• Alasan Meghan Markle dan Pangeran Harry Ingin Undur Diri

    Culture / News


    Alasan Meghan Markle dan Pangeran Harry Ingin Undur Diri

    Tentu tabloid Inggris memainkan peranan besar di sini, dan kita adalah salah satu yang harus menyalahkan diri kita.


    Semua headlines pemberitaan tentang keputusan Meghan Markle dan Pangeran Harry untuk mundur sebagai anggota senior British Royal Family benar-benar histerikal. 

    "Sang Ratu murka atas kejadian Megxit", "Meghan Markle dan Pangeran Harry mundur dan meninggalkan kehancuran untuk keluarga mereka" dan "Sang ratu benar-benar marah dengan keputusan Harry dan Meghan yang menimbulkan 'civil war'".

    Seluruh kebencian tersebut ditulis oleh semua tabloid Inggris mengikuti pengumuman yang disebarkan sang Duke dan Duchess of Sussex mengenai kemunduran mereka di posisi senior royals, dan seluruh headlines mereka merefleksikan bagaimana mereka selama ini telah memberitakan pasangan tersebut selama 12 bulan belakangan. Dengan menghakimi, penuh kemarahan dan kebencian, serta terkadang dibubuhkan oleh opini rasis yang diselipkan. 




    Bila dipikir-pikir, seluruh respons yang diterima oleh Meghan dan Harry lebih kejam sepuluh kali lipat dibandingkan dengan apa yang tabloid tersebut bicarakan tentang kasus Pangeran Andrew yang diketahui berteman dengan seorang tersangka pedofilia Jeffrey Epstein. Bahkan, sang Ratu hanya memberikan sedikit statement dan tidak sekali pun menunjukkan rasa kekecewaan terhadap hubungan pertemanan antara sang Putra dan temannya yang bertahun-tahun menjadi seorang predator seksual. Justru pemberitaan Meghan dan Harry yang mundur dilihat lebih mengandung skandal dibandingkan kasus Pangeran Andrew yang dituduh telah melakukan hubungan seksual dengan seorang anak berusia 17 tahun yang kemudian ia sangkal.

    Walaupun reaksi para tabloid Inggris ini lumayan mudah ditebak, reaksi mereka tetap membingungkan. Beberapa publikasi seperti The Daily Mail dan The Express telah lama menginginkan Meghan untuk "kembali ke Amerika", dan sekarang keinginan mereka telah terkabul, dan anehnya semua orang justru merasa kesal dengan keputusannya. Sudah banyak media televisi maupun oknum jurnalis kerap menggambarkan Meghan sebagai sosok individu yang penuh dengan rencana busuk dan social climber yang menikah demi menjadi terkenal serta memiliki banyak uang. Namun, ketika ia memilih untuk menjadi mandiri secara finansial, mereka justru berpendapat lain dan berkata "Berani-beraninya mereka?" seperti yang dikatakan Hadley Freeman di Twitter, "Orang-orang ini berperilaku seperti seorang suami yang abusive yang tidak percaya istri mereka telah meninggalkan mereka."



    Tentu yang harus disalahkan di balik keputusan keduanya untuk mundur dari kewajiban mereka sebagai royals adalah para tabloid ini. Ini adalah momen historikal yang kita buat sendiri. Bahkan di akhir tahun lalu, Pangeran Harry mengumumkan bahwa ia akan menuntut para tabloid yang terus saja mengabarkan propaganda tanpa henti lewat bullying tentang istrinya. "Saya bahkan tidak bisa memulai betapa menyakitkannya semua ini," tulisnya. "Karena di era digital ini, fabrikasi media sudah tidak lagi dinilai lewat kejujuran. Kabar hari ini sudah tidak relevan lagi keesokan harinya.". Di bulan Oktober, Meghan bahkan hampir menangis ketika mengungkapkan perasaannya atas pemberitaan dirinya di banyak media yang ia harus hadapi. "Untuk bisa bertahan tidaklah cukup, bukan itu inti dari kehidupan," ucapnya. "Anda harus berusaha, harus merasa bahagia. Saya benar-benar mencoba untuk mengaplikasikan kebiasaan para orang Inggris, yaitu stiff upper lip. Tetapi, yang saya rasakan di dalam hati justru hanya akan merusak diri saya."

    Seluruh respons terhadap Meghan dan Harry telah terjadi sejak ia mengandung anak pertamanya, yang membuktikan kepada para media right-wing terhadap opini mereka yang sexist, yang kerap membahas kesuburan untuk wanita seusianya terus dipertanyakan. Namun, ketika ia hamil justru banyak orang merasa jengkel. Bahkan, kebiasaan dirinya yang terus memegang kandungannya dianggap sombong oleh para pengguna media sosial. Salah satu tabloid bahkan menulis, "Meghan berperilaku seakan hanya ia satu-satunya wanita yang hamil di dunia." Respons lain muncul ketika keduanya tidak mengikuti tradisi kerajaan dan memutuskan untuk tidak berpose di luar rumah sakit setelah kelahiran putra mereka, Archie. Pemberitaan rasis juga pernah menimpa sang Duchess, yang mana di bulan Mei 2019, seorang host BBC radio Danny Baker dipecat setelah mengunggah foto yang menampilkan keduanya bergandengan dengan simpanse, dan menuliskan "Royal baby leaves hospital." 



    Lalu, di awal bulan Juli, istana merilis sebuah pernyataan yang mengabarkan bahwa proses pembaptisan Archie akan dilaksanakan secara tertutup dan hanya akan ada foto resmi yang dirilis kemudian. "Tetapi, mereka dibayar untuk melakukan itu," sebuah tabloid menuliskan. Keluarga kerajaan memang memiliki banyak tradisi, dan seiring berjalannya waktu tentu akan ada perubahan, dan wajar jika beberapa tradisi memang dirasa sudah tak relevan. Meski begitu, Meghan dan Harry tetap merilis foto anak mereka, yang mereka tidak lakukan hanyalah berdiri di luar rumah sakit yang mana Meghan tampil dengan riasan wajah dan sepatu hak tinggi, walaupun ia mungkin masih merasa lemas. Setiap wanita memiliki proses melahirkan yang berbeda, ada banyak pengalaman postpartum yang berbeda, hanya orang yang tak punya hati yang memaksa seorang wanita untuk menutupi rasa sakitnya, cuma karena itu "tugasnya".  


    Bukan hanya itu, seluruh media sirkus ini terus terjadi. Bahkan mereka mengabarkan soal hubungan Meghan dengan Duchess of Cambridge sedang bermusuhan, padahal hal itu wajar terjadi dan semua wanita pernah melakukannya. Gerak Meghan lainnya yang dinilai semua media negatif juga muncul saat ia terlihat tidak mahir menggendong bayinya ("Aktris kelas Z ini terlihat kacau, seakan baru saja kabur dari sebuah rumah sakit jiwa dan mencuri anak orang lain di sebuah taman," tulis seorang pengguna media sosial; Ketika Elton John memutuskan untuk menerbangkan mereka ke vila miliknya di Nice yang dianggap munafik para pengguna sosial media karena mereka kerap berbicara tentang lingkungan. Elton kemudian mengklarifikasi bahwa itu ia lakukan demi keamanan mereka serta pesawat jet pribadi miliknya sudah memiliki standar carbon neutral.; dan bagaimana Meghan merubah dekorasi Frogmore Cottage, dan berapa banyak uang dihabiskan dan merugikan para pembayar pajak. Meski diketahui keduanya menggunakan dana pribadi mereka. Mereka dianggap hidup bermewah-mewahan. 



    Banyak komentator yang berkata bahwa Harry sebelumnya tak pernah memiliki masalah dengan para media hingga ia bertemu dengan Meghan. Meski begitu, bukan berarti hal ini tidak perlu diubah. Cara para tabloid memberitakan sang istri mengingatkan Harry dengan sang ibu, yang terbunuh akibat kecelakaan mobil yang melibatkan paparazzi. "Ketakutan saya adalah bagaimana sejarah terulang kembali," ucapnya. "Saya sudah melihat bagaimana seseorang yang saya cintai menjadi komoditas yang sudah tidak dianggap sebagai manusia lagi. Saya kehilangan ibu saya dan sekarang saya melihat istri saya menjadi korban hal yang sama." Tentu, Harry melakukan apa yang bisa ia lakukan untuk melindungi mental sang istri dan putranya. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk tidak lagi terlibat di sistem "Royal Rota" dan akan bekerja sama dengan organisasi media grassroots dan jurnalis muda yang modern. 

    Bukanlah sebuah kejutan kalau mereka ingin bebas dan dapat mencari uang sendiri. Dengan begitu, publik tak dapat lagi memiliki hak untuk mengkritisi hidup mereka. Isu ini sudah beberapa kali terdengar sejak Harry memutuskan untuk tak lagi menjalankan kewajibannya kepada istana. Walau begitu, Harry tidak meninggalkan keluarganya, ia hanya mundur dari posisinya di dalam urusan keluarganya. Perlu diingat, kekayaan dan privilege tak membuat Anda kebal dari kesedihan atau rasa sakit; tidak melindungi Anda dari pelecehan atau bullying.

    Mereka memang mendapatkan treatment yang sama dengan banyak pasangan bangsawan lainnya, tetapi dengan harapan yang berbeda dan tidak realistis. Kami ingin keduanya bisa menjadi member kerajaan yang baik, namun dengan cara yang modern. Kami ingin pasangan ini merasa lebih baik untuk merepresentasikan kita semua, namun jika memang pasangan interracial ini tidak lagi diinginkan di sini, mau bagaimana lagi. Lebih baik, mari kita berbicara tentang Pangeran Andrew.




    (Penulis: Ella Alexander; Artikel ini disadur dari Bazaar UK; Alih bahasa: Astrid Bestari; Foto: Courtesy of Bazaar UK)










- RELATED ARTICLE -