• Mengunjungi Presentasi Karya Anak Negeri di Paris

    Fashion / News


    Mengunjungi Presentasi Karya Anak Negeri di Paris

    Bagaimana dua desainer aksesori wanita Indonesia yang bernaung di bawah nama Aidan and Ice melirik pasar internasional di Paris Fashion Week


    Cuaca di kota Paris masih sejuk, tapi hal ini tidak mengendorkan semangat para pencinta mode dari berbagai penjuru dunia untuk meramaikan acara Paris fashion week untuk edisi musim gugur dan musim dingin 2019/2020.

    Selain show-show dari berbagai nama besar dari dunia mode yang berlangsung di kota Paris, berbagai label dari berbagai designer seluruh dunia juga siap untuk memperkenalkan karya barunya bagi para pencinta dan para profesional mode. Mereka melakukannya melalui presentasi di pameran atau salon untuk mode ataupun showroom, dari macam prototype pakaian yang unik hingga berbagai perlengkapan mode 

    Di sebuah distrik di tengah kota Paris, yang dipenuhi berbagai butik_butik unik serta edgy, yang juga merupakan distrik yang ramai dikunjungi oleh para fashionista muda, saya berjumpa dengan designer aksesori Indonesia yang bernaung di bawah nama Aidan and Ice.

    Belum banyak designer aksesori dari Indonesia yang menjajaki dunia internasional khususnya melalui event seperti Paris Fashion week, dan kali ini saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi showroom mereka yang saat itu sedang mempresentasikan beragam hasil karyanya. 


    Nadia Sukirno dan Eunice Salim, dua orang designer aksesori tersebut menyambut saya dengan ramah dalam sebuah showroom apartement di mana booth mereka bergabung dengan beberapa brand aksesori lain dari berbagai negara. Nama Aidan and Ice sendiri merupakan nama unik yang diambil dari permainan kata kedua nama desainer ini, Nadia dan Eunice.


    Sekitar 30 ragam aksesori yang mereka presentasikan seperti bros, kalung, head piece, glasses strap (rantai untuk kacamata), dan juga anting-anting. Menurut Nadia dan Eunice, Koleksi dengan judul The book club yang mereka bawa untuk edisi musim gugur dan musim dingin ini, terinspirasi dari para wanita yang menyukai dunia literatur.


    Bagaimana para wanita menyukai genre sastra yang romantis dan puitis, yang lebih fantasi ataupun petualangan. Semua ini dituang dan diinterprestasikan dalam desain mereka, misalnya untuk para wanita yang lebih menyukai gaya sastra romantis, terbias dari warna yang lebih pink, light blue, peach, yang dirangkai dengan butiran mutiara.


    Sedangkan untuk yang lebih suka dengan cerita petualangan maka detail desain lebih extravagant dan sedikit chunky. Saya juga melihat koleksi ini bermain dalam warna- warna seperti deep green, rangkaian berbagai warna merah, hitam, warna toska dengan paduan mutiara yang memberi kesan romantis dan dramatis dengan bahan -bahan seperti rhinestone, kristal ataupun mutiara, baik itu mutiara Jepang ataupun fresh water pearl


    Nadia menjabarkan pembagian tugas dalam label ini,  untuk pembuatan desain merupakan cerminan karya mereka berdua. Namun dalam stuktur kerja, Eunice lebih fokus pada pembuatan kerangka luar sedangkan Nadia lebih dalam detail dan pengisian. 

    Dari catatan mereka tentang para peminat koleksi, yang datang dari berbagai negara seperti dari Prancis (Paris), Amerika Serikat (New York), China (Shanghai), Jepang (Tokyo) dan Australia (Sydney), mereka mempunyai karakter tersendiri. 

    Misalnya saja dari Prancis, mereka sangat terkesan dengan artisanal buatan tangan dengan desain-desain yang unik. Hal ini yang menarik bagi para peminat aksesoris dari Prancis karena Aidan and Ice memperkerjakan sekitar 45 pengrajin wanita di Jawa tengah untuk merealisasikan desain mereka.  Sebab menurut dua desainer ini, artisanal di Indonesia sangat menarik dan tidak kalah kualitasnya dengan negara lain sehingga mereka berniat untuk mengembangkannya.  

    Menurut pengamatan mereka, pembeli Prancis sangat menyukai desain anting mereka dan juga glasses strap karena rantai kacamata ini merupakan sesuatu desain yang unik dan baru. Mereka mengatakan, mereka terbiasa melihat rantai kacamata yang berupa kalung atau tali yang ringan dan tipis. Ketika mereka mencoba glasses strap karya Aidan and Ice, mereka baru melihat keunikannya. 


    Sisi lain, dari pengamatan mereka, para pecinta aksesoris dari Amerika khususnya New York, ternyata sangat menyukai head piece atau bando hasil karya mereka. 

    Setalah beberapa hari dalam kesibukan fashion week di Paris, dua designer wanita ini mengharapkan untuk untuk dapat mengembangkan nama aksesori mereka di dunia, terutama area Timur Tengah dan Asia, walaupun sebenarnya nama mereka sudah hadir juga di New York, tepatnya di Megeve (stasiun ski di Prancis) dan tentu saja di Jakarta.  

    Mereka juga mengharapkan di masa mendatang untuk membuka showroom semacam ini, tetapi dengan bekerja sama dengan showroom pakaian, sehingga bisa menimba pengalaman yang lain. 

    Sebuah langkah yang menarik dan menantang bagi para desainer Indonesia yang bersiap untuk mengembangkan sayapnya dengan memasuki acara internasional seperti Paris fashion week di mana ribuan orang datang untuk mencari dan menilai hasil karya ataupun desain dengan ketajaman mata profesionalnya.

    Untuk pertama kalinya, Aidan and Ice dengan keberanian dan percaya diri, mereka membawa keunikan desainnya dalam even ini dengan sebuah visi yang jelas dan matang. 


    (Foto: Courtesy of Aidan and Ice)









- RELATED ARTICLE -