• People / News

    Cerita Wanita Hebat: Azalea Ayuningtyas & Hanna Keraf


    Cerita Wanita Hebat: Azalea Ayuningtyas & Hanna Keraf

    Memperingati International Women's Day, Bazaar akan mengupas figur lima wanita hebat yang sarat akan jiwa sosial


    Dua sahabat ini selain sama-sama menyukai dunia traveling, juga keduanya jatuh cinta pada ranah sosial. Semenjak duduk di bangku sekolah, Ayu dan Hanna, begitu biasa mereka dipanggil, aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Salah satunya adalah proyek Tour De Musée, yakni proyek untuk merangkul anak-anak jalanan.

    Sempat terhenti karena keduanya meneruskan kuliah ke dua negara yang berbeda, kini mereka telah kembali dengan spirit yang lebih besar untuk membantu orang-orang yang kurang mampu. 

    Bertolak dari keinginan ini, Ayu dan Hanna kemudian terbang ke tanah leluhur Hanna di Flores. Di sana mereka menemukan satu problem sosial yang dihadapi oleh para wanita, yakni masalah kematian ibu dan anak yang tinggi. Kasus ini tak lain berawal dari keadaan ekonomi rendah serta kurangnya asupan gizi di saat kehamilan. 

    "Ketika pertama kali mendatangi salah satu desa di Kabupaten Sikka, saya mendengar langsung bagaimana seorang perempuan yang sedang dalam kehamilannya yang ketujuh, pernah mengalami keguguran dan nyaris meregang nyawanya. Ia tidak berani mengambil keputusan untuk berhenti hamil sesudah kehamilannya yang ketujuh tersebut,” jelas Hanna.

    Saat itu pula, keduanya menyadari jika sesungguhnya masih banyak perempuan di pelosok Indonesia yang bahkan tidak mampu mengambil keputusan akan rahimnya sendiri, karena tidak memiliki kemampuan ekonomi mandiri dan masih bergantung pada suami untuk kelangsungan hidupnya.

    Ayu dan Hanna kemudian banyak melakukan riset mengenai kondisi sosial di Flores, hingga akhirnya lahirlah Du'Anyam. Sebuah inkubator karya anyam berbasis portal online, yang tidak cuma menjual produk namun juga memberi pelatihan dan pendampingan pada para wanita lokal, agar mampu menghasilkan produk anyaman berkualitas tinggi. 

    Kehadiran Du'Anyam diharapkan mampu menjadi sumber penghasilan bagi para wanita Flores sehingga mereka bisa membantu kehidupan sehari-hari. 

    Perjuangan Ayu dan Hanna tentunya tak mudah. "Kami harus ekstra sabar dan cermat dalam menghadapi para ibu-ibu, karena kami membawa perubahan yang asing bagi mereka. Perjuangan mengubah cara pikir serta etos bekerja ini bahkan sempat membuat frustasi," tutur Ayu.

    Akan tetapi dedikasi dua wanita ini akhirnya berbuah manis. Kini Du'Anyam telah berkembang menjadi lembaga kewirausahaan sekaligus organisasi sosial. Bahkan kerja keras Ayu dan Hanna telah dihargai oleh banyak pihak, termasuk Massachusetts Institute of Technology, UnLtd Indonesia, dan Global Social Venture Competition Southeast Asia.

    Saat ini sudah ada 350 wanita mandiri Flores yang berada di bawah naungan Du'Anyam. Sementara Ayu dan Hanna berkonsentrasi melanjutkan ekspansi proyek ini ke Nabire, Papua dengan dukungan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. 

    Artikel ini disadur dari The Philanthropists dalam Harper's Bazaar Indonesia edisi Februari 2016

     

    (Foto: Evan Praditya; Styling: Gusti Aditya; Busana: Michael Kors)