• Culture / News

    Mengenang Zaha Hadid


    Mengenang Zaha Hadid

    Zaha Hadid meninggal akibat serangan jantung di sebuah rumah sakit di Miami.


    Dame Zaha Hadid, DBE, meninggal di usianya yang ke- 65 tahun. Sebelumnya, arsitek ini dirawat di Miami karena mengidap penyakit bronkitis. Namun di pagi hari tanggal 31 Maret 2016, Zaha Hadid mengembuskan napas terakhirnya. 

    Lahir di Baghdad, Zaha mengambil jurusan matematika di American University of Beirut sebelum bergabung dengan Architectural Association di London tahun 1972. Pada tahun 1979, ia mendirikan perusahaannya sendiri, Zaha Hadid Architects.

    Arsitek yang sangat dihormati dan disegani secara global ini meninggalkan warisan yang mencengangkan: karyanya termasuk London Aquatics Centre, Guangzhou Opera House di China, dan The Serpentine Sackler Gallery. Di Indonesia sendiri, Zaha mendesain arsitektur sebuah perusahaan internasional di BSD yang sayangnya tidak jadi dikonstruksi. 

    Semasa hidupnya ia telah menerima sejumlah penghargaan dan penghormatan untuk kariernya, dan sebagai seorang wanita di dalam industri yang didominasi pria, ia menjadi panutan dan membuka jalan bagi para arsitek perempuan. Ia memenangkan dua penghargaan RIBA Stirling Award; menjadi wanita penerima Pritzker Architecture Prize pertama di dunia tahun 2004, dan tahun ini ia menjadi wanita pertama yang menerima Royal Institute of British Architects Gold Medal sebagai penghormatan atas karya-karyanya.

    Berikut adalah petikan pidato Sir Peter Cook saat memberikan penganugerahan kepada Zaha Hadid.

    "Tentu saja, di budaya kita yang sangat berhati-hati dan sederhana, karyanya pastinya tidak sederhana, dan ia sendiri menampilkan pribadi yang berlawanan dengan kata sederhana. Terbukti dari kritik tajamnya tentang permainan buruk petenis John McEnroe. Namun, ini adalah karakter yang dengan serius ia terapkan di seluruh segi bisnisnya. Metode dan mungkin, psikologinya, seperti di Mesopotamian dan tidak menakutkan, namun jelas.

    Hasilnya, ia mungkin merasa sedikit kesepian di atas sana, dikelilingi oleh para arsitek bertalenta di kantornya, namun disegani bahkan ditakuti oleh arsitek yang masih muda. Namun dalam kehidupan pribadinya, Zaha senang bergosip dan mengagumkan. Ia dengan jujur sangat tertarik dengan pekerjaan para koleganya yang melakukan arsitektur dengan gaya berbeda seperti Steven Holl, dan ialah yang pertama kali membawa talenta seperti Lebbeus Woods dan Stanley Saiotowitz ke London.

    Dia sangat setia kepada teman-temannya yang kebanyakan datang dari periode Alvin Boyarsky di Architectural Association: yang sepertinya merupakan lingkaran comfort zone-nya. Didukung dan dipromosikan oleh Boyarsky sejak usia mudanya, ia diberikan penghargaan AA dengan kekaguman dan kesetiaan yang tak henti-hentinya.

    Sejarah dari Gold Medal tentu saja harus mengikutsertakan figur-figur ternama yang memimpin sebuah kapal besar dan yang merenungkan seluruh operasinya sehingga menghasilkan konsep yang kuat seperti MAXXI di Roma yang kekuatan organisasinya sangat jelas terlihat, atau Bergisel Ski Jump di Innsbruck tempat kedinamisan terakhir terlihat, atau Aquatics Centre untuk Olimpiade London ketika garis-garis papan loncat sama dinamisnya dengan gerakan para peloncat.

    Dan ia telah melakukannya lagi dan lagi selama ini di Vienna, Marseilles, Beijing, dan Guangzhou. Ia senantiasa produktif, sangat konsisten. Kami sadar bahwa Kengo Tange dan Frank Lloyd Wright tidak akan mampu menggambar setiap garis atau mengecek setiap sambungan, namun Zaha berbagi pengaruh yang meluap-luap, berbeda, dan tak henti-hentinya kepada semua orang di sekitarnya. 

    Kepercayaan diri yang demikian dapat dengan mudah diterima pada pembuat film atau manajer sepakbola, namun membuat sejumlah arsitek tidak nyaman, mungkin karena mereka dengan diam-diam cemburu akan talentanya yang tidak perlu dipertanyakan lagi. 

    Kenyataannya, kami mungkin dapat menganugerahkan medali ini kepada karakter yang pantas dan aman. Namun kami tidak melakukannya. Kami menganugerahkannya kepada Zaha: larger than life, bold as brass and certainly on the case.

    Pahlawan kita.

    Betapa beruntungnya kita memilikinya di London."

     

    (Vitoria Kingdon untuk Harper's Bazaar. Alih Bahasa: Stella Mailoa. Foto: Philip Sinden untuk Harper's Bazaar, Desember 2010)