Type Keyword(s) to Search
Harper's BAZAAR Indonesia

Pameran Tunggal Perdana Sinta Tantra

Seniman Indonesia ini akhirnya 'pulang' ke Tanah Air.

Pameran Tunggal Perdana Sinta Tantra

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia mungkin nama Sinta Tantra masih asing dalam memori, namun wanita berdarah Bali ini nyatanya sudah banyak menghasilkan karya mengagumkan di Benua Eropa.

Seperti ketika dirinya membuat mural di Canary Wharf Bridge di London dalam rangka Olimpiade London 2012. Mural berpola geometris dengan warna-warni yang vibran sepanjang 300 meter, menghiasi dinding samping jembatan tersebut dan membuat nama Sinta kian diperbincangkan di Inggris dan Eropa. Hingga kemudian perlahan namanya mulai didengar di Tanah Air.


A House in Bali (Dyptich), 2017, Sinta Tantra


Setelah itu Sinta banyak membuat public art lain yang membuat nama wanita keluaran Slade School of Fine Arts ini makin besar dan perlahan media Tanah Air pun mulai mendengar namanya.

Di bulan November ini, Sinta 'berpulang' ke Indonesia dengan menggelar ekshibisi tunggal pertamanya di Jakarta. Bertempat di Laflo Showroom di kawasan Simprug, Sinta membuka pameran tunggal pertamanya dengan tajuk A House in Bali.


A House in Bali (Day-Sonia Delaunay), 2017, Sinta Tantra; A House in Bali (Night-Sonia Delaunay), 2017, Sinta Tantra.



A House in Bali Egg (Sunset), 2017, Sinta Tantra


Selain merupakan pameran perdananya di Indonesia, 9 November juga menjadi saat yang penting bagi Sinta yang meluncurkan kolaborasinya bersama brand whisky Johnnie Walker. Totalnya empat karya Sinta dari ekshibisi ini di-print menghiasi botol Johnnie Walker Gold Label. Tentunya koleksi botol ini dibuat terbatas untuk para penggemar spirits dan karya-karya Sinta.


Sinta bersama empat botol Johnnie Walker Gold Label.


Di sela-sela press lunch sebelum malam pembukaan A House in Bali, Bazaar sempat mencuri waktu berbincang bersama wanita kelahiran New York tersebut.

Harper's Bazaar (HB): Apa inspirasi Anda untuk A House in Bali?

Sinta Tantra (ST): Kali ini saya terinspirasi dari buku karya Colin McPhee, seorang komposer asal Kanada yang pada tahun 1946 menulis buku A House in Bali. Buku ini merupakan hasil perjalanan Colin ke Bali karena ia ingin mencari tahu lebih banyak tentang gamelan Bali. Usai mengunjungi Bali di tahun '20-an, Colin kembali ke negara asalnya dan berusaha menggabungkan gamelan Bali dengan musik Western sebagai akar ilmunya. Hasilnya sebuah musik yang 'tidak biasa'. Inilah yang kemudian rasanya saya terjemahkan dalam karya saya.

HB: Jadi apa yang sebetulnya hendak Anda sampaikan dalam lukisan Anda?

ST: Apa yang Anda bisa lihat?


Tabuh Tabuhan in Prussian (Colin McPhee), 2017, Sinta Tantra


Tabuh Tabuhan in Linen (Colin McPhee), 2017, Sinta Tantra


HB: Garis-garis yang saling sejajar, berpotongan, lingkaran. Salah satu didominasi warna nude, sementara satu lagi biru. Layaknya siang dan malam.

ST: See, itulah yang saya inginkan. Bahwa orang-orang yang menikmati karya saya bisa menciptakan sendiri narasi dari karya saya. My art is not always about my narratives, but it's also yours. Jadi saya membebaskan karya saya untuk diterjemahkan oleh yang menyaksikan.

HB: Lalu apa ekspresi atau komentar terbaik yang pernah Anda dengar tentang karya Anda?

ST: Seorang wanita pernah menangis ketika sedang melihat karya saya. Sayangnya saya tidak sempat bertanya kepadanya apa yang membuatnya menangis. Tapi saya memang melihat kecenderungan bahwa karya-karya saya disukai oleh kaum wanita.


Why I Am Not A Painter (Frank O'Hara), 2017, Sinta Tantra


HB: Sulitkah menjadi seorang seniman wanita asal Indonesia di Eropa?

ST: Ada banyak stereotype yang dikaitkan pada seniman wanita asal Asia di London. Ketika saya masih bersekolah, banyak orang yang mengira karya saya adalah lukisan feminin yang berukuran kecil atau saya akan menghasilkan gambar-gambar yang lucu.

Saya berusaha untuk menghapuskan stereotype itu. Maka saya konsisten dengan gaya lukisan saya yang abstrak dan sangat berstruktur.

HB: Anda banyak melakukan public art, apakah ada rencana untuk melakukannya di Indonesia?

ST: Sudah ada banyak diskusi mengenai hal ini dengan pihak di sini, tapi belum ada kelanjutannya. Tapi jika saya bisa memilih, saya ingin sekali menaruh karya saya di jalan layang yang menjadi rute Transjakarta koridor 13, yang terbentang dari Tendean hingga Ciledug.

Ekshibisi A House in Bali akan dibuka untuk publik dari 9  hingga 24 November mendatang.


(Foto: Dok. Bazaar)