• Berkilaulah, ANGGUN!

    People / News


    Berkilaulah, ANGGUN!


    Kemilau Anggun masih terlihat dari ujung rambut hingga ujung kaki, dari pemilihan karya desainer muda Indonesia untuk busana konser tunggalnya hingga komposisi pemilihan lagu yang dibawakan. Dan penyanyi wanita ini terus melanjutkan ceritanya kepada dunia.

    Layar putih yang menutup panggung langsung terbuka. Wanita ini muncul dengan jubah perak sembari menjinjing tongkat. Ketika naik panggung, ia membuka jubah dan tampaklah busana pendek berwarna keemasan rancangan desainer Tex Saverio. Kemudian ia mengawali aksinya dengan meminta ribuan penonton yang hadir untuk sama-sama meneriakkan kata “bonsoir”, ucapan selamat malam dalam bahasa Prancis. Adegan pembuka ini menjadi kesan pertama konser bertajuk Konser Kilau Anggun di Jakarta Convention Center penghujung tahun 2011.

    Lima tahun berlalu sejak konser terakhirnya di Jakarta. Namun penjualan tiket mencapai tiga perempat kapasitas kursi hanya sebulan menjelang konser. Malam itu, performa ambasador Pantene ini tetap prima, dengan menampilkan gaya elegan tanpa kehilangan sisi rocker-nya, serta lincah berjingkrak di atas panggung. Berbeda dengan sebagian besar penyanyi wanita Indonesia yang tampil glamor, penuh bling-bling, hingga tatanan rambut menyerupai ‘jambul’, penampilan Anggun tergolong bersahaja. Rambut indahnya dibiarkan tergerai alami tanpa aksesori. Pilihan dua busana lainnya malam itu adalah rancangan desainer Didit Hediprasetyo, sebuah gaun songket dengan warna keemasan, diikuti busana kreasi desainer Mel Ahyar berupa bustier, serta celana hitam yang dipadukan dengan sepatu boots warna krem. Anggun tampil indah dalam kesederhanaan.

    “Dalam berbagai kesempatan, saya tetap mengikuti perkembangan fashion Tanah Air lewat internet,” kata Anggun. Dibantu oleh stylist personalnya, wanita ini secara jeli memperhatikan setiap koleksi terbaru dari para desainer muda yang dianggap berpotensi. “Acuan saya adalah busana yang sesuai dengan karakter dan cocok dengan jenis lagu yang akan dibawakan saat konser,” tambahnya. Keputusan akhirnya diambil dengan memilih Tex Saverio yang desainnya extravagant namun mempertegas siluet tubuh wanita, Mel Ahyar dengan keahlian konstruksi polanya, serta Didit Hediprasetyo yang mampu menjual nafas Indonesia dalam versi understated glamour. Keputusan penyanyi ini memilih tiga desainer muda sebagai penata busana konsernya menjadi bentuk kepekaan wanita sekelas Anggun dalam mengikuti perkembangan zaman.

    GAUNG MUSIK ANGGUN
    Dari semua negara di dunia, Indonesia memiliki segelintir manusia berbakat dengan prestasi mendunia. Mereka yang telah menorehkan tinta emas antara lain tim siswa yang memenangkan olimpiade matematika, menjuarai kejuaraan pesepakbola junior di Italia, hingga Anggun yang berhasil menembus dunia musik internasional, khususnya di Eropa. Di Prancis, semua orang mengidolakan dan memuji talenta bermusik, intelektualitas, dan kepedulian Anggun terhadap aktivitas kemanusiaan, serta tentunya inner beauty. “Salah satu tantangan terbesar adalah bukan kemampuan menyanyi dalam bahasa Inggris, melainkan bahasa Prancis,” ujar Anggun mengenang momen yang merubah hidupnya di awal karier. “Untuk berhasil, seseorang harus fleksibel, mampu beradaptasi, dan belajar menyerap suasana lingkungan tempat kita berada,” tambah wanita yang telah 14 tahun bermukim di Prancis ini.

    Sekilas menengok ke awal kariernya. Anggun merekam album studio pertamanya berjudul Dunia Aku Punya di tahun 1986. Namun, namanya baru benar-benar melambung setelah merilis single berjudul Mimpi, empat tahun setelah debut albumnya. Pada usia remaja, Anggun berhasil meraih puncak popularitas dengan meraih penghargaan Artis Indonesia Terpopuler 1990-1991. Pada tahun 1994, dia mengambil langkah berani dengan memutuskan meninggalkan Indonesia untuk mewujudkan impiannya menjadi artis bertaraf internasional. “Keputusan meninggalkan Indonesia saat itu merupakan keputusan terbaik yang menentukan arah karier saya,” komentar Anggun.

    Berbicara tentang album terbarunya, Echoes, wanita berusia 37 tahun ini memutuskan untuk memproduseri album tersebut seorang diri. “Isi album ini merupakan sesuatu yang personal, kumpulan cerita pribadi maupun cerita dari para sahabat saya,” tutur Anggun. “Inspirasi lirik datang dari berbagai peristiwa, mulai dari kematian ayah saya tujuh tahun lalu, perpisahan, maupun perceraian,” kenangnya tentang proses pembuatan lirik lagu dalam album yang terkesan filosofis. Anggun juga sengaja menggandeng dua tim musisi untuk mendapatkan lebih banyak masukan. “Kerjanya jauh lebih relaks, oksigen lebih banyak, sehingga membuat semua lagu ini terasa menyenangkan saat saya dengarkan sendiri,” jabarnya.

    Terdapat beberapa lagu dalam album ini yang bermakna khusus. Seperti lagu Eternal yang menceritakan dirinya saat bangun dari keterpurukan sesaat setelah ayahnya wafat. “You’re eternal, cause I believe, you’re in the air that I breathe, and eternal though can’t see, I feel you’re right here with me, “ demikian penggalan lirik lagu yang dibuat sendiri olehnya. Lagu-lagu lain yang memiliki arti mendalam salah satunya adalah Buy Me Happiness. “Kebahagiaan bukan datang dari koleksi Birkin Bag atau perhiasan,” komentar Anggun mengenai persepsinya tentang kebahagiaan yang dituangkan dalam lirik lagu tersebut. Sementara lagu berjudul Weapons mengajarkan bahwa setiap wanita sejatinya memiliki senjata untuk menaklukkan hati pria. “Sangat penting untuk mengetahui letak kekuatan diri kita sendiri sebagai wanita,” ujarnya.

    ONLY LOVE
    “Sebagian besar waktu saya saat ini dilewatkan sebagai ibu rumah tangga,” ungkap Anggun. “Kesempatan bepergian untuk bisnis atau kegiatan sosial untuk PBB tidak pernah lebih dari seminggu atau setidaknya paling lama 10 hari,” sambungnya. Alasan ini tentunya tidak lain karena dia sedang sibuk mengasuh putri semata wayangnya, Kirana, yang masih tergolong balita. “Perjuangan terberat sebagai ibu atau istri justru dimulai dari awal pernikahan,” cerita Anggun tentang kehidupan pernikahan. “I don’t believe in happily ever after,” tegas Anggun. “Kebahagiaan harus diraih dan digapai, sementara konflik itu sehat dalam hubungan pernikahan,” tambahnya lagi.

    Sosok penyanyi yang satu ini memang tergolong inspiratif. Setelah Anggun, barulah muncul sederet nama penyanyi Asia yang mencoba menggarap pasar musik Eropa atau Amerika, seperti Coco Lee, Utada Hikaru, atau Tata Young. Apakah seorang Anggun telah merasa sukses? “Kesuksesan bagi saya adalah sesuatu yang terasa benar, sebagai jaminan untuk motivasi setiap hal yang kita lakukan, harus terus berlanjut, dan sesungguhnya baik untuk ego,” komentarnya. “Saya bukanlah penyanyi komersil, kesuksesan haruslah seimbang dengan kepuasan diri dalam memenuhi permintaan pasar,” ujar Anggun. “Ada tingkat kompromi yang harus dipertanggungjawabkan,” tambahnya lagi. Pertanyaan terakhir cukup sederhana. Hal apakah yang menjadi prinsip Anggun saat ini setelah menaklukkan dunia? “Just be relax, let it flow, and enjoy your life,” senyumnya sembari bersiap untuk makan siang setelah sesi pemotretan dan wawancara dengan Bazaar. Cerita hidup Anggun terus berlanjut dan ia menikmatinya sepenuh hati.

    ANGGUN’S ADDICTION
    Makna fashion menurut Anda? Sesuatu yang membantu dan membuat ketergantungan. Fashion memiliki kekuatan untuk memperbaiki mood seseorang. Saat bangun pagi dan merasa mood kurang baik pada hari itu, saya akan mengenakan high heels favorit saya untuk ‘mencerahkan’ perasaan dan menjalani aktivitas dengan lebih bersemangat.

    Tiga label fashion favorit Anda saat ini?
    Sepatu Louboutin, desain lekukannya terasa nyaman dan membuat saya merasa seksi dan siap melakukan berbagai hal. Jeans Citizen of Humanity, cutting-nya terasa cocok bagi postur tubuh. Jaket Rick Owens, garis rancangnya tidak dapat diklasifikasikan dan sesuai untuk karakter gaya personal.

    Fasilitas terbaik yang Anda dapatkan sebagai penyanyi internasional, berkaitan dengan fashion?
    Kesempatan bertemu, berinteraksi serta dibuatkan busana oleh desainer-desainer ternama internasional yang bermukim di Eropa. Nama-nama seperti Dolce & Gabbana, Roberto Cavalli dan Eva Cavalli, hingga Peter Dundas. Mereka sangat baik dan fleksibel. Selama ini, ada satu perbedaan mendasar dari desainer Italia dan desainer Prancis. Desainer Prancis melihat seluruh penampilan wanita ke arah intelektual. Sedangkan desainer Italia melihat tubuh wanita sebagai obyek provokatif. ? Oleh Muhammad Aziz, Fotografi oleh Hary Subastian, Fashion stylist: Dewi Utari, Wardrobe stylist: Dennis Ong, Makeup & hair: Herman Coa-Talents.


    Tags : news, interview


- RELATED ARTICLE -