• Resolusi Media Sosial Untuk Mengawali 2017

    Culture / Tips


    Resolusi Media Sosial Untuk Mengawali 2017

    Mengawali tahun 2017 dengan penggunaan media sosial yang lebih sehat.


    Di akhir 2016, berita mengenai efek negatif dari penggunaan sosial media yang tidak bijaksana bisa kita dengar di mana-mana. Maka memasuki tahun yang baru ini ada baiknya kita masukan penggunaan media sosial sebagai salah satu resolusi, demi kebaikan diri kita sendiri.

    Resolusi media sosial ini seharusnya lebih mudah dilakukan ketimbang diet atau resolusi membaca buku tiap minggu, karena semuanya bisa Anda atur dengan sentuhan jari. Namun tentunya lebih mudah untuk diucapkan ketimbang dilakukan, tapi tak ada salahnya untuk mencoba sesuatu yang baru di tahun 2017.

    Bazaar Australia memberikan beberapa daftar resolusi yang bisa mulai Anda lakukan di awal tahun ini.

    Unfollow akun yang tidak membawa kebahagiaan bagi Anda. Singkirkan saja akun-akun yang banyak menyebarkan berita atau foto yang mungkin membuat Anda kesal serta dapat memperburuk mood Anda. Pastikan setiap Anda scrolling feed Instagram hanya akan melihat gambar-gambar menyenangkan. (Mungkin juga sudah saatnya Anda unfollow akun-akun gosip di Instagram Anda).

    Coba untuk batasi waktu Anda di Instagram. Di mulai dari sekadar scrolling di feed Instagram Anda, lalu tak terasa dua jam sudah Anda habiskan hanya untuk mengecek akun seorang teman SMA hingga foto yang diunggahnya dua tahun lalu. Padahal Anda tak membutuhkan informasi itu bukan?

    Jangan mengunggah hal yang sama di tiap media sosial Anda. Tentunya kami paham, ada audiens yang berbeda di Facebook, Twitter, Instagram, dan Snapchat. Namun apakah semua foto harus Anda post di tiap akun Anda? Apakah Anda harus memamerkan aktivitas Anda di kantor ke Instagram Story dan Snapchat secara bersamaan?

    Jika Anda bisa selektif dalam memilah hal-hal yang Anda post dalam medium yang berbeda, ini akan mendorong teman-teman Anda untuk mengikuti semua akun media sosial Anda. Dan pastikan untuk memikirkan dulu momen yang tepat untuk dibagi dengan audiens di media sosial Anda.

    Jangan merasa Anda perlu mendokumentasikan semuanya. Snapchat dan Instagram Story membuat Anda dengan mudah berbagi semua momen dalam kehidupan Anda, karena akan hilang dalam 24 jam. Tapi coba Anda pikirkan dulu, bukankah makan malam dengan sahabat lama akan lebih menyenangkan jika Anda tidak perlu mengunggah video setiap makanan? 

    Jangan terlalu larut dalam media sosial. Beberapa dari kita terkadang terlalu serius dalam menanggapi media sosial. Seringkali kita menjadi terlalu banyak berpikir jika teman kita tidak memberi 'like' pada foto liburan kita. Atau merasa kesal karena follower Instagram yang turun, sementara foto terakhir kita tidak punya banyak 'love'.

    Benar jika media sosial menjadi cermin untuk melihat kehidupan, namun bukan berarti hal itu mencerminkan semuanya. Anda harus sadar bahwa tidak semua orang menghabiskan waktunya untuk mengecek media sosial dan memberikan 'love' pada tiap foto Instagram Anda.

    Berhenti mempercayai semua berita yang Anda dapat dari media sosial. Banyak dari kita yang masih menjadikan media sosial sebagai sumber informasi urama kita sehari-hari. Namun berkaitan dengan isu fake news yang gencar di 2016, menjadi bukti bahwa tidak semua yang kita temukan di media sosial adalah hal yang benar. Cara terbaik untuk menghindari termakan hoax? Langsunglah membacanya ke sumber berita, seperti surat kabar atau gunakan aplikasi berita di smartphone Anda agar Anda bisa melakukan kurasi mengenai informasi yang Anda terima.

    Pada intinya jika media sosial tidak membuat Anda merasa baik, ubahlah cara Anda menggunakannya. Bisa dengan mengikuti daftar resolusi di atas, atau lakukan detox media sosial. Life is too short to worry about your Instagram follower count.

     

    (Alih bahasa: Daniar Cikita. Foto: Getty Images)








- RELATED ARTICLE -