyak kita menggunakan media sosial. Aplikasi itu bisa deprogram sehingga Anda hanya mendapatkan update satu jam per hari atau sekali di pagi hari dan sekali di sore hari.


    5. Jauhi media sosial yang dapat memicu kecemasan Anda

    “Media sosial tidak hanya dapat membantu Anda untuk tetap terhubung dengan orang lain, tetapi juga membuat Anda merasa cemas ketika orang lain membagikan berita atau juga mengungkapkan kecemasan mereka,” demikian tertulis di sebuah pernyataan dari Mind. “Pertimbangkan untuk beristirahat dari media sosial atau batasi penggunaannya. Anda bisa memilih untuk melihat grup atau halaman tertentu tetapi jangan scroll timeline atau newsfeed.”


    6. Jangan lupa untuk mengimbangi berita buruk dengan aktivitas yang membuat Anda merasa senang

    “Meskipun kita perlu tahu tentang apa saja yang terjadi saat ini, bukan berarti kita harus mengonsumsi semua berita,” saran Nia. “Selain menyimak berita utama, mengapa Anda tidak meluangkan waktu untuk membaca surat kabar yang mengangkat tentang hal-hal menyenangkan, baik itu ulasan film, ulasan musik, atau kabar olah raga. Anda juga bisa mengunduh podcast untuk mendengarkan laporan berita atau menyaksikan acara televisi kesukaan Anda setelah menyimak berita sore.”



    7. Batasi konsumsi berita jika Anda memiliki masalah kesehatan mental

    “Jika Anda tidak merasa sehat secara mental baik karena diagnosa kondisi kesehatan mental atau Anda melalui masa yang buruk, maka hindari membaca berita yang membuat Anda merasa tertekan,” jelas Neil. “Ada penelitian yang menunjukkan bahwa mereka yang sudah secara mental tidak sehat atau berada pada tahap awal kondisi kesehatan mental tertentu akan merasa lebih buruk ketika melihat gambar atau mendengar berita yang tidak mengenakkan. Bukan hanya itu, hal ini juga bisa memperpanjang masalahnya. Jika Anda ingin tetap mendapatkan informasi terkini, mintalah seseorang yang sudah menonton atau membaca berita untuk mengabarkan apa yang sedang terjadi saat ini kepada Anda.”


    8. Pahami bahwa kisah nyata dibuat untuk membangkitkan respons emosional

    “Bagian paling buruk dari berita yang tidak mengenakkan adalah saat mendegarkan kisah-kisah pribadi,” kata Neil. “Mendengarkan berita yang mengerikan dan menyayat hati dari sumber-sumber pertama tidak akan memberikan informasi yang bermanfaat. Tidak masalah jika Anda dalam keadaan sehat dan ingin menontonnya. Berita seperti ini tidak akan membantu Anda untuk membuat penilaian risiko berdasarkan fakta, jadi pertimbangkan manfaat dan dampaknya pada diri Anda jika menyimaknya.”


    9. Bicarakan dengan teman dan keluarga tentang berita yang beredar

    “Bangun koneksi dengan orang lain. Jika Anda bisa berbicara dengan teman, keluarga, kolega, atau kenalan tentang kecemasan yang Anda alami dan memahami kecemasan mereka, Anda akan mampu menguatkan pandangan pribadi Anda tentang fakta dan kejadian yang ada. Anda akan terbantu untuk melihat bagaimana berita-berita itu memberikan pengaruh bagi diri dan masa depan Anda dibandingkan menerimanya sebagai sesuatu yang sensasional dan menakutkan,” jelas Michaela. “Untuk masa-masa seperti saat ini bisa dipahami jika kecemasan Anda meningkat, namun jika Anda berbicara dengan seseorang tentang perasaan Anda, Anda akan terbantu untuk menghentikan perasaan takut serta berpikir jernih dalam perspektif.”


    10. Pertimbangkan untuk melakukan detoksifikasi berita

    “Berhenti atau beristirahat dari kebiasaan Anda mengonsumsi berita bisa membantu jika Anda merasa bahwa informasi saat ini memberikan dampak bagi kesehatan mental Anda,” kata Nia. “Tetapi ini tidak harus dilakukan semuanya. Beberapa orang merasa semakin tidak nyaman ketika mereka tidak mengetahui apa-apa, oleh karena itu keseimbangan adalah kuncinya,” lanjutnya.

    Informasi yang diberikan dalam artikel ini akurat sesuai dengan tanggal publikasinya. Sementara kami berusaha untk menjaga konten kami tetap terkini, situasi pandemi virus corona saat ini terus berkembang cepat, sehingga ada kemungkinan bahwa beberapa informasi dan rekomendasi dapat berubah. Untuk panduan terbaru, kunjungi situs World Health Organization atau situs www.covid19.go.id.


    (Penulis: Ella Alexander; Artikel ini disadur dari: Bazaar UK; Alih bahasa: Erlissa Florencia; Foto courtesy of: Bazaar UK)










- RELATED ARTICLE -