• Fashion / News

    Mempersembahkan Perjalanan, dari Lulu Lutfi Labibi


    Mempersembahkan Perjalanan, dari Lulu Lutfi Labibi

    Saksikan indahnya peleburan corak lurik dengan puitisnya latar panggung pada koleksi terbaru Lulu Lutfi Labibi


    “Perjalanan” ini bermula lima tahun lalu ketika Lulu Lutfi Labibi memutuskan untuk terjun ke dunia fashion dan mengembangkan motif lurik yang kerap diabaikan di muka publik.

    Dengan niat untuk melakukan preservasi terhadap corak garis tersebut, Lulu Lutfi pun mulai mengeksplorasi lurik dan membaginya ke dalam lima bagian yang diberi nama sesuai filosofi di baliknya yaitu Lurik Alur Tekun, Duka Luruh, Reda Gulana, Damai Hati, dan Baur Rupa.

     

     

     

    Presentasi yang bertempat di pergelaran Jakarta Fashion and Food Festival ini dikemas dengan suasana yang puitis, dari film pendek yang diputar sebagai prolog hingga koleksi busana yang ditampilkan.

    Terdapat sebuah kursi berukuran mini di tengah panggung yang menjadi titik pusat untuk mengambil atensi para tamu. Di akhir pergelaran, para model menduduki kursi tersebut sebagai wujud epilog apik yang menutup rangkaian presentasi.

     

     

     

    Hubungan personal dengan setiap lurik yang dianggap sebagai anak sendiri oleh desainer kelahiran Yogyakarta ini sejak awal kariernya menjadi alasan dibalik diangkatnya tema "Perjalanan". Lulu Lutfi juga menekankan filosofi utama di balik rancangan tersebut, yaitu bahwa hal terpenting dari suatu perjalanan bukanlah tujuannya, melainkan proses untuk mencapai kesana. 

     

     

    Koleksi yang digarap dengan presisi tinggi menggunakan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) ini terdiri dari 42 tampilan dengan siluet yang tefokus pada teknik draping layaknya koleksi-koleksi sebelumnya.

    Tetap mengusung warna netral seperti hitam, biru tua, putih, dan merah (sebagai penerang diantara palet redup tersebut), koleksi ini juga hadir dengan padu padan gaya yang disesuaikan dengan cita rasa masa kini. Contohnya gaya layering atau tumpuk-menumpuk dengan sepotong kemeja, maupun aksen cut out untuk menciptakan impresi seksi tanpa mengurangi sakralnya makna dari lurik itu sendiri. 

     

    (Foto: Evan Praditya)