• Pertemuan Kultur dan Seni Lukis

    Fashion / News


    Pertemuan Kultur dan Seni Lukis

    Hari pertama penyelenggaraan IPMI Trend Show 2017 dihiasi indahnya kain negeri dan goresan seni warna-warni.


    Telah menjadi agenda tahunan bagi para desainer Tanah Air di bawah naungan Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) untuk menampilkan tren busana juga aksesorinya sebagai guidance bagi industri fashion di musim mendatang.

    Dimulai pada 8 November 2016 kemarin, IPMI kembali menyelenggarakan IPMI Trend Show 2017 yang dibuka oleh presentasi dari Ghea Panggabean, Era Soekamto, Mel Ahyar, dan Barli Asmara.

     

    Ghea Panggabean

    Bertempat di The Hall, Senayan City, Jakarta, Ghea Panggabean menampilkan sejumlah busana yang kaya akan keindahan kain lokal.

    Kali ini, karya busana dari desainer kelahiran Rotterdam tersebut terinspirasi dari masa perdangan para saudagar di Selat Malaka hingga pulau Sumatera dan Jawa yang ia beri tajuk The Spice & Silk Route.

    Maka tak heran jika Anda disuguhkan perpaduan corak ulos yang menjadi ciri khas suku Batak di Sumatera Utara yang ia kelola dalam busana berpalet serba merah bata lengkap dengan kain ulos yang dirangkai layaknya hiasan kepala asli Batak.

    Pada sequence selanjutnya, Ghea Panggabean menghadirkan keindahan kain motif limar khas Palembang yang menjadi simbol keanggunan kerajaan Sriwijaya di masa lampau.

    Namun tak sampai disitu, desainer lulusan Lucie Clayton College of Dress Making dan Chelsea Academy of Fashion, London, Inggris ini pun menghadirkan kekayaan batik pada sequence terakhir.

    Sequence ini dibuka dengan nuansa gagah layaknya ksatria dan raja-raja dari Keraton Jawa yang tampak dari perpaduan jaket bermaterial beludru dengan celana serba hitam. Selain itu, Ghea memadukan indahnya batik parang, batik cinde, dan batik alas-alasan hingga blangkon pada sejumlah busana ciptaannya.


    Era Soekamto

    Berpindah ke area cube, Era Soekamto menyulap ruangan serba putih ini dengan pelataran Jawa klasik lengkap dengan aroma dupa.

    Kemudian, rangkaian bernuansa lembut bermaterial silk organza satu persatu mengemuka.

     

     

    Era Soekamto menamai koleksinya tersebut sebagai Asmaradhana, sebuah wujud kekaguman sang desainer akan kepribadian yang kuat di dalam kelemahlembutan para wanita Jawa.

    Ia memadukan unsur emas nan mewah juga motif milik Iwan Tirta Private Collection sebagai penyampaian pesan akan budaya yang sakral.

     

    Mel Ahyar


    Siapa yang tak kenal sosok desainer yang kerap menyuguhkan unsur fun di setiap presentasinya. Kali ini, Mel Ahyar berkolaborasi dengan Jeihan Sukmantoro, pelukis dengan karya ikonisnya Mata Hitam.

    Mel Ahyar menuangkan keindahan lukisan karya Jeihan pada rangkaian busana terbarunya yang tampil mewakili berbagai era fashion, dimulai dari era '60-an hingga kini.

     

     


    Era '60-an tampil dalam gaun-gaun berpotongan longgar dengan palet teduh dan penyajian embellishment yang apik. Begitu pula era'70-an dan '80-an yang lekat dengan busana-busana bersiluet besar juga celana palazzo.

    Sementara Mel Ahyar memunculkan kembali kesan maskulin dan gaun lekat tubuh yang mewakili gaya berbusana pada era '90an.

     

    Barli Asmara


    Desainer Barli Asmara menutup malam dengan nuansa muda dari label All The Horses. Tampak padu-padan streetwear dengan material kulit, denim juga renda menyerukan spirit kebebasan tanpa menghilangkan karakter feminin dan dinamis. Palet hitam dan putih pun menyempurnakan koleksi dari kolaborasi teranyar Barli Asmara dan All The Horses.

     

     

    (Foto: dok. Bazaar)
     








- RELATED ARTICLE -