• Kecantikan: Kompetisi yang Tak Ingin Kita Ikuti

    Beauty / Advertorial


    Kecantikan: Kompetisi yang Tak Ingin Kita Ikuti

    Menjelang pertandingan Olimpiade Tokyo 2020, SK-II bekerja sama dengan atlet Olimpiade untuk hapus kompetisi tak sehat dalam kecantikan.


    Musim kompetisi sebentar lagi akan hadir, dunia pun menyambut kompetisi terbesar di dunia, Olimpiade Tokyo 2020. Ini adalah sebuah periode ikonis di mana kita merayakan keindahan dari sebuah kompetisi dan menyemangati para atlet dari seluruh dunia ketika mereka berusaha untuk melakukan yang terbaik. Kita merayakan dorongan, tekad, dan energi mereka, dan menikmati momen kemenangan serta pencapaian mereka. Ketika seseorang berdiri di atas podium pemenang, kita mengerti bahwa kompetisi itu ada. Kemuliaan dan kehormatan, motivasi untuk melangkah lebih jauh, berusaha lebih keras, dan menjadi lebih kuat.

    Tapi apa yang terjadi dalam sebuah kompetisi jika tak ada kemenangan yang nyata? Apakah itu semua cukup untuk menjalani persaingan? Apakah kita bisa berhenti, tanpa melihat garis finish? Kami dulu berpikir bahwa hal tersebut tak mungkin, tetapi brand kecantikan prestisius SK-II sedang menjalankan misi demi menantang kita untuk mengenali dan menghapuskan kompetisi yang tak kita inginkan atau butuhkan, persaingan di dunia kecantikan.


    SK-II Ingin Hapus Kompetisi Tanpa Pemenang

    Kecantikan adalah sesuatu yang selalu kita kejar, baik di laman media sosial ataupun di keseharian yang nyata. Sejak dulu, kita sering dijejali oleh standar kecantikan tertentu yang menjadi pedoman bagaimana kita harus tampil, bertindak, dan bahkan apa yang sebaiknya kita rasakan agar dianggap cantik. Baik itu tampilan kulit yang putih, sikap elegan dan sopan, atau selalu menorehkan senyuman manis di wajah. Aturan kecantikan konvensional tersebut bukan hanya tak sehat, tetapi juga dapat membatasi dan menahan diri kita dari mencapai potensi diri yang sesungguhnya.

    SK-II sebagai partner dunia dan merek perawatan kulit resmi untuk Olimpiade Tokyo 2020 menggandeng enam atlet kelas dunia untuk menyatakan bahwa kecantikan tak ada kompetisi dalam kecantikan melalui hashtag #NOCOMPETITION. Kampanye ini diharapkan bisa menginspirasi para perempuan untuk menantang dan menolak standar kecantikan negatif yang dipaparkan terhadap mereka. Di antara para atlet yang telah bergabung dengan gerakan ini terdapat pesenam kelas dunia Simone Biles, Liu Xiang, seorang perenang yang memegang rekor dunia, petenis meja nasional asal Jepang Ishikawa Kasumi, Hinotori Nippon, tim voli nasional Jepang, peselancar Mahina Maeda, serta duo pebulu tangkis Ayaka Takahashi dan Misaki Matsutomo.



    Kasumi Ishikawa berbagi tentang tekanan dari luar dan ekspekstasi yang dihadapinya saat ia memasuki Olimpiade ketiganya. Faktor tersebut berujung pada munculnya keraguan pada diri sendiri akan kemampuannya untuk bertanding. Memutuskan bahwa ini adalah waktu untuk menjadi kuat, Kasumi ingin memperkuat dirinya dengan pikiran positif, mengingatkan dirinya bahwa "keraguan bisa melanda hanya jika Anda mengizinkannya."



    Mahina Maeda percaya bahwa dengan setiap kompetisi, ia memiliki kesempatan untuk mendorong batasan demi membuatnya menjadi lebih baik, lebih cepat dan lebih kuat. Bagaimanapun juga, hal ini tak berlaku dalam kompetisi yang tak diinginkan di dunia kecantikan, di mana tak ada cara untuk menang. Dalam pernyataannya, peselancar tersebut menjabarkan bahwa ia tak ingin terlibat dalam aturan kecantikan yang tak realistis dan tak representatif serta berusaha untuk mengukir prestasi dalam usahanya menjadi atlet terbaik di dunia.



    Simone Biles pernah menjadi korban komentar body shaming di dunia maya di awal kariernya, di mana banyak orang yang menyinggung soal figur berototnya yang tak sesuai dengan makna kecantikan menurut masyarakat. Melalui #NOCOMPETITION, ia memilih untuk memegang teguh pendiriannya melawan para haters, mendorong sesama untuk menentang standar masyarakat yang toxic dan menciptakan definisi mereka sendiri tentang kecantikan.



    Dalam sepuluh tahun bermain bersama, Ayaka Takahashi dan Misaki Matsutomo pernah mempertanyakan tujuan mereka saat meraih medali emas di Olimpiade Rio 2016. Melepaskan diri dari keraguan dan tekanan, keduanya mengekspresikan bahwa kepercayaan mereka atas persatuan dan mengombinasikan kekuatan bersama akan mendorong mereka untuk mengatasi tantangan di kompetisi mana pun.



    Tim voli nasional asal Jepang sering menerima komentar tentang tinggi badan dan kekuatan mereka, mempertanyakan kapabilitas mereka terutama saat bertanding melawan tim dengan fisik yang lebih tinggi dan besar. Tim Olimpiade ini menyatakan bahwa mereka akan "menjalani jalur mereka sendiri", tidak membiarkan komentar negatif memengaruhi mereka sehingga dapat mendobrak batasan dan mencapai potensi tertinggi mereka.

    Dengan pengalaman dan cerita yang berbeda-beda, para atlet tersebut mengirimkan pesan kuat dan mengajak siapa saja yang merasa terperangkap dalam kompetisi tak sehat dalam dunia kecantikan untuk menyerukan, "Kita tak lagi berkompetisi, kecantikan itu #NOCOMPETITION."

    Lihat video selengkapnya di bawah ini:




    Video kampanye tersebut terlihat jelas menyuarakan jenis persaingan yang sebenarnya tak perlu terjadi dalam kecantikan, terutama di antara perempuan. Inilah waktu yang tepat untuk menyadari bahwa mengikuti standar kecantikan tak sehat hanya akan mengabadikannya, mempererat tali yang menahan kita sebagai perempuan. 

    Sudah saatnya bagi kita sebagai perempuan masa kini untuk mematahkan kompetisi tak sehat di dunia kecantikan. Mari bebasakan diri dari kompetisi yang tak perlu dan mulai suarakan #NOCOMPETITION dalam kecantikan.

    Untuk informasi lebih lanjut tentang #NOCOMPETITION dan mengetahuin bagaimana Anda dapat mendukung dan menyerukan suara Anda dalam kampanye ini, silakan kunjungi situs #NOCOMPETITION.




    (Foto: Courtesy of SK-II)





- RELATED ARTICLE -