• People / News

    5 Menit Bersama Joko Anwar


    5 Menit Bersama Joko Anwar

    Simak bagaimana sutradara satu ini berkisah tentang film terbarunya, Pengabdi Setan.


    Dari mulai kekagumannya terhadap film horor di tahun '80-an, hingga jawaban dari semua karya-karyanya, Bazaar berbincang dengan Joko Anwar yang siap merilis film terbarunya, salah satu film paling dinanti di 2017, Pengabdi Setan

    Harper's Bazaar (HB): Kenapa Pengabdi Setan untuk film ketujuh ini?

    Joko Anwar (JA): Karena film ini merupakan salah satu film yang membuat saya ingin tumbuh menjadi seorang film maker. Cinematic experience yang saya dapatkan setelah menyaksikan Pengabdi Setan versi 1982 meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Hingga saking seramnya, saat itu saya berharap malam tak kunjung datang.


    HB: Apa yang berbeda dalam Pengabdi Setan versi Joko Anwar dengan yang dahulu?

    JA: Ini merupakan reboot dari versi 1982. Di mana cerita saya merupakan sesuatu yang berbeda dengan kisah dahulu, namun tetap berada di dunia yang sama dan punya cerita yang beririsan dengan film pendahulunya. Tentunya untuk tahu bagaimana kisah Pengabdi Setan versi saya Anda harus menyaksikannya di bioskop. 


    HB: Apa adegan paling berkesan dari Pengabdi Setan versi 1982?

    JA: Saat hantunya berhadapan dengan ustaz. Film ini merupakan film horor pertama yang menghadapkan sosok setan dengan agama Islam. Adegan yang paling saya ingat adalah bagaimana Ruth Pelupessy, yang dulu berperan sebagai sosok setan meneriakan kata-kata jahat pada ustaz.


    HB: Bagian tersulit saat produksi Pengabdi Setan?

    JA: Dua hal tersulit dalam menyelesaikan film ini adalah lokasi dan pemain. Saya dan tim menghabiskan waktu lima bulan hanya untuk mencari rumah yang tepat. Saya membutuhkan lokasi yang dari pertama dilihat memberikan vibe horor. Dan itu bukan hal yang mudah untuk ditemukan.

    Masalah pemain, saya harus melakukan casting. Untuk satu karakter bisa ada sekitar 30-40 orang yang mengikuti audisi. Saya selalu berusaha mencari pemain yang tepat dengan karakter yang saya inginkan.


    HB: Lalu apakah benar kalau Tara Basro Anda langsung ada pilih untuk bermain dalam Pengabdi Setan?

    JA: Dia memang muse bagi saya, tapi dia mengikuti proses casting seperti pemain lainnya. Untuk memastikan Tara sanggup dan bisa menghidupkan karakter dalam film ini.


    HB: Seperti apa film horor yang baik menurut Anda?

    JA: Film horor tak melulu harus menjual ketegangan melalui teknik kajutan alias jump scare. Dalam Pengabdi Setan saya memilih membangun atmosfer horor melalui suara, musik, dan sinematografi. Dalam memproduksi film ini saya juga mengambil beberapa influence, seperti dari film The Changeling karya Peter Medark yang merupakan salah satu film horor favorit saya. Selain itu juga film karya Nicholas Roeg yang berjudul Don't Look Now.


    HB: Apa yang membuat Anda begitu tertarik dengan horor? 

    JA: Menurut saya genre horor adalah genre film yang paling jujur dibandingkan aliran film lain. Seperti film drama, mereka punya pretensi untuk mencerahkan, memiliki muatan politik tertentu, atau tujuan lainnya. Namun film horor murni untuk membangun adrenalin. 

    Film horor sama dengan permainan roller coaster. Bayangkan, bagaimana Anda memanipulasi roller coaster sehingga memiliki muatan politik?


    HB: Setiap menyaksikan film Joko Anwar disadari atau tidak penonton akan menemukan sosok perempuan hamil. Apakah ada alasan dari itu?

    JA: Awalnya tidak sengaja, namun memang di setiap film saya selalu menampilkan pregnant woman in peril. Kenapa? Jawabannya bisa ditemukan dalam film pendek saya Waiting Room. Film ini saya simpan dan tidak saya edarkan, namun saya menunggu waktu yang tepat untuk menunjukan film ini. 


    (Foto: Fotografer: Eddy Sofyan, Stylist: Bungbung Mangaraja, Wardrobe: Burberry, Layout: Yellsa Nurila Indah)





- RELATED ARTICLE -