• Memang Kenapa Kalau Bersahabat dengan Filler dan Botoks?

    Beauty / Trend


    Memang Kenapa Kalau Bersahabat dengan Filler dan Botoks?

    Memaksimalkan dimensi wajah dengan suntikan berefek magis yang semakin banyak peminatnya. Deisy merangkum seperti apa tren face contouring.


    Gara-gara mengikuti satu akun Instagram seorang dokter estetika panutan klan keluarga The Kardashian, membuat explorer Instagram saya akhirnya dipenuhi oleh banyaknya akun klinik estetis dari luar maupun lokal. Seringkali saya melihat foto before dan after-nya, and I have to admit, some of them are really good and I’m in awe.

    Boleh dikatakan saya termasuk pencinta filler dan botoks yang memberikan hasil dengan transisi yang halus. Tindakan perawatan non-invasive tersebut kini semakin digemari. Jika dulu saya mengenal botoks hanya untuk menghilangkan kerutan crows feet (sekitar mata) dan dahi, kini botoks juga digunakan di sekitar rahang agar otot rahang mengecil dan wajah terlihat lebih tirus.

    Kalau dulu saya mengenal filler hanya untuk menambah volume bibir, mengisi nasolabial line, dan menambah bridge pada hidung maupun cuping hidung, kini saya baru paham, betapa di luar sana filler sedang digandrungi untuk membuat rahang yang lebih terdefinisi. 




    Saya pun ketika masih menjadi editor kecantikan pernah beberapa kali merasakan khasiat dari suntikan filler dan botoks ini. Masih ingat dengan jelas ketika saya menghadiri sebuah pembukaan klinik di Thailand dan ikut merasakan suntikan filler pada area bawah mata dan atas bibir.

    To be very honest. I loved it very much. Efek yang diberikan begitu nyata tanpa mengubah fitur wajah saya, mata terlihat lebih segar karena bagian bawah mata tidak dekok lagi ke dalam dan warna gelap sekitar mata pun memudar, kemudian bibir atas saya yang tipis tampak sedikit lebih plumpy, glossy, dan lebih segar tanpa kerutan-kerutan garis yang biasanya menghiasi, tapi tanpa membuat bibir saya terlihat seperti Kylie Jenner.

    Saat kembali dari Thailand saya tidak bercerita banyak pada teman-teman saya bahwa saya telah melakukan tindakan filler. Bukan karena apa-apa, tapi pada saat itu filler dan botoks di lingkungan pertemanan saya masih dinilai sesuatu yang rasanya bukan tabu, tapi untuk melakukan itu masih di-judge seperti “you’re fake”, mungkin saya berlebihan but at least itu yang saya rasakan saat itu. 

    Namun saat ini saya rasa semua sudah berubah sangat drastis. Filler, botoks, dan beberapa tindakan lain yang bisa dikombinasi untuk face contouring untuk menghasilkan tampilan wajah yang awet muda, dinilai sesuatu yang sudah lumrah. Ketika saya berbicara dengan teman-teman saat menghadiri perhelatan beauty atau fashion, jika ada yang membahas filler dan botoks rasanya sudah tidak ditutup-tutupi lagi, ya seperti sedang membicarakan treatment facial.

    Jika ada seorang sosialita yang hadir telat dengan tarikan yang cukup kencang mengarah kurang natural, dalam hati saya suka bertanya apa ini terlalu banyak efek botoks atau dia habis melakukan baby face lift ya? Tapi ketika bertanya dalam hati, saya bisa mendengar seorang influencer yang duduk sebelah saya pun membicarakan hal yang sama dengan temannya.

    Saya rasa pemerhati kecantikan saat ini atau utamanya para kaum milenial sudah banyak lebih teredukasi dengan baik seputar hal estetika terutama filler dan botoks ini. Mereka tidak malas membaca jurnal kecantikan maupun konsultasi dengan pakarnya. Mereka pun juga sudah sangat kritis dengan kandungan, efek, ketahanannya, cara merawatnya dan sebagian besar dari mereka tau apa yang diinginkan. 

    Seorang teman saya bernama Alexa (nama samaran), sudah lama menjadi salah satu pencinta botoks, filler dan kawan-kawannya. Dibandingkan dengan saya yang berlatar belakang beauty editor, teman saya ini memiliki ilmu seputar estetika wajah lebih dalam dari saya. Rasanya dia sudah “khatam” seputar filler dan botoks karena ia juga sudah sering kali mencobanya.

    Jujur, ia adalah salah satu orang yang saya percaya ketika saya membutuhkan informasi dan ingin mencoba sebuah treatment terkini. Biasanya sebelum konsultasi dokter saya akan telepon ia dulu.

    Saya selalu suka dengan hasil tindakan perawatan yang ia coba. Riset yang begitu detail ia kumpulkan sebelum ia berkonsultasi pada dokter, membuat saya kagum dan menilai ia adalah pasien yang tahu apa yang diinginkan. Bagaimana saya tidak kagum, ia benar-benar bisa menjelaskan secara singkat dan padat ke saya perbedaan yang ia rasakan ketika menggunakan filler brand Restylane dan Juvederm sepeti apa.

    Bagaimana kandungan hyaluronic yang disuntikkan tidak bisa bertahan lama ditubuhnya karena ia memiliki metabolisme yang tinggi, bagaimana satu dokter bisa membuat wajahnya begitu fresh sementara dokter lain ada yang membuat wajahnya terlihat sayu.

    “Dokter praktisi filler dan botoks juga seperti pemahat patung, ini seperti pekerjaan seni tersendiri. Masing-masing tangan berbeda hasilnya berbeda-beda. Anda harus make sure, tentang gaya hasil dokter tersebut. Do your research!”ujar Alexa.

    Clearly, Alexa sangat terbuka kepada saya tentang segala tindakan yang pernah ia kerjakan, tapi bukan berarti disetiap tindakannya ia selalu share ke saya. But trust me, walaupun kami tidak sering bertemu pun, saya bisa menilai dari foto selfie yang diunggah di media sosial miliknya.

    Tentu tidak setiap habis menggunggah foto selfie-nya terus saya langsung bertanya di WhatsApp “Hey Lex, kamu abis diapain lagi kok cantik banget”. Tentunya tidak etis dong bertanya seperti itu, kesannya pun seperti ingin tahu banget. Belum tentu ia juga ingin saya melakukan tindakan yang sama di dokter yang sama. 

    Hasil treatment filler mapupun botoks yang dilakukan terkadang tidak terlalu terlihat dengan kasat mata. Hanya pemerhati kecantikan yang cukup pakar dan teliti yang bisa melihatnya. Kalau orang awam biasanya hanya bisa menilai seperti “Eh kok wajahnya Alexa terlihat lebih fresh ya, kencang, sedikit tirus, dan apa ya hmm seperti ada yang beda tapi apa ya…tapi cantik”. Ya, kurang lebih seperti itu biasanya komentar yang tersirat dari teman-teman sekitarnya.

    Dan pendapat itu exactly yang Alexa inginkan. “Saya ingin datang ke dokter untuk memperbaiki wajah saya, dan saya ingin efeknya seakan akan I’m born with it. Ya... balik lagi memang adorance estetika kecantikan orang berbeda-beda, ada yang ingin terlihat signifikan sehingga seringkali malah terlihat tidak natural. Kalo saya justru tetap suka yang natural,” ujar Alexa dengan pasti.

    Dan bagi Alexa, suntik filler dan botoks harus dilengkapi dengan facial PRP dan tanam benang Aptos untuk menghasilkan keseimbangan dan kecantikan paripurna. Ia pun untuk ke depannya akan mencoba Teosyal Filler, yang fungsinya untuk uplifting efek kulit wajah. 

    Beda lagi dengan sahabat saya yang jarak umurnya hampir 10 tahun lebih muda dari saya, namun ia sudah mencoba segala perawatan seputar filler, botoks, dan lainnya. Berbeda dengan Alexa, kalo sahabat saya ini tujuannya hanya satu yaitu V-shape face, karena dari dulu ia merasa pipinya chubby. Saya melihat hasilnya ketika ia disuntik botoks pada bagian rahang dan kemudian memasang tanam benang Korea.


    Dua bulan setelah tindakan tersebut saya melihat pipinya yang sedikit lebih tirus dan anehnya kulitnya nampak sangat sehat, glowing sekali. Ia bilang itu efek dari tanam benang dan ditambah Laser CO2. Saya mulai berpikir memang rasanya tak bisa hanya rely on filler dan botoks saja. Saat ini semakin banyak jenis facial dan perawatan RF lainnya yang bisa dikombinasikan dengan filler dan botoks. 

    Saya pun cukup terkejut membaca sebuah artikel di situs website gaya hidup di luar, ketika seorang Director Education dari sebuah klinik terkenal di Miami bercerita bagaimana sibuknya klinik ketika musim Fashion Week akan tiba. Berpuluh-puluh model datang untuk melakukan filler dan botoks.

    Harus dilakukan dua minggu sebelum hari-H fashion show untuk menghindari adanya pembengkakan atau menghindari wajah terlihat lebih puffy. Tindakan terfavorit pun adalah filler untuk cheekbone kemudian memperhalus garis nasolabial dan tentunya pada bibir.

    Saya pikir ini sungguh tidak adil. Sering kali saya berkata ketika melihat para model ini dalam hati “Gosh, she’s blessed with such gorgeous bones structure” rasanya jika memiliki tulang wajah yang tinggi-tinggi itu tak perlu lagi seperti saya yang ketika difoto harus sedikit memajukan bibir saat tersenyum agar ada efek yang sedikit lebih seksi (ya silakan tertawa) juga berharap tulang pipi ikut naik.

    Namun apa yang terjadi, ketika melihat hasil fotonya pun tetap saja saya tidak puas dan meminta ulang hingga 7x take, ini sungguh kegiatan yang melelahkan. Dan model-model ini ternyata masih diinjeksi untuk meng-highlight fitur wajah mereka yang sudah lancip-lancip itu. Bravo

    Jujur saya juga ingin memiliki high cheek bone seperti mereka. Tapi apalah daya, wajah wanita Asia memang tidak bisa disamakan dengan fitur wajah Kaukasia. Seperti waktu lalu saya sempat ngobrol dengan dr.Olivia Ong dari Jakarta Aesthetic Clinic, beliau mengingatkan memang wajah wanita Asia itu kurang berdimensi.

    Namun menurut beliau untuk melakukan face counturing tak hanya bisa dikerjakan oleh botoks dan filler saja tapi juga dengan kombinasi Ultherapy. Dan ketika saya bertanya sekarang pasien yang datang ke dokter mindset-nya seperti apa?

    “Rata-rata mereka sudah tahu maunya apa, dan kebanyakan dari mereka ingin hasil yang sangat halus atau natural. Tapi ada juga yang ekspektasinya melebihi kenyataan dari apa yang bisa dikerjaan sebatas filler dan botoks, dan saya sebagai dokter berhak untuk mengatakan tidak.

    Tugas saya merangkul pasien tersebut dan memberikan edukasi anatomi wajah dan seputar perawatan yang bisa kita berikan hingga pasien itu paham. Kita justru harus bantu pasien tersebut, jangan malah digiring ke arah yang salah,” jawab dr.Olivia dengan tenang dan berwibawa.

    Jam terbang dr. Olivia Ong memang sudah panjang, saya sungguh terpikat dengan hasil hasilnya yang pernah saya lihat pada teman saya, juga pada seorang beauty influencer ternama yang tidak segan membahas treatment yang ia kerjakan beberapa waktu lalu lewat InstaStory-nya. Saat itu saya mengagumi kreasi jaw line yang lebih terdefinisi, sehingga memberikan dimensi yang cukup tegas.

    Ketika itu saya langsung bercermin dan berpikir, kemana hilangnya rahang tegas saya yang dulu pernah ada. Sepertinya dengan berjalanannya aging dan gravitasi, rahang saya menjadi terlihat… ya seperti timbunan lemak pipi saja sekarang.

    Jadilah bertambah list filler yang ingin saya kerjakan di masa mendatang. Adapun list yang ingin saya kerjakan yaitu filler pada bagian atas bibir (sedikit saja, saya ingin memiliki bibir yang terlihat juicy dan plumpy tapi tidak berlebihan... no no no I’m not a fan of Kylie Jenner’s lips), kemudian saya ingin sedikit menambah volume cheek bone agar struktur muka sedikit terangkat, mengecilkan otot rahang dengan botoks, dan mencoba tanam benang Aptos agar terjadi efek lifting yang sekaligus dapat melahirkan kolagen-kolagen baru agar kulit wajah terlihat dewy. Yes kulit dewy itu sangat penting, dewy skin is always in. 

    To see yourself in a better feature is a pleasant feeling dan mungkin list tindakan yang ingin saya kerjakan ini terkesan panjang dan narcissistic juga seakan akan “judging my own face” tanpa rasa bersyukur. Oh no, don’t get me wrong…sejujurnya saya sangat mencintai bentuk wajah dan tubuh saya, I would never trade my self with anyone else.

    Hanya saja dengan berjalannya waktu (ya tahun ini saya menginjak umur 40, dan saya mulai melihat perubahan struktur pada wajah saya dan saya ingin memperbaikinya. Daripada menunggu lebih sagging lagi kenapa tidak dilakukan dari sekarang saja?

    Silakan menilai saya dangkal, tapi bukankah melakukan face contouring dengan batasan yang masih terlihat natural akan menambah percaya diri? Dan jika efek percaya diri memicu efek bahagia ketika kita bercermin, bukankah itu bisa disebut bagian dari self care dan self love juga?


    (Foto: [email protected])



    Tags : botoks, filler






- RELATED ARTICLE -