• Mataguru: Perjalanan Iwan Tirta Sebagai Maestro

    Fashion / News


    Mataguru: Perjalanan Iwan Tirta Sebagai Maestro

    Keseriusan Iwan Tirta mendalami batik mengantarkannya menjadi maestro budaya. Hal itu kemudian dikisahkan lewat pergelaran Mataguru.


    Nama Iwan Tirta sudah dianggap sebagai maestro di dunia batik Tanah Air. Sosoknya yang selalu berdedikasi untuk melestarikan batik semasa hidupnya, dijalaninya dengan sungguh-sungguh. Berbagai metode riset dan pembelajaran yang ia serap dari berbagai aspek di sekitar sekaligus dari sisi spiritualnya melahirkan banyak motif batik yang perlu sekali untuk terus dijaga.

    Lantas, untuk terus menghidupkan segala peninggalannya yang sangat berguna untuk bangsa Indonesia, dibutuhkan trik yang cukup relevan agar generasi masa kini dapat mengarahkan perhatian mereka kepada batik. 

    Melalui Era Soekamto, selaku direktur kreatif luxury batik house Iwan Tirta Private Collection sekaligus penerus sang maestro, warisan itu hingga kini masih terus terjaga dan terus berevolusi mengikuti kemajuan zaman.

    Salah satu medium yang ia upayakan demi terus menghidupkan warisan sang maestro adalah dengan menggelar pergelaran mode yang akan menyajikan ansambel-ansambel spesial lansiran Iwan Tirta Private Collection. 

    Setelah sebelumnya berhasil dengan koleksi Dewaraja dan Condrosengkolo, di tahun 2019 ini Era ingin lebih memperkenalkan perjalanan sang maestro lewat koleksi bertajuk Mataguru. Mataguru yang merupakan bentuk apresiasi terhadap sang maestro, diimplementasikan lewat tiga babak layaknya pergelaran wayang yakni Talu, Adeg Jejer, dan Adeg Sabrang. 

    "Beliau memiliki banyak guru, yang termasuk buku-buku manuskrip kuno, Panembahan Senopati dan Sultan Agung yang mana dahulu memperkenalkan batik sebagai alat diplomasi dan tidak hanya dikenakan di wilayah Keraton. Para guru-guru tersebut dahulu berkomunikasi lewat budaya yang salah satunya adalah wayang, maka itu kami mengadopsi alur cerita pertunjukan wayang dengan membagi pergelaran ini dalam tiga kategori yaitu Talu, Adeg Jejer, dan Adeg Sabrang," ujar Era Soekamto, direktur kreatif Iwan Tirta Private Collection. 



    Tidak hanya mengapresiasi kinerja dan perjalanan sang maestro, ajang pergelaran Iwan Tirta Private Collection tahun ini juga menjadi medium untuk menunjukan apresiasi terhadap tim mereka yang telah lama bekerja keras demi terus menghidupkan warisan sang maestro. Pergelaran pun dimulai dengan munculnya para tim yang berada di belakang lini ini yang telah lama menyumbangkan ide dan kinerja mereka.

    Setelah itu, pemutaran sebuah film pendek yang mengedukasi setiap tamu terhadap proses pembuatan batik pun diputarkan, yang kemudian diteruskan dengan babak utama di pergelaran ini yang bertajuk Talu. 

    Alih-alih menggunakan simbol wayang secara harfiah, babak utama ini menampilkan model-model yang mengenakan busana bermotif Pohon Hayat dan Gunungan Kekayon yang biasa muncul di awal pertunjukan.



    Permainan warna abu-abu dan coklat tampak dominan di babak ini, di mana warna tersebut termasuk inovasi baru dari lini Iwan Tirta Private Collection yang belum ditonjolkan di koleksi sebelumnya. 

    Selain itu, meski luxury batik house ini hanya mengeluarkan pakaian dengan balutan batik, tak membuat Era Soekamto tidak bereksplorasi lebih jauh. Kali ini, ia memilih material tule yang romantis untuk digabungkan bersama motif batik di koleksi ini.

    Di babak kedua yang bertajuk Adeg Jejer, motif khas Keraton mendominasi secara megah sebagai bentuk representasi babak pembelajaran seorang Iwan Tirta saat mempelajari batik di balik tembok Keraton Jawa. 



    Motif Keraton di babak ini dileburkan di atas potongan item fashion modern seperti outer yang mudah dipadankan dengan berbagai ansambel meskipun berbalutkan motif batik yang mewah.

    Warna klasik khas kerajaan seperti cokelat tua dikombinasikan dengan motif-motif batik klasik yang banyak dicintai oleh banyak orang yaitu Parang dan Gurdo. 

    Setelah para tamu disuguhkan tampilan Keraton bernapaskan kontemporer yang relevan dengan zaman, pergelaran kemudian ditutup oleh babak Adeg Sabrang yang merupakan sesi penutupan di pergelaran wayang.



    Aksen balloon sleeve yang menambah kesan dramatis serta material tule di gaun malam yang menjadi sajian spesial di pergelaran ini. 

    Perpaduan material batik dan tule di bagian ini menerjemahkan percampuran budaya Eropa dan China, yang mana merupakan trik Iwan Tirta dalam mendesain batik ciptaany, yakni dengan mengadaptasi budaya internasional sehingga rancangannya dapat diterima oleh segala khalayak. 

    Injeksi motif floral serta burung didominasi warna-warna cerah yang akan menghidupkan tampilan formal sekaligus menarik perhatian. 


    Berikut koleksi lebih lengkapnya. 



    (Foto: Courtesy of Iwan Tirta Private Collection)







- RELATED ARTICLE -