• People / News

    Daya Pikat Oriental


    Daya Pikat Oriental


    Kecantikan wanita diterjemahkan oleh perancang senior Ghea Panggabean lewat koleksi motif material yang sangat kaya dan tak lupa menghadirkan esensi drama di atas RUNWAY. Oleh Milla Mudijana.

    Selama lebih dari 30 tahun perancang Ghea Panggabean telah membuktikan konsistensinya dalam sejarah mode Indonesia. Kala masyarakat Indonesia di masa lalu tertarik pada hembusan angin Barat, perempuan yang satu ini berhasil mengulik inspirasi dari tradisi Indonesia yang saat itu dianggap tidak mengikuti trend. Namun dengan berjalannya waktu, hasil rancangannya mulai menyita perhatian dan dilirik kalangan pencinta fashion dan membuat nama Ghea semakin berkibar.

    Pertengahan Desember 2012 lalu merupakan pagelaran yang berkesan bagi desainer yang selalu setia didampingi kedua putri kembarnya, yaitu Janna dan Manda Soekasah. Kisah tragis kehidupan Oei Hui Lan, putri raja gula Asia Tenggara dari Semarang, rupanya menjadi inspirasi Ghea dalam menciptakan koleksi khusus bagi pagelaran Bazaar Fashion Celebration Langgam Tiga Hati.

    Hembusan kain sutera satu persatu muncul di atas panggung. Sebanyak 25 busana modern kontemporer menggunakan motif ornamen China yang tampil baru, muda, dan menggairahkan dalam warna-warna cerah seperti merah muda, hijau dan kuning. Untuk meninggalkan kesan konservatif, Ghea menampilkan busana dengan potongan terbuka, namun eleganitas yang menjadi ciri khas garis rancangnya tetap dipertahankan. Aura romantis dijabarkan lewat potongan kimono, short pants, dan cheong sam, yang hadir dalam ragam potongan. Menyempurnakan tampilan totalnya, Ghea menggandeng Yongki Komaladi dan DnA Shoes untuk sepatu, Elizabeth Wahyu untuk aksesori, dan Qiqi Franky and Team untuk riasan yang dramatis.

    Babak kedua menampilkan rancangan busana dengan motif keramik yang didominasi warna biru. Lambaian material motif ringan mulai dari chiffon sampai satin terlihat berkesinambungan dalam setiap babak. Kesan optimis terasa lewat garis desain pajama’s look dan permainan tumpuk menjadi statement tersendiri bagi keseluruhan tancangannya. Garis-garis lurus bersiluet longgar tampil serasi lewat properti sangkar burung kecil yang diisi dengan burung berwarna hijau dan aksesori yang senada seperti sepatu, tas kecil, dan payung. Ini merupakan salah satu keistimewaan Ghea, yaitu membuat wanita yang menggenakannya merasa spesial tanpa berusaha terlalu keras.

    Sementara pada babak terakhir, suasana gelap dan dramatis sengaja diciptakan untuk mengiringi material velvet berwarna gelap yang membalut tubuh model dan menampilkan siluet tubuh. Kesan elegan membungkus aura anggun dari wanita berkelas, dan para model dengan handal membawakan balutan busana cheongsam dengan aksen sulam warisan budaya Peranakan. Ghea semakin memperlihatkan kematangannya lewat garis-garis modern yang indah, simpel, namun terlihat outstanding. Baginya, kreativitas adalah hal utama yang menjadi nilai untuk menjadikannya yang terbaik di mata pencinta fashion. ? (foto: Dok. Bazaar)