• Fashion / News

    A Fashionable Life: Samudra Hartanto


    A Fashionable Life: Samudra Hartanto


    Harper's Bazaar mengajak Anda mengunjungi kediaman Samudra Hartanto, seorang desainer Indonesia yang menjadi kepercayaan Jean Paul Gaultier. Liputan lengkap Yogya Biennale juga dapat Anda nikmati di segmen Fashionable Life bulan ini.

    Samudra Hartanto di apartemennya di Le Marais, Paris. Fotografi oleh Rainer Torrado.


    Dibesarkan di keluarga yang mencintai buku dan majalah, apartemenya di Le Marais, salah satu area paling berbudaya di Paris menjadi cermin perjalanan hidup dan kecintaannya pada fashion, buku, ART, fotografi, dan VINTAGE ITEMS.

     

    Saat sebagian besar orang menjadikan TV, perangkat home theater, atau sebuah karya seni provokatif sebagai pusat perhatian dalam living room-nya, pria yang sudah 14 tahun tinggal di Paris ini justru menghadapkan sofa kulitnya ke sebuah sisi dinding yang dipenuhi rak buku besar dengan perapian di tengahnya. Rak itu padat dengan buku-buku bertema fashion, living, hingga art, yang banyak dikoleksinya dari masa kuliahnya dulu di London hingga Paris. Di sudut lainnya terpajang foto-foto vintage, poster, dan decorative arts dari tahun 1920-an, sebuah periode yang banyak menginspirasi Samudra Hartanto.

    Lahir di Malang, Jawa Timur, masa kecil desainer yang kini bekerja di Gaultier Haute Couture di Paris ini memang sudah dipenuhi dengan mimpi-mimpi akan glamorama dunia fashion. “Ibu saya memiliki banyak sekali majalah fashion, dan ayah saya pun sering bepergian dan selalu pulang membawa majalah luar negeri. Saya membaca majalah-majalah itu dari cover depan hingga belakangnya, dan bermimpi menjadi bagian dalam halaman-halaman fashionnya. Seperti mimpi yang menjadi kenyataan, kini saya menjadi bagian dalam dunia itu,” kenangnya seraya menceritakan perjalanannya hingga kini menjadi orang kepercayaan Jean Paul Gaultier.

    Sebelum berangkat ke London untuk menekuni pattern cutting dan fashion illustration di Royal College of Arts, Samudra sempat membantu Biyan untuk mempersiapkan sebuah show. Dari Biyan, Samudra belajar bahwa fashion itu ternyata tak sekadar membuat sketsa, namun juga harus dipikirkan dari sisi bisnisnya. Di London Samudra mendapat kesempatan magang di Norman Hartnell couturier, desainer couture yang biasa membuat busana untuk Ratu Elizabeth. Dari Norman Hartnell ini pula Samudra banyak mendapatkan buku-buku fashion unik dari seorang kolektor yang bekerja untuk Hartnel. “Buku-buku ini banyak yang mendapatkan tanda tangan dari pengarangnya, beberapa saya beli saat saya masih di London,” ceritanya sembari menerangkan bahwa beberapa patung dan figur yang ada di dekat rak bukunya ini ada hubungannya dengan kegiatan membaca. Seperti halnya sebuah patung perempuan sedang membaca yang diletakkannya di antara tumpukan buku.

    Robert Duffy, mantan gurunya memperkenalkan Samudra kepada Marc Jacobs yang saat itu sedang mempersiapkan design studio untuk Louis Vuitton. Perkenalan itulah yang akhirnya membawanya ke Paris pada tahun 1997 sebagai salah satu asisten Marc Jacobs. Bekerja di Louis Vuitton, memahami sejarahnya, membuatnya jatuh cinta dan mulai mengoleksi berbagai trunk Louis Vuitton. “I love the idea of traveling, Trunk ini menggambarkan the spirit of traveling. Yang pada masa itu merupakan kegiatan yang mahal,” timpal Samudra. “Yang satu ini sudah berusia lebih dari seratus tahun,” jelasnya sambil menunjuk sebuah trunk berwarna abu-abu dengan inisial V.R pada sisinya. “Sebelum Louis Vuitton membuat motif monogram dan damier, trunk kanvas berwarna abu-abu inilah yang pertama dibuatnya, dan saya senang sekali bisa mendapatkan ini dengan harga spesial,” tambahnya lagi.

    Sebuah pelana kuda yang diletakkan di atas bench kayu cukup mencuri perhatian pada area living room. “Saya mendapatkan pelana ini dari sale Hermès melalui sebuah kompetisi 3 tahun lalu. Awalnya saya bingung di mana saya akan meletakkannya, karena saya tidak memiliki stable. Namun kemudian saya menemukan Chinese bench ini di sebuah antique fair di Bastille, kebetulan ukurannya pas, jadi saya beli.” Pelana tersebut dibeli Samudra saat dia bekerja bersama Jean Paul Gaultier untuk Hermès. “Tujuh tahun bergabung di Hermès menjadi pengalaman yang sangat berharga, namun saya sangat menikmati kerjasama saya dengan Jean Paul Gaultier. Dia orang yang luar biasa, sangat mengerti fashion, dari couture hingga street fashion,” ungkapnya saat ditanya mengapa dia memilih mengikuti Jean Paul Gaultier ketimbang tetap berada di Hermès.

    Perjalanan kariernya yang cemerlang tak luput dari sentuhan kreativitas dan personal taste Samudra yang juga tercermin pada kediamannya. Sebuah cermin diletakkan berdekatan dengan round table kayu dari tahun 1970-an. Di atasnya diletakkan sebuah vas bergaya Art Deco dari Swedia dan lampu gantung dari Venezia. “Saya menyukai ide dari sebuah round table, memberikan sebuah rasa kebersamaan yang hangat,” jelas Samudra yang memiliki beberapa round table di apartemennya. Perhatiannya pada detail juga terlihat dari kursi-kursi yang mengelilingi round table. Dia menyerahkan kursi-kursi kayu tua yang didapatnya dari pasar antik kepada seorang leather atelier untuk diberi sentuhan kulit sehingga tampak sangat elegan.

    “Saya tidak bisa memutuskan foto atau poster mana yang akan saya gantung, sehingga daripada membuat lubang dan paku pada dinding, yang kemudian akan saya sesali, saya memilih untuk menaruh foto-foto itu di atas rak menyender pada dinding, sehingga sewaktu-waktu bisa saya susun lagi tata letaknya,” ujar Samudra menjelaskan sebuah sudut di apartemennya yang didominasi bingkai foto dan poster vintage berwarna hitam putih. Tidak banyak ornamen Indonesia di apartemennya ini, kecuali sebuah patung buatan Swedia yang mirip sekali dengan figur wanita Bali sedang sembahyang. “Satu hal dari Indonesia yang selalu saya simpan adalah sebuah kebaya antik milik nenek yang saya simpan di tempat istimewa,” tambah desainer yang seharihari beraktivitas mengendarai sepeda ini.

    Pencapaiannya diakuinya sebagai sebuah keberuntungan. “Saya beruntung pernah bekerja di dua brand terbaik di sini, dan dikelilingi orang-orang yang membantu saya,” jelasnya dengan rendah hati. Suaranya yang lembut dan menenangkan mengakhiri sebuah percakapan yang menyenangkan dengan sebuah pernyataan mengenai ambisinya ke depan, “Saya lebih memilih mengerjakan hal kecil yang berkembang menjadi besar, ketimbang membuat sebuah show besar lalu kemudian tak dapat saya pertanggungjawabkan.” Oleh Indra Febriansyah, Fotografi oleh Rainer Torrado, Makeup & hair: Asami Kawai.


    Tags : news, report